Honeymoon, 22 November 2011. Pertama kalinya saya pergi ke luar negeri. Satu pengalaman yang sangat menyenangkan dan tak terlupakan hingga sekarang. Walau mungkin satu dua momen saja yang masih sanggup direkam oleh memori dari seorang wanita yang sekarang sudah menjadi ibu beranak dua.

Sabtu, 16 Februari 2013. Momen luar biasa ketika anak pertama kami lahir ke dunia. Satu pengalaman yang sangat membahagiakan, mengharukan, sekaligus menakutkan. Ya, kami takut dan khawatir apakah nanti kami sanggup menjadi orangtua yang baik. Namun enam tahun berlalu dan gadis kecil kami turns out to be okay. She is not perfect of course, but she is awesome ūüôā

Sepuluh hari setelah ulang tahun saya yang ke-30, Tuhan memberikan kejutan kepada saya dan suami. Dua garis merah itu muncul, satu lagi karunia yang akan Tuhan percayakan pada kami. Saat itu saya merasa sangat kaget karena itu bukanlah kehamilan yang direncanakan. Meski demikian, tetap penuh dengan sukacita atas anugerahNya.

Senin, 27 July 2015, lahirlah makhluk kecil yang rapuh, yang menjadi tanggung jawab kami sepenuhnya. Masih ada ketakutan, tetapi lebih percaya diri kali ini. Tiga setengah tahun berlalu and our little boy brings so much joy in our life.

Hidupku kok tidak seindah itu?

Dunia media sosial zaman now membuat kita mudah sekali membandingkan kehidupan kita dengan orang lain. Kita terkadang atau sering kali “meneteskan air liur” melihat betapa nikmatnya kehidupan mereka, begitu tampak sempurna. Lalu kemudian membuat kita meneteskan air mata ketika melihat kehidupan kita yang sepertinya tiada pernah sempurna.

Padahal kita tahu bahwa kehidupan nyata tidaklah seindah apa yang dipasang di instagram, tetapi sejak kapan kita menghidupi apa yang kita ketahui?

Tiga cerita kenangan saya di atas, apakah sudah memunculkan persepsi bahwa hidup saya indah? Kalau belum, berarti saya kurang banyak pamer hehehe.

Atau karena pembaca semua sudah sangat sadar bahwa kehidupan tidak seindah dunia medsos.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here