Salah satu kekuatan Ernest ada dalam kemampuannya mengemas nilai-nilai keluarga dalam balutan cerita komedi lewat kombinasi kata dan gerak. Saya penasaran dan sangat ingin menyaksikan bilamana teknik dan kekuatan itu akan dituangkannya dalam sebuah kisah horor.
Dalam waktu satu jam tiga puluh menit lebih, para penonton diajak masuk dalam dunia Naya dan Galih. Kejenakaan yang berimbang dengan drama dan ketegangan dari sebuah film horor menjadikan Ghost Writer sebuah sajian yang sangat enak untuk ditonton.
Hadir sebagai salah satu tawaran hiburan di tengah-tengah perayaan Idul Fitri dan libur kenaikan kelas, film ini mengingatkan kita kembali betapa berharganya keluarga dan nilai sebuah kata maaf.
Kita semua membuat kesalahan. Perbedaan terletak pada bagaimana setiap kita menyikapi kesalahan yang telanjur dibuat.
Bagi sebagian orang, penyesalan diri menjadi tempat pelarian pertama. Bila diteruskan, pilihan itu hanya akan berakhir ke sebuah jalan buntu: pengasingan diri.
Terus menyalahkan diri sendiri.
Film Ghost Writer memperlihatkan dinamika ini dan membawanya hingga ke titik ekstrim. Secara visual, kita bisa melihat dampak dari pilihan itu. Bukan saja kepada pribadi pelakunya, tetapi juga lingkungan yang mengasihi pribadi itu.
Respons yang salah hanya akan melipatgandakan dan menyebarluaskan akibat dari sebuah kesalahan.
Setelah film selesai, saya kembali teringat kepada sebuah kalimat di iklan yang saya saksikan sebelumnya:
“Meski semua telah terjadi, selalu ada kesempatan untuk bereskan hati.”
Kini, pertanyaan untuk saya dan Anda,
di antara begitu banyak orang yang kepadanya kita ucapkan, “Mohon maaf lahir batin,”
sudahkah kita juga menawarkan maaf kepada ‘Dia’ yang paling ingin kita hindari itu,
bahkan bila Dia adalah sosok yang kita lihat di depan cermin?
Baca Juga:






