3. Di balik orang pelit, selalu ada sisi lain
Ternyata meskipun tampak pelit luar biasa, si bos ini mempunyai sisi lain yang patut dipuji. Hatinya gampang tersentuh dengan kehidupan orang lain yang sedang susah.
Ketika seorang karyawannya—Ratj—menderita sakit, dia spontan mengeluarkan sejumlah uang sambil berkata, “Pergi berobat sana.” Sambil menyodorkan uang, dia meminta karyawan itu untuk merahasiakan pertolongannya. Jika tangan kanan memberi, tangan kiri tidak boleh tahu. Begitu prinsipnya. Bandingkan dengan orang yang menyumbang nasi bungkus untuk korban bencana alam dan mengajak wartawan untuk meliputnya.
4. Tidak malu mengakui kelemahannya sendiri
Salah satu hal yang paling menonjol dari bos yang satu ini adalah sifatnya yang suka pamer. Jika di My Stupid Boss pertama, dia memamerkan mobilnya sambil berkata, “Mahal lho itu!” kali ini dia memamerkan moge alias motor gedenya.
Apa yang Anda rasakan ketika melihat orang yang suka pamer? Jengkel bukan? Namun, saya percaya, justru di sinilah uniknya si bos. Dia sengaja memamerkan kelebihannya untuk menyindir setiap kita yang suka pamer kelebihan kita.
Ada orang kaya yang begitu tega mengeksploitasi orang miskin agar semakin kaya. Ada juga orang miskin yang meskipun tidak mampu bekerja namun menuntut gaji yang tinggi. Sebagian buruh Vietnam yang hendak direkrut si bos menggambarkan hal ini. Apakah semua tenaga kerja Vietnam seperti itu? Pasti tidak! Buktinya banyak perusahaan besarnya yang justru memindahkan pabriknya ke sana.
Jadi, bagi saya pribadi, film ini merupakan cermin yang baik untuk menggambarkan kehidupan orang kaya pada saat ini, sekaligus menyoroti kehidupan orang miskin.
Baca Juga:
9 Inspirasi Pendidikan Anak bagi Orangtua dari Seri Drama Korea Laris “Sky Castle”
Relasi Keluarga Nyata dalam Kelindan Dunia Maya: Review Film “Searching” [Major Spoiler Alert]






