Saya tidak mengira, ia akan meniru kata-kata saya. Permintaan untuk “tidak ikut-ikut” kerap saya lontarkan pada Dave sang kakak, saat ia hendak menjadi partner bayangan dalam mendisiplin Jojo.
Dengan merendahkan suara, saya berujar, “Minta maaf dulu, Jo. Kalau Jojo masih gak mau, harus didisiplin.”
Jojo menunjukkan perlawanannya dengan berteriak kencang. Air matanya mulai menganak-sungai, dan ia menolak untuk didisiplinkan.
“Pilih, ya, mau discipline chair atau discipline pool,” kejar saya.
Discipline chair adalah teknik time out yang dilaksanakan di sebuah kursi. Anak diminta duduk tanpa boleh bergerak ke mana-mana sampai masa time out dinyatakan selesai. Pada perkembangannya, teknik ini sudah tidak bisa berjalan efektif. Inilah saatnya meningkatkan level, menjadi “Discipline pool”, di mana kolam kosong yang besar akan menjadi media time out baru bagi Jojo.
“Jojo masih ga mau minta maaf. Mama yang pilihin disiplinnya, ya. Ayo discipline pool, sampai Jojo mau minta maaf,” kata saya perlahan.
Jojo meronta kencang. Di sisi lain pun saya menguatkan hati untuk konsisten.
Memasukkan Jojo ke dalam kolam kosong yang dikelilingi kaca sungguh bukan sesuatu yang menyenangkan. Jojo dibiarkan menangis selama 3,5 menit, hingga akhirnya mau minta maaf dengan keikhlasan hati.






