Seakan tahu maksud Martha, Ida melanjutkan kisahnya, “Kebetulan. Kebetulan Ibu sedang makan di warung. Kebetulan dengar ada yang cari pegawai untuk jaga toko. Kebetulan ketemu yang punya, dan percaya sama Ibu yang bahkan belum punya KTP waktu itu.”
Tenggorokan Martha mendadak kering. Tak tahu harus bagaimana, ia mengambil cangkir wedang jahe, dan menyeruput minuman hangat itu.
“Lalu?”
“Papa banyak menolong. Ibu punya tempat tinggal, boleh tinggal di toko. Punya penghasilan, dan bayarannya lumayan. Itu pertama kalinya merasakan pegang uang sendiri. Dan akhirnya punya KTP,” Ida terkekeh mengenang.
“Setelah itu, ada udang di balik batu? Ada pamrih setelah semua yang diberikan buat Ibu?” Martha bertanya dengan batin yang penuh amarah. Dia pikir tidak ada alasan yang dapat membenarkan maksud tersembunyi yang dibalut kebaikan. Niat jahat tetaplah pahit sekalipun dibungkus gula yang paling manis.
Ida menggeleng.
“Ibu nggak merasa seperti itu, Ta. Justru ketika Papa menyatakan maksudnya, Ibu seperti terbang.”
Dahi Martha terangkat, pikirannya dipenuhi rasa heran. Bukankah Ida lari dari rumah karena tak mau dijadikan madu, mengapa justru merasa bahagia dengan tawaran itu?
“Keluarga Ibu aja nggak peduli dengan kehidupan Ibu. Tapi, dengan Papa beda. Ibu merasa … dicintai … dilindungi.”
—
Ida duduk berlunjur di tanah, bersandar pada dinding kayu rumahnya. Badannya pegal. Setelah pulang dari kebun, ia masih harus mengurus para keponakannya. Semua tugasnya sudah selesai. Budi, kakak iparnya, baru menjemput anak-anak.
Akhirnya ia bisa bernapas lega. Baru saja ia menikmati istirahat, ada suara keras yang memanggil namanya.
“Ida!”
Belum sempat ia berdiri untuk membuka pintu rumah, Siti, kakak sulungnya muncul dengan raut wajah geram.
“Kamu sudah pikir baik-baik? Besok Pak Sidik minta jawaban.” desaknya agar Ida segera mengambil keputusan.
“Aku sudah bilang ndak mau, Mbak.”
“Pikir kamu!” Siti membenturkan jari telunjuk berkali-kali pada pelipisnya sendiri, menyuruh Ida menggunakan akalnya. “Kalau kamu mau dikawin, Pak Sidik janji mau kasih kita tanah yang di desa sebelah. Tanah itu bisa dijual buat bayar hutang Bapak.”
Ida menghela napas, “Mbak, aku bisa kerja lebih keras, kumpul uang untuk bantu bayar hutang Bapak.”
“Ida, Ida!” seru Siti kesal, kakinya dihentak ke tanah. “Kalau kamu jadi istrinya, kamu bisa hidup enak, Da. Tanahnya Pak Sidik itu ada di mana-mana. Banyak gadis di desa ini yang mau jadi istri Pak Sidik, dan beliau pilih kamu.”
Ida menegakkan badan, mendongak menatap kakaknya. “Gadis lain mau, aku ndak mau, Mbak. Apa kemarin Mbak ndak lihat matanya jelalatan begitu? Istri Pak Sidik sudah 2, Mbak. Itu yang orang tahu. Siapa tahu masih ada gundik yang disembunyikan.”
Sesaat mereka saling beradu pandang. Kakak dan adik saling menatap seperti musuh bebuyutan.
Ida memutus kontak mata, lalu menegaskan kembali, “Pokoknya aku ndak mau, Mbak. Ndak apa hidup susah. Masih ada atap di atas, masih punya tangan untuk kerja bantu Mbak dan Mas Budi.”
Siti mendengus kesal. “Rumah ini mau aku jual. Kalau kamu ndak mau dikawin Pak Sidik, kamu keluar dari sini.”
Ida sontak berdiri. Dipegangnya tangan Siti, memohon dengan sangat. “Mbak, ini rumah Bapak. Si Mbok pesan rumah jangan dijual. Aku bakal kerja lebih keras untuk bayar hutang Bapak.”
Siti menghempas tangan Ida. “Dikasih jalan keluar, kamu yang nolak. Sudah, Mas Budi dan anak-anak nunggu aku. Buang-buang waktu aku bicara sama kamu. Adik ndak berguna!”
Air mata mengalir deras, membasahi pipi Ida dan mengalir hingga lehernya. Tak bisa berbuat apapun, tubuhnya lemas, ia terduduk di tanah, alas rumahnya. Aliran air matanya membasahi tanah di hadapannya.
Dia tak mungkin minta bantuan kepada kakaknya yang lain. Sekarang ini, Siti yang menentukan segala hal yang berkaitan dengan keluarga mereka. Keenam kakak lainnya tak bakal melawan pendapat Siti.
Ida sudah tak punya pilihan lagi. Putus sudah asanya. Mungkin memang ia harus pergi. Jauh. Menghilang dari kampung halamannya.
Mbok…. Batin Ida hanya sanggup meratap.
—
Pandangan Ida menerawang, kenangan itu datang silih berganti, satu demi satu.
“Bu, maaf kalau pertanyaan saya kedengaran sedikit … lancang. Tapi, kenapa Ibu akhirnya mau jadi … istri muda? Kan Ibu lari karena nggak mau dijadikan istri ketiga?”
Martha tak bisa lagi membendung rasa ingin tahunya. Ia harus tahu.
“Papa kesepian. Butuh penghiburan. Istri sakit-sakitan, usaha naik-turun. Waktu itu toko juga harus tutup, karena terus rugi.”
Otak Martha bekerja keras. Apa mamanya pernah sakit keras? Mamanya adalah orang paling sehat dalam keluarga mereka. Usaha papanya pernah bangkrut? Kata kukunya justru papanya membawa hoki buat usaha Yeye. Apa ini berarti papanya seorang penipu ulung?
“Waktu itu Papa terus terang bilang, mungkin nggak bisa memberi hidup yang berlimpah-limpah, tetapi ada tempat tinggal yang nyaman, cukup makan. Ibu sudah bahagia. Lalu ada Bayu.”
Martha masih mencoba memproses semua informasi yang dia terima. Ia masih kebingungan dengan cerita Ida yang sepertinya tidak sikron dengan yang dia ketahui selama ini. Ada sesuatu yang hilang dari cerita itu.
Dia akhirnya memberanikan diri bertanya. “Bu, maaf lagi. Saya nggak ngerti. Papa yang Ibu maksud ini … Papa saya, ‘kan? Papa Ah Lung?”
Ida menatapnya dengan pandangan yang aneh.
“Loh, selama ini kamu pikir Bayu itu anak papamu?”
Martha menelan ludahnya, lalu mengangguk lesu.
“Bukan, Ta. Bayu bukan anak Ah Lung.”




