The Grand Ballroom, Mulia.

Livi merapikan sleeveless purple long gown-nya. Wajah Livi masih kusam.

“Babe … kamu enggak capek seharian muka ditekuk kayak begitu?” bisik Simon. “Udahlah … Bryan sama Lisbeth sudah married. Sudah sah. Let them be happy.”

“Hmm.” Livi mendengus pelan.

Dekorasi The Grand Ballroom tidak main-main. Mawar pink dan putih menutupi bagian belakang pelaminan dari atas sampai bawah. Tidak ada bunga plastik di seluruh ruangan, semuanya bunga asli. Dekorasi bahkan sudah dimulai dari foyer yang mengarah ke ruang pesta.

“Ini wagyu-nya enak banget. Kamu mau, enggak?” Simon mencoba menghibur istrinya.

“Kobe beef pasti enak,” jawab Livi ketus.

“Kalau enggak mau, aku masih lapar,” cengir Simon. Ia mencomot steik di piring Livi.

Mereka duduk di meja panjang yang dihiasi dengan taplak meja keemasan, dengan rangkaian bunga centerpiece di sepanjang meja. Kesemarakan ditambah dengan kandelir dan lilin-lilin aroma.

Di sisi pelaminan, satu orkestra lengkap dengan 25 musisi dan grand piano berwarna putih memainkan lagu-lagu. Papinya dan Om Ah Liong benar-benar tidak memikirkan biaya yang keluar untuk malam ini. Lisbeth, Bryan, dan kedua orang tua mempelai duduk di meja khusus. Tadinya saudara kandung duduk di meja yang sama, tetapi Livi menolak, takut si kembar berlarian ke sana kemari.

“Congratsss!” Suara Anissa yang melengking tinggi terdengar memekakkan telinga Livi. Anissa menaruh kedua lengannya, satu di bahu Simon satu lagi di bahu Livi.

“Lo tahu ga, adik ipar lo nolak buat ngundang Ed Sheeran. Dia bilang mending kasih entertainment yang Lisbeth bisa enjoy,” kata Anissa menoleh ke arah Livi. “Mantep enggak adik ipar looo,” godanya.

“Berisik lo,” rutuk Livi kesal.

Anissa hanya tertawa. Ia kemudian melirik ke arah Simon. “Jangan berantem sama ni de mei fu, ya.”

Chill, he won’t dare to pick a fight with me. Secara hierarki, I’m above him, since I married the eldest,” jawab Simon tenang sambil melirik Livi. Anissa menepuk bahu Simon dan berjalan pergi.

Livi memandang Lisbeth dari jauh. She looks absolutely stunning, rambutnya ditata manis dengan tiara berhiaskan berlian yang berkilauan. Gaun Lisbet berekor panjang bertabur Swarovski. Ada rasa haru di hatinya. Namun, melihat pria yang duduk di sebelah Lisbeth membuatnya mendengus lagi.

And now, a special performance from our groom, Mr. Bryan Lau.” Suara MC memecah lamunan Livi.

Bryan naik ke pelaminan. Sambil tersenyum ia menyapa para hadirin, “Selamat malam para hadirin. Thanks for coming to our wedding receptions. Your presence means so much for me, my wife, and our family. I’d like to sing a special song for my beloved wife, Mrs. Lisbeth …,” Bryan berhenti sejenak sebelum melanjutkan, “… Lau. Lisbeth Lau.”

Lampu seluruh ruangan perlahan diredupkan, digantikan dua buah spotlight. Satu menyorot ke arah Bryan, satu lagi ke arah orkestra.

“Nyanyi buat Lisbeth? Udah gila ya Bryan. Lisbeth mana bisa denger,” omel Livi. Ia menyaksikan Bryan memperbaiki mic wireless di jas abu-abunya. Layar besar di belakangnya berpendar, bersiap menayangkan teks.Konduktor memberi aba-aba dengan batonnya dan ….

Tidak ada suara. Livi memperhatikan orkestra. Para pemain biola menggesek biola mereka, tetapi …. tak ada suara.

“Sound system-nya kok bisa mati?” gerutu Livi.

