“Gak!”
“Bilang cepet: Koko ganteng!” perintah Ming.
“Gak mauuu!!” Martha meronta, berusaha melepaskan diri.
Ming menyentil dahi Martha dengan tangannya yang bebas.
“Aduhhh! Saoooo, tolong!”
Ming cepat-cepat menutup mulut Martha, tetapi langkah itu justru menawarkan jalan keluar bagi si tawanan. Martha menggigit tangan kokonya dan membuat cengkeraman Ming terlepas.
“Kapokkk!”
“Duh, mesti periksa rabies ini kayak e,” rintih Ming sambil memeriksa bekas gigitan Martha.
“Enak ae! Emang aku apa?” Martha menjatuhkan diri di samping Ming sambil menyikut rusuk kokonya.
Bukannya melakukan serangan balik, Ming malah tertawa dan memeluk adiknya erat.
“Kangen itu ngomong, Ko. Ga pake ngerjain orang gitu loh,” ujar Martha.
Ming melepaskan pelukan lalu memandangi Martha lekat.
“Iya, kangen. Apalagi habis ini jadi istri orang,” goda Ming.
“Apa seh! Koko sembarangan ngomong!”
Muka Martha memerah, dia merasakan pipi seperti berada dekat dengan api unggun.
“Koko lagi mengalihkan pembicaraan ya?” Mata Martha memicing curiga pada Ming. “Cerita Koko belum selesai. Ayo, lanjutno,” perintah Martha.
Kalau perkenalan Martha dengan Bayu dibumbui dengan curiga dan ketidaksukaan, perkenalan Ming dan Bayu justru seperti menemukan teman.
Mereka merasa saling terhubung karena berkuliah di universitas yang sama dan bahkan memiliki beberapa mutual friends. Beberapa kali mengantar barang ke sana, Ming seperti bertemu dengan teman lama.
“Suatu kali, Papa ikut antar barang ke toko Bayu. Waktu itulah Koko tahu semua.”
“Koko gak marah?”
Ming menggeleng, lalu berkata, “Mungkin karena udah kenal Bayu ya. Dan lagi, waktu lihat cara Papa ngomong ke Bayu, rasanya aku ga berhak marah gitu.”
Martha bergeser dari tempat duduknya, untuk berhadapan dengan Ming.
“Aku kaget. Jujur ae, siapa juga yang ga kaget kalo tahu dia itu adiknya Papa. Tapi, pikir-pikir, Papa yang berhak marah dan ga anggap Bayu ae memperlakukan dia seperti itu, siapa aku yang mau protes dan ga terima dia?”
Martha mengangguk kecil.
“Waktu perjalanan pulang, Papa bilang, ‘Kita ga bisa hapus dosa masa lalu. Tapi kita bisa buat sesuatu buat masa depan.’”
Martha melihat Ming melirik ke atas, bola matanya sedikit berkilau. Ia terdiam sejenak.
“Malam sebelum wedding, Papa bilang, ‘Cukup sekali ada cerita Bayu di keluarga kita. Jangan sampe kamu ulangi.’”
“Papa bilang gitu?”
Ming mengangguk. “Dan itu kali pertama aku lihat Papa nangis.”
“Sungguhan?” tanya Martha tak percaya.
Ming mengangguk lagi. “Ya, Papa wes keluar air mata. Terus Mama cepet-cepet paksa Papa keluar dari kamar hotelku.”
“Mama lagi …,” cicit Martha lirih.
“Opoo, Ta? (Kenapa, Ta?) Kok ngomongnya gitu?”
“Ko, pernah mikir ga sih, kalau seandainya Mama itu ga diem terus, mungkin masalah Bayu ini ga akan rumit gitu?”
“Maksudmu gimana?”
“Gini, Ko. Aku merasa Mama itu sebagai istri perlu speak out. Ojo diem ae (Jangan diam saja). Kalau Mama bisa lebih berani, Papa mungkin bisa decide lebih wise. Mungkin masalah ga akan berlarut-larut.”
Kerutan di dahi Ming makin dalam. “Kok Mama, Ta? Apa hubungan e sama Mama?” cecar Ming.
“Ya, ini salah Mama lah, Ko. Sebagai istri, kalau Papa ragu-ragu, Mama yang harus e isa backing Papa, supaya semua dibuka, diselesaikan baik-baik. Ojo ndhelik-ndhelik gini (Jangan sembunyi-sembunyi begini).”
Alis Ming kini menyatu di tengah dahinya.
“Betul toh, Ko? Mama itu kurang berani ambil risiko. Kayak Ibu gitu loh. Kalau tahu itu sesuatu yang benar dan harus dilakukan, ya–“
“Harus bonek, gitu?” potong Ming.
“Iya! Coba Mama lebih wani (berani), mungkin cerita e beda.”
“Kamu dewe, wes wani gitu? (Kamu sendiri, sudah berani?)”
“Maksud Koko?”
“Itu soal John belum kamu beresin. Kamu janji apa? Seratus hari Papa tinggal tiga minggu loh.”
Martha terdiam. Tiba-tiba pikirannya kosong, lidahnya kelu.
“Toh, moro meneng (Ya, ‘kan, tiba-tiba diam).”
Martha menunduk. Ia menutup wajah dengan kedua tangannya.
“Wes, ga usah pura-pura nangis! Ga mempan senjatamu itu.” Ming mengacak rambut di puncak kepala Martha.
Martha mengintip dari balik telapak tangannya.
“Ayo, keluar, makan. Bakso kikilmu nunggu.”
“Koncoi (Temani), ya?” tawar Martha sambil melirik pada Ming.
“Ya. Cepetan.” Ming beranjak dari tempat tidur Martha.
Tiba-tiba tangan Martha menarik tangannya.
“Gendong,” rengek Martha.
“Ya ampun, segede gini minta gendong.” Ming mendelik menatap Martha yang merajuk.
Martha menggoyang-goyangnya tangan Ming yang dipegangnya.
“Kok nyimut? (Kok enak banget?)”
“Koo …,” rengek Martha.
“Iya, iya wes.”
Dengan setengah terpaksa Ming duduk di pinggir tempat tidur Martha, mengantisipasi adiknya naik ke atas punggung. Benar saja, ia kepayahan, adiknya berat juga. Ming menggeram ketika berusaha berdiri, lalu perlahan membawa Martha melangkah keluar kamar.
Begitu pintu terbuka, mendadak beban itu hilang dari punggung Ming, digantikan dengan sebuah cubitan di pinggangnya. Dan sebuah senyum simpul muncul di wajah seorang yang duduk di sofa ruang keluarga.




