1. Karena Marah Membuat Saya Sadar bahwa Pada Saat itu Saya “Sedang Marah”
Seperti berkata pada hati dan pikiran sendiri, “Hai, sekarang kamu sedang marah.” Paling tidak, hal itu membuat saya sedikit berhati-hati dengan amarah saya. Kemudian hal itu juga membuat saya merekam perkataan jahat, pedas, atau apa saja yang telah saya keluarkan.
2. Karena Marah Membuat Saya Sadar bahwa Saya “Telah Marah”
Saya telah marah beberapa jam, menit, atau detik yang lalu. Saya pun merenung dan berpikir, pantas tidak saya marah sedemikian rupa. Apakah perlakuan marah saya keterlaluan? Sedikit banyak, muncul perenungan diri tentang amarah yang keluar.
3. Karena Marah Membuat Saya Sadar bahwa Saya “Selesai Marah”
Saya telah menyelesaikan marah. Saya telah marah beberapa jam, menit, atau detik yang lalu. Saya sadar saya telah marah, dan saya berada pada titik perenungan,
“Apakah mereka merasa kecewa dengan saya?”
“Apakah mereka menjadi takut bertemu dengan saya?”
“Apa yang mereka pikirkan saat ini tentang saya?”
“Apakah kata-kata marah saya terlalu jahat dan menyakitkan?”
, dan beberapa peperangan pikiran lain yang mulai menuduh diri kita karena aktivitas marah kita.
Siapa pun pernah marah, tetapi tidak satu orang pun memilih untuk marah dan ingin marah.
Jika kita berada pada titik bahwa kita sadar bahwa kita “sedang, telah, selesai” marah, kita telah berolahraga dengan emosi kita.
Paling tidak, membuat emosi kita menjadi lebih sehat. Asal disertai dengan perenungan-perenungan yang penuh dengan refleksi diri. Akan tetapi, jika sampai memendam, lalu membenci dan kepahitan, kita perlu berdoa juga untuk menyembuhkan perasaan emosi kita yang telah mengakar.
Baca Juga: Langkah yang Harus Dijalani untuk Bisa Mengenali dan Menyayangi Diri dengan Lebih Baik Lagi
Terkadang, amarah membawa hikmah dan kebahagiaan, karena membawa pelajaran hidup yang tidak pernah kita dapatkan di bangku sekolah. Pelajaran yang hanya bisa didapat melalui pengalaman-pengalaman pribadi kita dengan emosi kita.






