Inilah yang kemudian sangat disukai anak remaja di zaman ini.
Benar saja.
Ketika orangtua terus berusaha tampil sempurna demi mempertahankan otoritas di hadapan anak, ada alternatif pribadi lain yang ternyata bisa mereka jadikan panutan, yaitu para influencer.
Coba tanya gen-Z atau generasi alpha, apa cita-cita mereka? Tebakan saya, lebih dari 70% akan menunjuk youtuber atau influencer sebagai cita-cita mereka.
Saya bisa mengerti. Generasi muda sepertinya lelah untuk dituntut sempurna oleh orang yang berpura-pura sempurna. Mereka anggap, tuntutan dan tekanan untuk tidak melakukan kesalahan akan membuat mereka tidak bisa jadi diri sendiri. Ini isu tersendiri yang saya pikir sudah banyak dibahas oleh psikolog atau rohaniwan.
Namun sebenarnya, ada isu besar yang sekarang ingin saya soroti di dalam diri para youtuber, selebgram, atau influencer yang jadi panutan mereka. Inilah isu yang saya sebut dengan kejujuran buatan, atau dalam frasa lain otentisitas palsu.
Kejujuran buatan adalah sebuah tampilan yang secara sengaja ditunjukkan oleh orang yang dengan tampilan itu mereka akan dianggap autentik. Asumsinya, it is good to be authentic.
Apakah mereka benar-benar pribadi yang autentik?
No.
Pertama, otentisitas tidak lagi didefinisikan sebagai sikap mengakui kelemahan diri. Mereka tidak benar-benar autentik. Mereka hanya bangga karena dianggap autentik.
Kedua, apa yang ditampilkan di sana sangatlah terbatas dalam frame, baik foto maupun video. Kenyataannya, mereka akan hapus footage-footage yang tidak terlalu seru. Mereka akan potong bagian tertawa yang tidak terlalu ngakak. Mereka akan seleksi, edit, dan upload. They practically choose what they want to be.
Ketiga, sering kali, karena angka yang berbicara, maka mereka melakukannya demi angka. Mereka tak segan menampilkan hal buruk, konyol, aneh, atau berlagak berandal demi meraup likes atau subscribes.
“Sedikit lebih beda lebih baik daripada sedikit lebih baik,” kata Pandji. Nampaknya, demi menjadi berbeda dan diapresiasi oleh karena keunikan, mereka secara sengaja menjadi diri yang lain untuk memuaskan viewers.
“All for views,” sebut seorang youtuber yang terkenal karena eksperimen memakan sandwich isi bulu kemaluan (Anda tidak salah baca).
Jujur yang dibuat-buat. Autentik yang dipermak. Apa adanya yang dibuat lebay. Buat saya, mereka justru bersembunyi.
Mengapa itu bisa terjadi?
Karena sebenarnya, deep down inside ada sebuah rintihan pengharapan yang tak muncul ke permukaan. Mereka berharap akan sesuatu, tetapi tak terartikulasikan dalam kata-kata. Mereka merasa lemah tanpa sesuatu itu, tetapi tak cukup berani mengungkapkannya.
Langsung pada kesimpulannya:
Mereka ingin dihargai. Kita semua ingin dihargai. And it is human.
Anak-anak kita, ketika ingin tampil sebagaimana jejak para youtuber, juga sebenarnya butuh dihargai. Harap mereka, “Bila sampai di titik itu, aku merasa bernilai.” “Bila bisa menampilkan diriku apa adanya di youtube, aku berharga.”
Tanpa bermaksud menggurui,
berdasarkan fenomena di atas, dua hal yang saya pikirkan dan ingin bagikan kepada orang tua atau siapa pun yang sedang melayani generasi muda.
Pertama, ternyata memberi mereka penghargaan atas apa yang anak muda lakukan tidaklah cukup. Anak-anak ini berharga tanpa mereka melakukan apa pun.
Bila mereka bisa melihat penghargaan dari kita, terlepas dari tidak adanya hal yang mereka kerjakan, mungkin mereka akan lebih mudah merasa cukup dan melihat diri mereka berharga.
Kedua, sepertinya kita perlu menunjukkan what the real authenticity is. Di satu sisi, generasi muda lelah digurui oleh orang yang selalu berusaha terlihat sempurna. Di sisi lain, mengawinkan autentisitas dengan keengganan berubah akan berakibatnya sama buruknya.
Kita harus bisa menunjukkan bahwa autentik berarti mengakui kelemahan diri, tetapi tetap punya tekad untuk bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik. Mudahnya, #autentiktapijalan.
Autentik tapi jalan adalah hal yang saya mulai gemakan beberapa waktu belakangan, baik di media sosial maupun ketika membimbing seorang remaja secara personal. #autentiktapijalan adalah model yang, menurut saya, sebaik-baiknya sering tertampil di hadapan mereka.
Baca Juga:






