3. Ambisi pribadi
Ini kali kedua Prabowo menjadi rival Jokowi. Sebelumnya beliau pernah mengalami kegagalan. Terlepas dari alasan dorongan sekelompok orang yang meminta dia untuk maju lagi, tapi kita bisa melihat bahwa Prabowo memang memiliki ambisi. Tidak ada yang salah dengan ambisi, selama itu tidak menjadi sikap ambisius yang menghalalkan segala cara.
Saya adalah akumulasi masa lalu ditambah dengan kepribadian saya sebagai manusia. Seseorang yang mengalami kegagalan di masa lalu dapat berimbas pada cara ia bertindak di masa kini. Reaksinya bisa positif atau negatif. Kepribadian seseorang akan menjadi penentu.
Maka menjaga hati merupakan kunci atau penentu seseorang saat melihat kegagalan. Dia bisa menjadi sangat ambisius hingga cara apapun akan ditempuh, atau sebaliknya ia akan melihat ini dengan positif, yaitu belajar untuk menjadi lebih baik.
Apa yang kita pelajari:
Gagal melihat kegagalan ada di dalam penentuan Tuhan, hanya akan membuahkan kegagalan lain yang lebih besar
4. Perkara kecil dan besar
Salah satu kelebihan Jokowi yang tak dimiiliki oleh Prabowo adalah rekam jejak keberhasilan sebagai birokrat. Memulai dari karier walikota, gubernur dan presiden tanpa ditemukannya cacat karakter, membuat Prabowo seakan berada di bawah Jokowi.
Kesuksesan adalah pekerjaan seumur hidup. Bukan hanya hasil tapi proses. Seorang yang patut dipercaya, adalah mereka yang telah menunjukkan sejarah hidup yang berintegritas. Kepercayaan, kejujuran, ketekunan selalu diukur melalui sebuah proses. Waktu adalah salah satu ujiannya.
Apa yang kita pelajari:
Hidup adalah ibarat sebuah sekolah. Untuk bisa naik kelas, maka anda harus menempuh ujian dan menunjukkan nilai yang baik. Jika SD saja tidak lulus, bagaimana kita bisa berharap bisa menempuh ujian di tingkat SMP?
5. Kepentingan yang lebih besar
Sulit jika kebenaran ditentukan berdasarkan keuntungan pribadi. Kebenaran bersifat obyektif, walau tidak menguntungkan diri, kebenaran tetap harus dijunjung tinggi. Prabowo-Sandi sudah memutuskan membawa fakta kecurangan ke MK (Mahkamah Konsitusi). Kita tinggal menyaksikan dan percaya bahwa MK akan melihat dan mempertimbangkan bukti. Bagaimanapun semua usaha ini adalah demi kepentingan yang lebih besar, yaitu bangsa dan negara kita, Indonesia.
Kita adalah pusat relasi. Di mana pun kita berada, kita pasti terikat sebuah relasi. Keputusan yang kita ambil menunjukan sejauh mana kita menempatkan diri dalam sebuah relasi. Kita tidak akan mengorbankan kepentingan keluarga semata untuk kepentingan pribadi. Demikian juga kita menjaga nama baik keluarga di mana pun kita berada. Kehidupan saya mempresentasikan relasi yang saya hormati.
Apa yang kita pelajari:
Jika bahasa adalah identitas diri sebagai bangsa, maka kualitas relasi cerminan kualitas pribadi