Omelannya terbungkam saat ia membaca kalimat yang muncul di layar.

Di saat kukatakan cinta …. Itu berarti untuk s’lamanya.

Mulut Livi tenganga … Dari mana Bryan tahu lagu ini? Tamu di sekelilingnya mulai gelisah, berkasak-kusuk karena tidak ada suara yang terdengar. Hanya ada Bryan berdiri di pelaminan sambil menggerakkan tangannya dengan bahasa isyarat.

Livi tercengang. Enggak mungkin! Ini bukan lagu yang bisa Bryan temukan di YouTube!

Kub’rikan hatiku dengan tiada terbagi, s’perti yang kulakukan kini.

Apa Lisbeth yang memberitahukan lagu ini kepada Bryan? Di kala sekelilingnya sibuk bertanya mengapa tak ada musik dan tak ada suara, ingatan Livi berkelana ke masa silam. Kala itu dirinya dan Lisbeth masih remaja. Ia baru selesai menonton sebuah drama musikal dan jatuh cinta kepada lagu Cinta Kuat Seperti Maut.

“Cici pernah jatuh cinta?” tanya Lisbeth mendadak.

Livi menatap adiknya yang beranjak remaja. Tubuhnya yang mulai berisi, senyum Lisbeth manis kadang malu-malu.

“Tidak tau. Cici juga belum punya pacar.”

“Apa nanti ada cowok yang mau sama Lisbeth?” Mata Lisbeth yang bening menatap Livi, seolah-olah Livi punya jawaban atas pertanyaan itu.

Entah kenapa Livi ingin menangis. Adiknya ini sungguh cantik, tetapi ia Tuli. Apa ada yang mau? Apa ada pria yang benar-benar mau menerima adiknya?

Livi memaksakan seuntai senyum. “Pasti ada. Pasti.”

Melihat senyum Lisbeth, Livi menyesal. Lisbeth percaya kebohongannya.

“Nanti kalau Lisbeth menikah, Cici datang, ya,” kata Lisbeth cerah.

“Pasti ….” Livi memeluk Lisbeth erat-erat. Pelukan itu bukan hanya karena ia ingin memeluk Lisbeth. Ia ingin menghapus air matanya tanpa ketahuan Lisbeth.

***

Lisbeth dan kedua orang tua mempelai memperhatikan Bryan dari meja VIP, sama sekali tidak tahu bahwa Bryan menyiapkan kejutan ini. He’s sweet!

Ketika baris pertama muncul di layar besar, pikiran Lisbeth melayang kembali ke sore itu ketika ia memberikan surat kepada Bryan di rumahnya. Ternyata Bryan ingat. Senyum lebar menghiasi wajahnya. Bryan is really sweet.

Namun, ada sesuatu yang aneh. Lisbeth tidak mengerti mengapa wajah papi-maminya serta papa-mama Bryan kelihatan panik? Kenapa mereka berbisik-bisik satu sama lain? Ada yang aneh, kah? Lisbeth melihat papinya menggerakkan tangan memanggil WO, Lisbeth memandang orkestra yang disorot spotlight. Belasan musisi menggesek biola dan double bass, jari pemain flute menari-nari, pemain trombone dan french horn terlihat memainkan alat musik mereka. Lisbeth memandangi Bryan yang sedang menatapnya sambil tersenyum dan terus melantunkan bahasa isyarat.

Bagaimana mengukur cinta? Selain dengan hati saja.

Lisbeth menepuk lengan maminya. “Ada apa?”

“Orkestra tidak ada suaranya!” Wajah maminya terlihat panik.

Keningnya berkerut, Lisbeth termenung. Tidak ada suara? Kenapa Bryan diam saja? Ia menatap Bryan yang dengan tenang memasuki refrainWaktu jua membuktikan cinta kuat seperti maut.

Tidak mungkin Bryan tidak sadar kalau orkestra tidak ada suaranya ….

Lisbeth tiba-tiba menutup mulut. She knew what’s going on. Pandangannya langsung buram, dadanya sesak. It can’t be ….

Apa pun kan kulakukan ke mana pun ku mau ikut ….

