2 – Jangan terlalu dibawa masuk ke dalam hati

Percayalah, apa yang ditampilkan dan yang tampak di mata kita tak selalu sesuai dengan kenyataan. Share on XContohnya, tampilan foto atau video yang diunggah orang di media seperti Facebook atau Instagram.
Tujuan semula Mark Zuckerberg dalam menciptakan Facebook adalah agar media sosial ini bisa digunakan orang untuk saling sapa menyapa, berbagi foto dan menyampaikan dengan teman yang berlokasi di berbagai tempat. Begitu pula dengan Instagram; tujuannya kurang-lebih sama. Namun, ternyata, sekali lagi, media sosial tak selalu berefek baik.

Media hanyalah “wadah”. Bayangkan media itu sebagai sebuah tempat, seperti baskom atau ember untuk mengisi air. Air yang diisikan bisa air kran yang bersih atau air sungai yang keruh. Setelah itu, air yang ditampung itu juga bisa digunakan untuk berbagai hal; entah untuk kebaikan atau keburukan, dan diambil banyak atau sedikit.

Ketika teman-teman kita berbagi update, berbagi foto atau pun saling sapa, maka pikirkan hal-hal yang baik atau positif saja. Tanamkan di hati kalau apa yang dipaparkan dalam media hanyalah bersifat ingin berbagi. Mungkin yang dibagi adalah foto bagus, dan gambar yang keren, pemandangan yang indah dan lain sebagainya.

 

Baca juga: Menghayati Tulusnya Persahabatan Lewat Lirik Lagu-Lagu Tulus

Bagaimana jika seandainya kita merasa mereka hanya berniat “pamer” saja? Jika demikian, nasehat saya adalah: dugaan ini janganlah dibawa terlalu dalam masuk ke hati. Kita tak perlu iri, apalagi menjadi minder atau mulai membandingkan keadaan kita dengan mereka. Ingatlah, yang indah dan bagus memang diperlihatkan, tetapi keadaan sebenarnya yang asli tak ada yang tahu, bukan? Mungkin foto mereka kelihatan keren, indah, bagus, dan nampak mengesankan. Mungkin mereka menunjukkan pencapaian yang luar biasa.
Namun, siapakah yang tahu keadaan sebenarnya? Bagaimana perjuangan, hubungan yang ada di dalamnya, rasanya, cerita sebenarnya, situasi aslinya dan lain sebagainya?

Sama seperti air yang tertampung dalam wadah baskom. Apakah perlu kita mengolah air tampungan itu dengan terlalu serius? Apakah perlu kita masak airnya, bahkan kita minum? Perlukah setiap info, foto, cerita, kata dan berita kita masukan semua ke dalam hati seperti layaknya meminum semua air hingga air terserap banyak?

Jika demikian, kita sama saja seperti orang yang selalu membandingkan hidup dengan  hidup teman, keluarga atau kerabat lainnya. Kita jadi merasa berbeda. Kita jadi tak puas dan bersyukur dengan apa yang kita jalani dan miliki. Kita jadi terus bertanya mengapa dia begitu dan kita begini? Hidup kita pun terguncang hanya gara-gara media sosial.

 

Sekarang cobalah bertanya kepada diri sendiri: apakah kita ingin terus terpapar oleh media sosial dengan cara seperti ini? Ingat, media sosial dapat mengangkat atau menjatuhkan kita! Bijaklah menggunakan media sosial. Share on X

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here