Dari hasil quick count kita sudah tahu siapa yang menang. Meskipun begitu, kedua caprew-cawapres sepakat untuk menunggu pengumuman resmi KPU. Sementara itu, marilah kita cooling down. Lelah rasanya selama 8 bulan rakyat Indonesia riuh, terutama di media sosial. Setelah bising dengan suara gaduh, sudah saatnya kita bersaat teduh.
Yuk, Renungkan Tiga Hal Ini:
Pertama, rambut di kepala bisa berbeda warna.
Kadang bahkan justru ada yang memilih untuk menggundul kepalanya. Itu hak setiap orang. Selera, mengapa harus sama? Tahanan diberi kostum dengan warna yang sama agar memudahkan untuk pendataan dan jika melarikan diri gampang terlihat.
Demikian juga dalam satu keluarga. Setiap keluar bersama, keluarga kami pun sering riuh. “Mau makan di mana?” itulah pertanyaan standar yang suka untuk diputuskan. Jalan keluarnya? Diserahkan kepada yang pegang setir.
Kedua, Jika pilihan berbeda, tidak usah saling mencela
“Kok Papa suka Pete sih?”
“Mengapa Mama tidak doyan Sashimi?”
“Kok Adik bisa suka Kebab?”
“Mengapa Kakak suka Expresso?”
Bertanya boleh, marah jangan.
Suatu kali saya diundang mahasiswa Monash University, Melbourne, untuk seminar tulis-menulis. Kami dijamu di sebuah Restoran Sashimi. Begitu melihat Sashimi yang begitu melimpah ruah di atas meja, wajah anak-anak langsung cerah, secerah wajah papa mereka.
Tiba-tiba istri saya memanggil pramusaji dan berkata, “Tempura, please.”
Ketiga, sedih dan gembira dijalani bersama
“Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!” ujar St. Paul. Saya setuju. Itulah yang bernama empati. Jika anggota keluarga sedang senang, kita ikut riang. Saat ada yang sedih, kita ramai-ramai menghibur dan memberi kekuatan. Itulah artinya sebuah keluarga.
Baca Juga:
Lebih dari Sekadar Uang, Tiap Keluarga Membutuhkan Satu Hal Ini Agar Terjaga Keutuhannya






