Sebaliknya, cinta buta memaksa diri percara karena terpedaya pandangan pertama dan daya pikat fisik semata. Guys, kalian yang merasa terjebak dalam pasir apung cinta permukaan semacam ini perlu belajar dari Cha Ji-won saat mencintai Do Hyun-soo/Baek Hee-sung (diperankan dengan oke oleh Lee Joon-gi). Demikian juga sebaliknya. Do Hyun-soo yang cuek dan tampak kurang romanis bisa jadi justru pribadi yang memiliki cinta sejati. Meski ‘fakta’ di depan mata tampak nyata dan meyakinkan, inner guide-nya sebagai Detektif Cha memaksanya untuk mengolah sel abu-abu di belakang kepalanya untuk terus berputar menemukan jalan keluar bagi suami tercinta.

Mengapa Flower of Evil?

Judul yang penuh ironi dan paradoks. Bunga yang biasanya digambarkan indah dan menebarkan semerbak mewangi bisa jadi lambang si jahat dan pembunuh keji. Yoo Jung Hee, penulis skenario Flower of Evil, menyingkapkan rahasianya.

Premis mengejutkan: “Bagaimana jika Anda mulai mencurigai bahwa suami yang Anda cintai selama 14 tahun mungkin adalah seorang pembunuh berantai?” inilah yang ingin dipakainya bukan hanya untuk menarik perhatian penonton yang bisa saja jenuh dengan tema yang berputar dari itu ke itu seperti permainan bianglala bagi manusia dan kandang berputar bagi tupai menjadi roller-coaster yang menegangkan sekaligus memuaskan dahaga permirsa. Jung Hee berhasil.

“Saya juga berpikir itu menarik untuk menanyakan pertanyaan ini: jika seseorang melakukan yang terbaik untuk pasangannya untuk membawa rahasia gelap mereka ke liang kubur, dapatkah Anda benar-benar mengatakan bahwa mereka hidup dalam kebohongan? Saya ingin memperkuat cerita itu, jadi saya meningkatkan taruhannya untuk menjadikan pasangan itu pembunuh berantai dan detektif,” tambahnya.

“Saat membuat karakter Do Hyun Soo, saya memikirkan buku puisi Charles Baudelaire yang berjudul ‘Les Fleurs du mal’  (versi bahasa Inggrisnya ‘The Flowers of Evil’),” tambahnya. ‘Nada’ dan ‘suara’ yang dijeritkan puisi ini adalah kebosanan yang berjalan menuju jurang keputusasaan. Sebagai penikmat sastra, puisi Baudelaire ingin menggambarkan dekadensi moral yang begitu kasat mata, tetapi ditenun dengan benang manipulasi yang begitu halus sehingga kemunafikannya mampu menipu kanvas jiwa kita yang dangkal.

Perhatikan sepenggal puisi The Flowers of Evil ini yang saya terjemahkan versi saya sendiri:

Si le viol, le poison, le poignard, l’incendie,
N’ont pas encore brodé de leurs plaisants dessins
Le canevas banal de nos piteux destins,
C’est que notre âme, hélas ! n’est pas assez hardie.

Jika pemerkosaan, racun, belati, dan api

Masih belum menyelesaikan desain apik

Di kanvas dangkal takdir kita yang memilukan hati 

Itu disebabkan oleh, sayangnya, jiwa kita belum cukup berani

C’est l’Ennui!—l’œil chargé d’un pleur involontaire,
Il rêve d’échafauds en fumant son houka.
Tu le connais, lecteur, ce monstre délicat,
Hypocrite lecteur,—mon semblable,—mon frère!

Bosan!—mata berlinang tanpa kekang

Dia memimpikan tiang gantungan sambil mengisap shisha

Anda kenal dia hai pembaca, monster yang tak garang

Pembaca yang munafik, Bro, seperti saya!

Benarkah kejahatah, kebohongan, dan kemunafikan bisa dibawa sampai ke kubur? Kita saksikan bersama Broer!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here