Sampai suatu saat saya sadar,strategi berteriak dalam mendisiplin sangat menghabiskan energi. Jadi saya segera mendemonstrasikan sebuah langkah baru saat si bungsu bersikap bak mandor andal.
“Kalau mau suruh-suruh Mama, harus cium pipi Mama dulu. Pipi yang ini… Terus di sebelah sini.. “
Kami menikmati momen tersebut, bahkan bisa tertawa terkekeh-kekeh. Meskipun besoknya si bungsu mencoba bossy lagi, minimal saya mengetahui ada cara untuk mengelola kemarahan dalam level yang berbeda.
Si tengah juga punya cerita sendiri. Ia kekeuh ingin memakai rambut palsu, agar bisa terlihat seperti Michael Jackson. Setiap hari si tengah meminta dibelikan rambut palsu keriting. Ia memang sangat mengidolakan King of Pop.
Daripada capek berdebat dengannya, suatu hari saya mengajaknya ke salon untuk potong rambut. Di sana saya meminta pemilik salon memberikan rambut palsu keriting untuk dicoba si tengah. Setelah mencobanya, sirnalah keinginan si tengah untuk memiliki rambut ala Jackson. Ia merasa tidak cakep, hehehe…
3. Bantu anak menemukan bakat terpendam
Si sulung menjadi suka sekali bermain gawai untuk mengusir rasa kejenuhan sepanjang pandemi. Sampai di suatu titik ia merasa bosan, dan berusaha mencari kesibukan mengisi waktu luangnya. Kemudian ia mengusir rasa sepi dengan memainkan suling.
Momen ini tidak saya sia-siakan. Saya mengajaknya untuk berduet memainkan beberapa lagu rohani. Tentu saya memilih yang cukup mudah sebagai latihan pemanasan. Ternyata ia menjadi ketagihan. Kami bisa menjalin bonding melalui kegiatan bermain musik bersama.
Tentu saja perasaan bosan masih akan menyapa sepanjang perjalanan. Mungkin ada beberapa ruang gagal yang masih saja terbuka, sekeras apapun kita berusaha sebagai ibu. Namun percayalah, kita masih bisa mengupayakan hal lain.
Mewujudkan parenting goal bukanlah sebuah hal yang muluk-muluk. Selama kita masih mau berproses dan bertumbuh, kita akan diperkaya dari aneka pengalaman yang ada. Bahkan termasuk dari kegagalan kita hari ini. Selamat bertumbuh. Salam stay waras!






