Saya mengamati sebuah pesan yang masuk ke inbox akun Facebook saya. Pesan pribadi ini dikirimkan oleh Kennedy Jennifer Dhillon, seorang sutradara perempuan yang profilnya pernah saya tuliskan di ributrukun.com.

“Jes, bisa ga keprihatinanku tentang perempuan yang terinjak oleh sistem patriarki ini dimuat di ributrukun?”

Pesan tersebut begitu singkat, namun menggemakan alarm yang begitu kuat.

Sesungguhnya tulisan yang dibuat oleh Kennedy ini benar-benar menyuarakan posisi perempuan di bawah cengkeraman dan kungkungan budaya patriarki: lemah, tidak berharga, dan hanya dianggap seperti barang.

Melalui tulisannya, Kennedy berharap dapat memberi pencerahan kepada setiap pembaca, khususnya kaum perempuan bahwa pernikahan yang benar itu memiliki definisi sendiri.

Seperti apa definisinya? Silakan menyimak tulisan di bawah ini.

 

Pernikahan yang benar adalah pernikahan yang memberdayakan dan memanusiakanmu menjadi manusia yang lebih baik

 

“Perempuan terlahir bukan untuk menjadi mesin penghasil anak dan babu rumah tangga.

Berabad-abad pola pikir patriaki selalu menjadikan perempuan kelas nomor dua, di mana perempuan harus terus hidup dibawah bayang-bayang stigma.

Beberapa waktu lalu, saya kembali bertemu dengan seorang ibu yang dibayangi kekhawatiran karena putrinya belum kunjung menikah. Beliau mulai bercerita betapa ia stress dengan usia putrinya, bahkan membandingkan dengan teman-temannya yang juga memiliki anak perempuan.

Ini kebiasaan kita sebagai manusia bukan? Senang membandingkan diri kita dengan yang lain. Senang membandingkan penderitaan dgn yg lain. Ga heran!!! Ini sifat alamiah manusia toh???

Saya mencoba mencari tahu tentang putrinya, apa pekerjaan, dan kegiatannya. Ternyata putrinya sangat bertalenta, smart dan mandiri. Bahkan dalam usianya sekarang yang  masih sangat muda, sang putri sudah meraih banyak penghargaan.

Yang (seharusnya) lebih membahagiakan, ia begitu menikmati kehidupannya. Namun semua berubah ketika sang ibu mulai menjadi PREDATOR, yang MENEROR putrinya dengan mengatakan bahwa ia adalah perawan tua dan harus segera menikah.

Si ibu memang produk PATRIAKI, yang terlahir dan memiliki suami dengan produk sejenis. Sungguh miris, di mana ada pemahaman dalam otak bahwa  perempuan harus menikah dalam usia belia, lalu menjadi ibu muda dan melayani suami seumur hidup. Kalau bisa cari suami kaya biar bahagia selamanya. Bila telat nantinya akan dianggap mempermalukan keluarga, karena dianggap tidak laku.

Padahal ibu ini pun tidak bahagia dengan pernikahannya. Suaminya pun tipikal pria yang tidak bisa menghargai perempuan. Namun yang menyedihkan, ibu ini hidup selalu memberikan telinganya pada mulut para biang gossip produk PATRIAKI juga, sehingga ia akhirnya menjadi KATAK DALAM TEMPURUNG. Pergaulan tidak memberdayakan dirinya, bahkan mengubahnya menjadi PREDATOR bagi sang putri.

Bergaul dengan para perempuan yang katanya bahagia dengan pernikahannya, yang memilih untuk menghamburkan uang dengan cara nongkrong, membeli baju dan aneka barang branded — hanya untuk menutupi luka pernikahannya yang tidak bahagia.

Berteman dengan sekelompok perempuan yang hanya bisa berhura-hura memakai uang suami, dengan prinsip jika suatu saat DITENDANG SUAMI, menjual tubuh menjadi satu-satunya jalan pintas terakhir demi bertahan hidup. Penyebabnya? Karena tidak memiliki keahlian dan tidak memberdayakan diri untuk belajar.

Saya menemukan

ada begitu banyak perempuan yang tidak bahagia dalam pernikahannya.

Namun mereka mau tidak mau menjalankan pernikahannya, hanya karena malu, mikirin apa kata orang, dan membingungkan tentang biaya hidupnya. Dengan kondisi seperti itu,mereka tetap menjadi predator yang gemar membandingkan pernikahannya dengan perempuan lain.

 

Sorry to say,

bisa saya pastikan bahwa pada umumnya perempuan patriarki adalah orang-orang yang tolol. Bisa jadi mereka mengenyam pendidikan tinggi, namun itu demi formalitas semata. Tidak ada keinginan untuk menggali potensi diri lebih dalam. Akhirnya mereka selalu berpikir dirinya akan BERHARGA JIKA MEMILIKI SUAMI, ANAK, RUMAH MEWAH, DSB.

Sangat disayangkan jika kita hanya sekadar hidup. Di mana kita dipenjara oleh stigma: saya lahir utk nantinya menikah dan melahirkan lagi. Padahal hidup lebih dari itu.

Ketika Tuhan menciptakan kita, Ia memberi potensi besar dalam diri untuk menjadi pembawa perubahan dan dampak. BERAGAM POTENSI PASTINYA!

Pernikahan yang benar akan memanusiakanmu, memberdayakanmu, dan memberikan dukungan penuh kepadamu utk menjadi dampak. Lelaki yang terancam dgn potensi pasangannya, sudah pasti produk PATRIAKI yang tidak mau mengupgrade diri. Pria ini sudah terlena di zona nyaman, SEHINGGA PASANGAN JADI ANCAMAN BAGINYA.

Menikahlah jika engkau siap untuk menikah, bukan karena stigma dianggap sudah tua, bahkan tidak laku. Untuk apa menikah jika engkau hanya dibonsai dan dipadamkan potensinya?

Mirissss bukan??? Tapi ini terjadi. Saya melihat sangat banyak contoh, di mana para perempuan bertahan pada pernikahannya hanya karena malu apa kata orang, uang, dan status sosial. Sementara jiwanya tersiksa dan terpenjara.

 

Ladies, 

kita ini makhluk yg diciptakan dibekali otak, potensi, dan kepandaian yang setara dengan pria. Kenalilah potensi itu, galilah hingga kita mampu menjadi dampak.

Bisa jadi Anda akan sangat diperhitungkan, baik dalam hal materi, kualitas, bahkan jabatan.

Keluarlah dari kotakmu, agar tidak lagi menjadi KATAK DALAM TEMPURUNG KORBAN STIGMA PATRIAKI. Pernikahan bukan sebuah PENCAPAIAN TERTINGGI DALAM HIDUP INI. BANGGALAH KETIKA KAMU BISA MENJADI DAMPAK, bukan karena gaya hidup yang hura-hura namun minim prestasi.”

 

Apakah pembaca setuju? Semoga bukan saya yang manggut-manggut sendiri mengaminkan pemikiran tersebut.

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here