Sepanjang hampir 12 tahun usia pernikahan kami dan sekitar tiga kali anak-anak kami opname, setiap kali itu pula istri yang berjaga dan bermalam. Kali ini saya menggantikan posisinya.
Bukankah anak-anak adalah anak kami berdua? Adalah hal yang wajar jika seorang suami juga merasakan bagaimana rasanya mendampingi anak bermalam di rumah sakit.
Karena keindahan keluarga tampak bukan hanya ketika berlibur bersama, tapi juga ketika harus bermalam di rumah sakit.
Sebab kebahagiaan keluarga bukanlah tentang tempat atau lokasi di mana mereka berada, tapi tentang kebersamaan bersama orang-orang terkasih.
“HOUSE is the building in which a family lives in, but the warmth of love will make it a HOME.“
Pelajaran ketiga – Hidup dalam kasih
Dari serangkaian pemeriksaan, termasuk USG, diketahui ternyata ada kotoran dalam usus Nonik yang menumpuk. Hal ini yang menyebabkan rasa mual tak tertahankan. Asupan makanan secara oral pun hampir tidak bisa masuk karena kapasitas usus penuh. Dan kami baru menyadari sudah beberapa hari terakhir ini Nonik tidak buang air besar.
Karena kesulitan untuk mengeluarkan kotoran secara normal, dokter menggunakan obat yang dimasukkan melalui dubur.
Dokter juga menyarankan kami untuk mengajar anak-anak rutin buang air besar supaya kotoran tidak menumpuk dan mengganggu metabolisme tubuh.
Simpanan kotoran dalam tubuh tidak membawa kebaikan apa pun bagi kita dan karenanya harus dibuang habis.
Tanpa kita sadari, bisa jadi kita sedang menyimpan kotoran dalam tubuh kita. Kotoran yang tidak hanya bisa mengganggu kesehatan tubuh, tetapi juga kesehatan pikiran.
Rasa takut, amarah, dendam, curiga adalah kotoran yang tidak seharusnya kita simpan. Buang, bersihkan, ganti dengan kasih.