Matanya bertemu dengan mata Bryan, and he knows that she knows what’s going on.

 Segalanya hanyalah demi cinta ….

 Benak Lisbeth dipenuhi kilasan balik pertemuan mereka.

Lisbeth enggak mau dengan cowok dengar. Cowok dengar tidak bisa mengerti.

Betapa kelirunya ia. Lisbeth teringat bagaimana ia menolak dan meragukan Bryan beberapa kali. Sekarang, di sinilah mereka.

***

Waktu jua membuktikan, cinta kuat seperti maut. Ku hidup hanya untuk satu nama. Bryan terus membuat isyarat dengan diiringi bisik-bisik para tamu.

Mata Livi penuh air mata. How come she forgot Lisbeth’s wishes.

Begitu kata “cinta” selesai ia isyaratkan, Bryan membuka mulutnya. “Lagu tadi memang tidak ada suaranya.”

Di latar belakang, perlahan muncul suara orkestra memainkan lagu Cinta Kuat Seperti Maut lembut-lembut.

“Istri saya, Lisbeth, Tuli. Dunianya tanpa suara, hanya gerak dan warna. Seperti yang baru saja Bapak-Ibu alami. Bapak-Ibu melihat orkestra memainkan alat musik, tetapi tidak ada bunyi yang keluar. Bapak-Ibu melihat saya melantunkan lagu dengan bahasa isyarat, lagi-lagi tanpa suara. Untuk sejenak, saya ingin membawa Bapak-Ibu masuk ke dalam dunia istri saya.”

Tangis Livi pecah. Orkestra kini mengalun dengan volume penuh. Suara para penyanyi terdengar melantunkan lagu Cinta Kuat Seperti Maut.

Livi berlari menghambur ke arah Lisbeth. Air matanya terus mengalir sembari ia menggenggam tangan Lisbeth erat-erat. Livi memeluk Lisbeth yang masih duduk di meja VIP.

Maaf, Lisbeth, Maaf.” Suara Livi bergetar lalu tangisnya kembali pecah. Ia memeluk Lisbeth erat-erat tanpa peduli dirinya dan Lisbeth sedang disorot spotlight. Lisbeth mengusap pipi Livi yang basah oleh air mata.

“Thank you. Lisbeth sayang Cici.” Mata Lisbeth pun buram oleh air mata. Mereka berpelukan lagi.

Livi merasa Simon menepuk bahunya. Ia melepas pelukannya dengan Lisbeth. Di belakang Lisbeth, Bryan berdiri menunggu mereka. Livi menghapus air matanya dan menyodorkan tangan kanannya kepada Bryan. Menawarkan sebuah jabat tangan.

Please take care of Lisbeth. I give you my blessing,” suara Livi bergetar ketika ia menjabat tangan Bryan.

“I will.” Bryan melepas tangan Livi lalu ia berpaling ke arah Lisbeth, menggenggam tangan Lisbeth dan membawanya ke atas pelaminan. Spotlight bergerak mengikuti mereka.

Livi memeluk Simon erat-erat dan menangis di pelukannya.

 “I was so wrong, Babe. Kamu tahu … Aku tidak bisa pilih mau punya adik Tuli atau tidak. Bukan artinya aku enggak sayang. Tapi … Bryan bisa pilih. Oh, my God, what have I done …. Bryan enggak harus milih istri Tuli. And he did more than just marrying my sister, Babe ….”

Livi menghapus air matanya yang terus mengalir. Simon menyodorkan tisu.

“Kamu tahu, kadang aku berharap orang-orang tau kayak apa rasanya hidup di dunia tanpa suara. Kayak apa rasanya jadi Tuli, so they can appreciate my sister more. They can know her struggle. And … aku pengin begitu … because I love her so much. I want others to understand my sister and love her just the way I do ….” Air mata Livi turun tanpa bisa dikendalikan.

He’s doing it right now! Babe … On my sister’s wedding day. To honour her. He muted … the whole orchestra. Oh my God … what have I done … He clearly loves her! He MUTED the whole orchestra to make people understand what it feels to be deaf … How can I be so blind … Muted the whole orchestra for Lisbeth ….” Livi terus bicara dengan terisak-isak.

