2. Apa banyak berarti tidak berharga?
Saya setuju dengan teori ‘supply and demand’ yang mengatakan bahwa harga barang ditentukan dengan jumlah barang yang tersedia dan jumlah peminat. Semakin tinggi minat orang terhadap barang tertentu dan semakin langka jumlahnya, maka harganya semakin tinggi. Namun, apakah teori ini serta merta bisa diterapkan di semua lini kehidupan? Tentu saja tidak!
Contohnya begini. Apakah orang yang sudah punya harta banyak lalu otomatis berhenti mengejarnya karena hartanya tidak lagi berharga? Umumnya justru semakin banyak hartanya, semakin giat dia untuk terus menumpuknya sehingga banyak sekali Paman Gober di luar sana. Kepuasan memang sulit dipuaskan. Meskipun begitu, ada sedikit orang yang mampu mengerem nafsu serakahnya, bahkan melakukan tindakan altruisme.
Di antara yang sedikit itu adalah seorang ibu yang mempunyai resto laris di Surabaya. “Sudah Tuhan. Saya sudah cukup,” ujarnya dengan mata membasah.
Jika nyawa begitu penting, mengapa kejadian tragis semacam ini terjadi begitu sering?
Saat membaca, mendengar atau bahkan melihat kecelakaan demi kecelakaan dengan jumlah korban berapa pun, saya senantiasa bertanya, “Mengapa kata ‘kecolongan’ begitu gampang keluar dari mulut pejabat kita?” Saya percaya jika kita kecolongan sekali saja, kita pasti akan jauh lebih berhati-hati menjaga harta milik kita. Apakah nyawa kurang berharga dibandingkan harta lainnya?
Seorang anak bertanya kepada mamanya, “Kok Mama tidak pernah menitipkan berlian Mama kepada Si Mbak saat Mama pergi keluar negeri?”
“Tentu tidak. Harga berlian sangat mahal Nak,” ujar mamanya.
“Kalau begitu, mengapa Mama menitipkan saya ke si Mbak setiap hari?”
Pertanyaan anaknya yang tak disangka-sangka itu membuat ibu itu shock and speechless.






