“Kemarin malam. Kemarin malam setelah Meta keluar dari apartemen kami, satu sayatan ini ada. Di dapur. Bodoh memang! Menyayat pergelangan tangan sendiri saja tak berhasil, bagaimana bisa merebut Meta kembali!”

Belum sempat bibir ini berkomentar, bibir yang nampak terkelupas di sudut nya kembali bergetar tanpa kalimat keluar. Terburu tangkupan jemari ini meraih gelas kopi, dan menyodorkan ke arah bibir tersebut. Dari sekian banyak pengunjung yang mencurahkan hati selama ini, kali pertama ini menyoal tentang usaha bunuh diri. 

“Meta sudah merindukan buah hati, juga saya. Bukan berarti harus menyertakan pihak ketiga kan. Bisa saja menjalani program bayi  tabung!” 

Sederet curahan hati kemudian menyusul kalimat kedua tadi. Saat lelaki tersebut menyeka air mata, sudut mata saya arahkan ke jam dinding. Sekerat roti di dapur mungkin sudah lenyap di tangan Hans. Kedai kopi hanya memperkerjakan dua pengantar pesanan, satu barista merangkap manajer dan diriku sebagai tukang roti. 

“Mba, ada kah pekerjaan yang bisa saya lakukan di kedai ini? Saya perlu tempat berteduh jika diperbolehkan.”

Menyedihkan memang saat sudah berkorban ternyata rencana baru tak berujung sesuai harapan. Kebahagiaan yang digantungkan pada orang lain memang tak bisa bertahan lama. Sama seperti diri ini yang selalu berharap lebih pada para kekasih yang berahkir menyandang status sebagai mantan.

 “Mba, bener apa yang dikatakan Romo sesaat sebelum menanda-tangani surat persetujuan saya mengundurkan diri.”

Tanpa menunggu pertanyaan dari diriku terdengarlah, “ Jangan berharap pada manusia, sebab ia tak lebih dari pada embusan nafas, dan sebagai apakah di dapat dianggap.”

Sejak saat itu, kedai dihuni Yudi yang menebus pembelian kasur lipat dan biaya perceraian dengan gaji pertama sebagai barista. Iya perceraian dari pernikahan yang susah payah diperjuangkan awalnya sudah diselesaikan dengan ekspresi datar dari Yudi. Ya sejak detik palu diketukan, mulailah menghilang seluruh emosi pada lelaki seiring urat dahi nya juga memudar.          

 “Bos, Bos menunggu saya? Kata Yudi begitu!”

Suara perempuan terdengar sesaat setelah aroma strawberry menyusup rongga hidung.  Perempuan bernama Winnie memang selalu identik dengan buah strawberry, mulai ujung kaki hingga aroma yang keluar saat bibirnya berucap. Dia memang sudah setuju berpantang mengepulkan asap jika kakinya sudah melngkah masuk kedai. Kami memang berusaha hanya roti menjadi satu-satunya aroma yang menjadi tuan rumah kedai ini.

“Iya, duduklah. Apa yang ingin kamu katakan tentang Daniel?” 

“Dia ayah biologis Rahel. Tapi tak pernah tahu bahwa bibit yang dia tabur  sudah berbuah. Keluarga besar saya sepakat menjauhkan kami sebelum dia ditangkap. Saya juga tak ingin menyingkapnya tapi kalau mereka bertemu maka kemungkinan besar saling mengenali. Jadi saya mohon agar jadwal kerja kami tidak pernah jadi satu.”

Déjà vu ingatan tentang suatu peristiwa, keadaaan, tempat yang tak asing dialami walau baru pertama kali dijalani. Sewaktu seusia Rahel, ibu juga menyatakan hal senada pada pemilik restoran agar meluluskan permohonannya. Alhasil Brandon tak pernah bertemu ayah biologisnya. Entah mengapa ibu selalu saja jatuh cinta pada berandalan. Brandon sebagai anak laki-laki satu-satunya entah akan jadi apa kelak. Kata orang, buah jatuh tak jauh dari pohonnya.

“Hei anak kecil! Tak usah kau pegang pisau segala. Mau jadi pembunuh seperti bapakmu ya!”

Teriakan yang selalu berulang kala para tetangga melihat pisau lipat yang ternyata dengan mudah berayun di jemariku. Apa aku akan jadi pembunuh juga?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here