Ketiga, menjaga keseimbangan dalam rumah tangga itu sulit, sesulit main jungkat-jungkit di sirkus.
Saat menyaksikan artis sirkus berjumpalitan dan main jungkat-jungkit raksasa yang tinggi menjulang, hati saya berdesir. Salah langkah, tulang bisa patah. Salah ayun, nyawa terbantun.
Itulah sebabnya mata saya berair saat membaca kisah seorang konglomerat yang memilih untuk pulang ke rumah setiap makan siang untuk menyuapi istrinya yang sudah terbaring lemah di ranjang selama lebih dari seperempat abad.
Ketika anak-anaknya menyuruhnya untuk menikah kembali, dia berkata, “Jika pernikahan hanya saya artikan sebagai pemenuhan seks belaka, saya sudah menikah sejak dulu.”
Baca Juga: Daripada Berpikir untuk Mengganti Pasangan, 5 Seni Merawat Relasi Ini Bakal Mengubah Pernikahanmu
Keempat, lahan rumah tangga kita bisa menjadi taman yang sejuk, rimbun, berbunga dan berbuah bukan terjadi saat pernikahan, melainkan terus-menerus kita usahakan dengan kerja keras dan kerja sama.
“And they lived happily ever after” bukan kalimat magis yang menyihir setiap pemirsa film Disney, melainkan terwujud bagi siapa pun yang berusaha keras untuk mendapatkannya.
Kelima,
kesadaran bahwa Bapa kitalah yang menjadi pemilik kebun anggur kehidupan kita memberi kita kesadaran bahwa
rumah tangga yang berbahagia hanya terjadi jika kita betul-betul taat kepada perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
Baca Juga: “Jika Saya Selingkuh, Saya Mati!” 3 Hal Hakiki tentang Relasi dari Janji Suci Ini
Be alert dan be wise!






