Bukan saja Rachel Chu berdandan habis-abisan bak peragawati kelas atas, tetapi dengan kepala tegak dia berani menghadiri pemberkatan nikah sahabat Nick Young di sebuah gereja yang dekornya saja menghabiskan uang jutaan dolar (kalau tidak salah dengar malah 40 juta dolar). Rasa percaya dirinyalah yang membuatnya berani menantang, bahkan mengundang calon mertua galak untuk pertemuan empat mata.
“Just because some people actually work for their money doesn’t mean they are beneath you,” ujarnya galak.
3. Kemenangan yang diraih dengan susah payah layak dirayakan
Saat bertemu empat mata dan mengalahkan calon mertuanya dalam permainan mahjong, Rachel Chu melontarkan senjata pamungkasnya. Segalak-galaknya wanita, dia seorang perempuan juga. Sejahat-jahatnya orang, lady sekelas Eleanor yang highly educated, tersentuh juga oleh ucapan cerdas sekaligus sebening kristal yang disemburkan Rachel Chu.
“I just love Nick so much. So I just wanted you to know that one day, when he marries another lucky girl who is enough for you, and you’re playing with your grandkids while the Tan Hua’s are blooming and the birds are chirping … that it was because of me.”
Ucapan Rachel Chu tanpa tetesan air mata ini justru menguras air mata penonton. Saya tengok dokter yang duduk di sebelah saya mengusap air matanya.
Film ini dipamungkasi dengan kembalinya Rachel Chu dan mama tercinta. Mereka berdesakan naik ke kelas ekonomi, kelas yang memang cocok dengan habitat mereka. Beberapa saat sebelum pintu pesawat ditutup, Nick Young datang, berlutut dan melamar Rachel Chu dengan cintin permata yang biasa dikenakan mamanya. Artinya? Pernikahan mereka disetujui Eleanor yang rupanya lumer oleh pamor calon menantunya.
Meskipun ending-nya bisa saya tebak, happy ending ini membuat saya sungguh bahagia.






