Kelima, bicaralah dalam kebenaran, tanpa rasa malu atau ragu.

Jika orang tua malu-malu dan ragu-ragu bicara tentang seks, maka anak akan menangkap kesan bahwa seks itu sesuatu yang buruk, menjijikkan, dan memalukan. Sebaliknya, lakukanlah dengan tenang, percaya diri, dan sampaikan dengan kata-kata yang baik dan sopan.

Ingat, seks itu pada dasarnya bukan dosa. Manusia berdosalah yang membuat nilai seks menjadi begitu rendah. Namun, pada dasarnya tidaklah demikian. Apa pun agama dan kepercayaan kita, bukankah seks diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa bagi tujuan dan kemuliaan-Nya?

Baca Juga: Tidak Perlu Malu, Ini Sebab Mengapa Membicarakan Soal Seks dengan Orang yang Tepat Justru Sangat Perlu

Kalau anak bertanya, “Bagaimana bayi bisa keluar dari perut Mama?” Jawablah apa adanya. Bisa melalui operasi dan bisa juga melalui vagina.

Beberapa tahun lalu saya mencoba mempraktikkan hal ini pada siswa-siswi TK di kelas. Ketika bicara bahwa bayi dilahirkan keluar melalui lubang vagina yang kecil itu, mereka justru takjub.

Bagaimana mungkin lubang yang begitu kecil bisa terbuka lebar sebesar kepala bayi, lalu tertutup lagi setelah bayinya lahir?

Saya katakan pada mereka, itulah keajaiban Tuhan!

“Wow, Tuhan hebat ya, Miss!” begitu puji murid saya dengan penuh kekaguman.

Anak-anak tak seperti orang dewasa, yang pikirannya sudah tercemar setiap kali mendengar kata ‘seks’.

Dengan edukasi yang tepat dan terencana, mereka justru dapat melihat dan memahami seks sebagai karya Tuhan yang indah dan suci bagi pasangan suami-istri.

Oleh karena itu,

pastikan juga bahwa sebagai orang tua kita sudah mengontrol pikiran kita di dalam kebenaran dan pengetahuan yang benar sebelum memberikan edukasi pada anak-anak.

Selamat mencoba dan mengedukasi anak-anak di dalam kebenaran!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here