Video semacam ini, yang dibuat dengan kesadaran penuh kedua belah pihak – baik pasangan resmi atau tidak, dianggap sebagai sebuah variasi dalam hubungan intim yang merekatkan keduanya.
Sayangnya, video yang mestinya untuk konsumsi pribadi itu bisa ‘bocor’ dan menyebar luas. Siapa yang malu jika hal seperti ini sudah terjadi?
Tentu saja pihak laki-laki.
Terlebih lagi perempuan. Tubuh dan aksinya kini dapat dinikmati siapa saja. Dan tak mungkin terhapus dari internet.
2. Menunjukkan Dominasi terhadap Partner Seks
Pada umumnya, beberapa laki-laki mengusulkan, mendesak, bahkan memaksa perempuan pasangan seksualnya untuk membuat rekaman hubungan intim mereka. Alasan yang mengemuka sering kali adalah untuk kenang-kenangan alias ada sesuatu yang dapat dilihat kembali di saat-saat tertentu. Namun, sebenarnya ada unsur dominasi alias penguasaan di balik alasan yang terungkap itu.
”Ya, saya suka saja sih, Pak Wepe, melihat ekspresi pacar saya saat kami sedang making love. Saya merasa puas dan bangga bisa membuatnya bersedia melayani saya. Awalnya pacar saya tidak mau direkam. Saya rayu, saya bujuk, dan setengah memaksa dengan ancaman akan meninggalkannya. Akhirnya ia tunduk juga dan mau direkam saat kami sedang berhubungan seks. Puas banget,” begitu tutur seorang pemuda dalam sebuah percakapan.






