Berkali-kali pelajaran dibatalkan. Ke gereja pun tidak. Bulan demi bulan berlalu tanpa kabar. Suatu hari Meta ingin bertemu. Dia mengabarkan akan menikahi seorang duda dengan empat anak.
“Berapa lama kamu mengenalnya?”
“Tiga bulan, Bu. Raymond, namanya. Kami dikenalkan oleh teman sekerja dan cocok,” jelasnya.
“Kami sudah sama-sama dewasa, saling memahami betapa pahitnya rumah tangga yang gagal, jadi tunggu apalagi?”
Saya mencoba memberinya pengertian. Dia belum betul-betul mengenal Ray, sangat beresiko menikahinya. Akan tetapi, Meta bergeming.
Akhirnya Ibu Pendeta kami secara khusus menemui Meta.
“Setidaknya menikahlah setahun lagi. Meta baru saja putus dengan mantan pacar pertama, mengenal Ray juga baru tiga bulan. Meta belum siap menikah dan perlu mengenal Ray lebih mendalam. Belajarlah dari pengalaman masa lalu,” kata Ibu Pendeta.
Namun, segala upaya dan penjelasan tidak digubris. Dua bulan kemudian, mereka pun menikah. Kemudian Meta dilarang ke gereja dan kami kehilangan kontak hingga kini.
Sebuah pelajaran keras dalam pilihan yang dibuat
Setelah mengingat Meta, saya pun mengajaknya makan di resto terdekat. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, akhirnya kami kembali duduk berhadapan muka.
“Bagaimana Meta bisa sampai di Bali?”
“Saya menyesal, Bu, tidak mau mendengarkan nasihat Bu Yenny dan Bu Pendeta,” tuturnya memulai kisah hidupnya.
Janji awal Ray, Meta diperbolehkan membawa kedua anaknya ke rumah mereka. Tak disangka, dia ingkar janji. Meta harus merawat empat anak Ray, sementara anak kandungnya tak terawat. Usaha Ray pun tidak lancar. Saat suntuk dengan masalah keuangan, Ray suka memukuli Meta.
Belum lagi anak-anak kandung Meta merasa kecewa dan berontak. Anak bungsunya lari dari rumah, hidup di jalanan, dan menjadi pecandu narkoba. Hidupnya makin hancur. Suatu ketika, dalam pertengkaran, Meta dipukul hingga berdarah-darah dan pingsan. Sampai akhirnya harus dilarikan ke rumah sakit. Karena kejadian itu, ujung mata kirinya cacat hingga kini.
“Saya sekarang membantu usaha Rian, anak sulung saya di Bali. Sekarang saya menyadari, tidak ada kebahagiaan ketika kita hidup melanggar kebenaran firman Tuhan. Di antara tiga pria yang pernah ada dalam hidup saya, sesungguhnya papanya Rian yang terbaik. Meski kadang-kadang dia berjudi dan begadang dengan teman-temannya, tapi tetap bertanggung jawab membiayai anak-anak. Modal Rian berdagang juga dari papanya. Sayangnya, waktu itu saya masih sangat muda, hanya mengandalkan emosi.






