Kembali pertanyaan yang saya utarakan beberapa bulan lalu meluncur lagi, “Masih bisa coba normal kan, Dok?”
Dokter hanya tersenyum simpul seraya menjawab, “Masih zaman ya berdebat normal atau Caesar? Ya asal tekanan darah normal, semua baik, kita masih bisa coba normal. Yang terpenting ibu dan bayi selamat.”
Seperti demi menghibur saya, dokter melanjutkan, “Bulan depan kita lihat lagi; tekanan darah normal, tidak ada komplikasi lain, posisi kepala bayi di bawah, posisi plasenta tidak menutup jalan lahir, tidak ada lilitan, semua baik, kita tetap bisa coba normal.”
Lalu?
Minggu itu, serasa tahu pembicaraan di ruang dokter, beberapa saudara dan kerabat menanyakan perihal rencana persalinan. “Kan sudah lewat 2 tahun, jadi bisa normal donk?”
“Enak normal loh, selain pemulihan lebih cepat, biaya juga lebih ekonomis.”
“Emangnya kamu ngga pengen coba lahiran normal?”
Alih-alih tenggelam dalam emosi dan gengsi, saya mencoba berpikir logis saja. Waktu pemulihan pastilah bergantung pada masing-masing individu. Seorang kawan pernah bercerita tentang luka bekas sayatan operasi yang masih terasa nyeri bahkan setelah satu tahun pasca persalinan. Saya tak merasakan nyeri yang demikian. Ada juga teman yang mengatakan biaya operasi Caesar yang setara dengan uang muka pembelian apartemen tipe studio. Ya…semua itu bergantung pada rumah sakit dan fasilitas yang kita pilih; melahirkan Caesar tak harus menguras tabungan.
Kemarin, dalam perjalanan menuju praktik dokter untuk kontrol, saya ngobrol dengan suami,”Jadi, kita mau pilih normal atau caesar, in case dokter tanya lagi.”
Suami yang menyetir terdiam sejenak, lalu menjawab, “Ya kamu sreg yang mana loh?”
“Pengennya bisa normal. Bisa merasakan lahiran normal itu seperti apa. Biayanya kan juga lebih rendah. Tapi ya ndak mau maksa lah. Kata dokter kan yang penting dua-duanya selamat dan sehat. Wes, itu yang penting. Jangan karena gengsi atau karena omongan orang, melahirkan malah jadi beban.”
Suami pun merespons, “Iya, daripada tekanan darahmu naik mendadak lagi.”
Bukan Soal Cara Melahirkan, Tapi Satu Hal Hakiki Ini
Kami masih belum memastikan apakah akan melakukan persalinan dengan cara normal atau operasi Caesar. Menghadapi pertanyaan banyak orang yang kami jumpai, penjelasan detail hanya kami berikan pada mereka yang tentu kami percaya. Sisanya, kami hanya minta mereka mendoakan yang terbaik.
Kalau bisa melahirkan normal, tentu kami bersyukur untuk pengalaman baru yang belum pernah kami lewati sebelumnya. Namun, cara ini pun tak akan membuat saya lebih merasa utuh sebagai seorang perempuan. Kodrat dan identitas saya sebagai seorang perempuan telah ditetapkan Sang Pencipta sejak saya ada di kandungan Mama saya.
Melahirkan secara normal pun tidak membuat saya menjadi perempuan yang lebih super daripada perempuan lain yang tidak atau belum pernah menjalani persalinan secara normal. Saya banyak menjumpai perempuan hebat dan tak pernah sekalipun orang mendefinisikan kemampuan mereka dari pengalaman persalinan. Perempuan hebat adalah mereka yang menerima diri seutuhnya dan terus berkarya bahkan berjuang melampaui keterbatasan diri untuk membawa manfaat bagi banyak orang.
Kalau tetap harus melahirkan lewat jalan Caesar, saya pun tetap bersyukur. Kemajuan medis memberi pilihan demi kesejahteraan saya dan bayi yang ada di kandungan ini. Pilihan ini pun bukan karena saya malas atau tak mau berusaha menjadi “perempuan seutuhnya”, tetapi karena saya memilih yang terbaik dengan pertimbangan yang matang.
Saya tetap menjadi ibu dari anak-anak yang saya lahirkan lewat sayatan di perut. Saya tetap menanggung beban selama 9 bulan dan tetap akan berjuang membesarkan mereka dengan sepenuh hati. Melahirkan dengan jalan operasi tak membuat saya menjadi ibu yang lebih buruk dan tidak mengurangi kadar cinta saya kepada anak-anak yang telah dipercayakan oleh Sang Pemilik Kehidupan.
Apapun pilihannya dan apapun yang akan kami jalani beberapa minggu nanti, saya yakin bahwa yang terpenting dari perjalanan ini adalah menghargai hidup yang dianugerahkan oleh Sang Khalik, hidup saya dan hidup anak-anak.
Menghargai diri tanpa gengsi adalah penghargaan tulus yang bisa saya berikan untuk diri sendiri dan mengasuh anak-anak dengan sepenuh hati adalah pantulan kasih Sang Mahamurah yang bisa saya berikan untuk mereka.
Doakan saya ya! Sama seperti saya juga mendoakan ibu-ibu yang berjuang di luar sana! You are not alone!
Baca Juga:
Kembali ke Ukuran Asal: Perjalanan dan Pelajaran dari Celana Pra-Kehamilan