“Now you know …. Itu yang penting.” Simon menepuk lembut punggung istrinya.

Di atas pelaminan, Bryan dan Lisbeth berdansa diiringi lagu Cinta Kuat Seperti Maut. Spotlight lain tiba-tiba menyorot bagian belakang pelaminan. Ternyata paduan suara anak-anak YST dan guru-guru. Mereka tidak menyanyi, tetapi melantunkan bahasa isyarat. Ada Bu Euis di kursi roda, Nala, Kintan, Siti, Dodo, Ahmad, Zaki, Bowo, Zara, Susi, dan wajah-wajah lain yang dikenal baik oleh Lisbeth.

Waktu jua membuktikan cinta kuat seperti maut, kuhidup hanya untuk satu nama.

Apa pun kan kulakukan ke mana pun ku mau ikut, segalanya hanyalah demi cinta.

Heni menepuk bahu Wim. “Nih.” Ia menyodorkan tisu untuk suaminya.

“Makasih,” bisik Wim. Tangan kirinya memeluk bahu Heni sementara matanya yang sedikit buram melihat ke arah pelaminan. His days already ended. Wim bukan lagi pria paling utama dalam hidup Lisbeth. Tugasnya … selesai.

***

You’re just too good to be true … can’t take my eyes off you ….

Anissa sedang menyantap grilled lobster tail with lemon, ketika lagu itu berkumandang.

“Lagu kita nih, Babe,” kata Dimas dengan semangat. “Yuk.” Ia menarik tangan Anissa dan membawanya ke dance floor. Wim dan Heni serta teman-teman dari klub ballroom dance-nya baru bubar dari dance floor.

“Dimas,” panggil Om Wim.

“Selamat, ya, Om!” salam Dimas dengan semringah. “Akhirnya, ya, Om!”

“Selamat, Om!” Anissa juga memberi selamat kepada Om Wim sambil tertawa lebar. Ingatannya kembali ke beberapa waktu lalu ketika mereka menghadiri pesta pernikahan Dinda, adik Dimas. Anissa memamerkan gaunnya yang ia pesan dari Lisbeth. Perbincangan beralih ke arah Lisbeth yang belum menikah lalu tiba-tiba Om Wim bertanya, “Bryan … masih single?”

Dimas mengikuti mata Om Wim yang masih menatap Bryan, “Masih, Om!” jawab Dimas cepat. Mulut Anissa melongo, “Om … enggak salah, Om? Bryan sama Lisbeth?” Anissa melirik Bryan yang sedang memilih puding, matanya lalu berpindah ke pojok ruangan lainnya tempat Lisbeth duduk diam di antara Heni dan Mei Hwa.

“Babe … udah enggak gitu sekarang!” potong Dimas. “Suer. Sekarang guai-guai banget. Bener, Om! Sejak kecelakaan udah kagak pernah clubbing-clubbing maen cewek, Om,” kata Dimas berusaha meyakinkan Om Wim. “Berubah drastis, Om! Like a new guy!”

“Gitu, ya?” jawab Om Wim dengan wajah datar.

“Lisbeth, kan, punya pacar?” tanya Anissa perlahan.

Wim menggeleng, “Cowoknya enggak serius … enggak lama juga pasti putus.”

“Perlu dibantuin, Om?” cengir Dimas. Anissa masih memelotot, ia menyikut suaminya, “Jangan aneh-aneh, ah, kamu.”

Wim tertawa, ia melihat ke arah Dimas, “Kamu bisa bantuin?”

“Kalau Om serius, bener-bener serius, bisa, Om.” Dimas menyanggupi.

“Kalau jadi, nanti Om traktir, yah. Mau apa? Australian lobster?” tawa Wim sambil memasukkan tangan ke saku jas.

“Sama Kobe beef, Om!” usul Dimas yang penggemar wagyu.

“Gampang,” Wim menepuk bahu Dimas lalu berjalan pergi.

***


[1] shuāng xǐ: Double Happiness, lambang yang dipergunakan pada pernikahan keluarga Chinese.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here