Ketiga, setiap trauma yang kita alami seperti mata uang dengan dua sisi

Karena Sang-tae hanya melihat dan mengingat bros kupu-kupu unik di baju ibu Moon-young, dia mengalami trauma yang berat terhadap kupu-kupu. Oleh sebab itu Sang-tae dan Gang-tae selalu berpindah domisili setiap kali musim kupu-kupu. Kata ‘psyche’ (biasa disimbolkan dengan sayap kupu-kupu) di film ini bermakna ganda, yaitu psikopat dan penyembuh. Jika semula Sang-tae selalu ketakutan setiap kali melihat kupu-kupu, bahkan menolak keras untuk menggambar mural kupu-kupu di dinding rumah sakit, begitu mengetahui bahwa arti psyche juga menyembuhkan, dia berhasil menggambar kupu-kupu dari sisi yang indah dan menyembuhkan jiwanya sendiri. Orang yang sembuh memang efektif untuk menyembuhkan orang lain yang masih terluka.

Tetapi sayap kupu-kupu jugalah yang Gang-tae ajarkan kepada Moon-young yang emosional, impulsif, dan posesif saat gadis pujaannya ini marah hebat. Dia meminta Moon-young untuk melakukan ‘butterfly hug therapy’ yaitu menyilangkan kedua tangannya ke pundak sendiri sambil menepuk-nepuknya dengan halus.

Saya membungkus ketiga pelajaran relasi penting ini dengan kasih. Saya memberikan ‘penghormatan tinggi’ kepada koki rumah sakit Kang Soon-deok, yang diperankan dengan begitu apik oleh Kim Mi-Kyung. Karena kasihlah, ibu Nam Ju-ri (diperankan oleh Park Kyu-young) ini mau menerima Sang-tae dan Gang-tae di rumahnya, padahal, dia tahu cinta anaknya bertepuk sebelah tangan. Karena kasih dia berkali-kali menolong Sang-tae yang sering sembunyi di dalam lemari atau di bawah meja jika perasaannya terganggu.

Karena kasih jugalah dia rela disuruh Gang-tae untuk memasakkan makanan kesukaan Moon-young yang stress dan tidak mau makan. Kebesaran kasihnya membuat Nam Ju-ri akhirnya mendapatkan pasangan yang mencinta sekaligus dicintainya yaitu Lee Sang-in (diperankan dengan brillian oleh Kim Joo-hun, pengusaha dan  penerbit buku-buku dongeng Moon-young. 

Penghormatan kedua saya berikan kepada Oh Ji-wang (diperankan oleh Kim Chang-wan), direktur rumah sakit jiwa OK, yang begitu telaten menghargai setiap staf maupun pasien di rumah sakit itu. Kisah ini ditutup dengan manis saat Oh Ji-wang, memberikan sebuah mobil kemah kepada Sang-tae sebagai upah menggambar mural di dindang rumah sakitnya. Kasih memang memberi melebihi ekspektasi. 

Karena keyakinannya yang kuat bahwa sikap anti sosial parah Ko Moon-yong bisa disembuhkan, karena pengharapannya yang besar agar bisa hidup bahagia melihat kakaknya yang austis ‘menemukan pintunya sendiri’ dan kasihnya yang tak bersyarat kepada Moon-young, Gang-tae menemukan kebahagiaannya yang sejati.

And now these three remain: faith, hope and love. But the greatest of these is love.”—Saint Paul

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here