Tujuannya apa lagi kalau tidak membuat suasana kurang kondusif. Turis asing jadi was-was, bahkan yang belum berangkat bisa jadi  membatalkan kunjungannya ke Indonesia. Berita-berita semacam ini membuat Indonesia seakan-akan menjadi negeri yang mencekam. Jika hal ini dibiarkan terus-menerus, tentu saja akan mengganggu stabilitas nasional dan akhirnya merugikan kita semua.

Mengapa semua ini terjadi?

Ada tiga hal yang saya amati dari ledakan di Monas pagi ini:

Pertama, suhu politik yang perlahan-lahan mulai mendingin, ternyata tidak seluruhnya begitu. Masih ada sisa bara di dada. Pendeknya, masih ada orang-orang yang belum bisa move on. Gejalanya apa? Komentar para netizen yang masih saja saling serang.

Kedua, kesukaan orang-orang tertentu untuk menggoreng berita. Apa saja digoreng. Seperti kerupuk, peristiwa receh pun bisa digoreng sehingga membesar. Ada warganet yang berkomentar, negeri +62 ini memang suka sekali melakukan hiperbola. Bukan hanya melebih-lebihkan, bahkan memutarbalikkan fakta. Saya tersenyum sendiri saat membawa komentar warganet yang mengatakan bahwa negeri ini kekurangan berita sehingga peristiwa sepele pun bisa jadi berita.

Ketiga, ini yang saya kuatirkan, ada orang-orang tertentu yang tidak ingin negeri ini aman. Tujuannya? Apalagi kalau tidak meruntuhkan kredibilitas pemerintah. Dengan demikian, mereka yang patah arang ingin agar semuanya jadi arang. Jika aku kalah, semua harus kalah. Begitu kira-kira.

Mari memerangi musuh bersama dan membangun negara kita tercinta. Jangan karena ada tikus di rumah, seluruh bangunan kita bakar.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here