Apalagi wawancara khusus, bukan pers conference. Ternyata jawaban beliau sungguh melegakan. Bukan saja bersedia, tokoh yang terus-menerus mengumandangkan kebutuhan Indonesia akan usahawan mandiri ini bahkan mengundang saya dan kameramen untuk mewawancarinya di rumahnya.

Istri Pak Ci pun luar biasa. Saat sarapan dengan beliau, isterinya mengatur makanan kami. Selesai wawancara, kami diajak melihat belakang rumahnya yang berhadapan langsung dengan lapangan golf. Ada beberapa patung yang membuat halaman rumahnya tampak indah. Ciputra memang penggemar seni yang luar biasa.

Dinding rumahnya dipenuhi lukisan para maestro lukis Indonesia, khususnya Jeihan. Lukisan pelukis top tanah air ini ditandai dengan mata yang hitam legam. Sebagian lukisan Pak Ci sampai dipasang di atap rumahnya. “Kehabisan tempat,” ujar Pak Ci terkekeh kala itu.

Usai wawancara dan beramah tamah di rumahnya, Pak Ci mengantar kami sampai di depan rumahnya. Sungguh pribadi yang sangat mengesankan.

Yesus Kristus, tokoh yang dimuliakan oleh Pak Ciputra, pernah berkata, “Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.”

Jumlah pelayat yang begitu besar termasuk para petinggi negara sampai rakyat jelata yang setiap hari mengalir ke rumah duka bahkan sampai lewat jam yang ditetapkan, menjadi bukti nyata ucapan Yesus itu. Keluarga tidak menolak siapa pun yang datang, bahkan sampai larut malam. 

“Pak Ci bukan saja miliki keluarga sekarang, tetapi milik banyak orang,” demikian penjelasan pihak keluarga.

Selamat jalan Pak Ci!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here