2. Informasi yang Salah
Celakanya, anak-anak tidak memiliki cukup informasi untuk melawan apa yang mereka lihat. Semua yang ‘tak sengaja’ mereka lihat langsung masuk ke dalam ruang informasi pikiran mereka tanpa ada penyaring. Teman-teman mereka yang lain pun bisa jadi memiliki informasi yang juga tidak tepat. Dan apa jadinya ketika informasi yang tidak tepat itu dibagikan kepada teman lainnya?
3. Dosa yang Tak Bisa Diampuni
Bagi beberapa anak, pola pendidikan keluarga turut mengambil bagian di dalam urusan seks ini. Seks dan alat kelamin menjadi topik yang tabu untuk dibicarakan. Anak-anak menjadi sangat takut untuk terbuka kepada orang tua. Padahal semestinya, orang tualah yang paling cocok untuk memberikan informasi ini.
Suatu kali, Deon, anak kami yang berusia 8 tahun bertanya, “Pah, kenapa sih orang itu kalau ciuman tutup mata?”
Ketika pertanyaan itu telontar dari mulutnya, otak saya langsung berpikir, “Aduh, ini anak nonton di mana? Pasti dia lihat sesuatu!” Meskipun begitu, saya mencoba menahan diri untuk tidak bertanya demikian. Sebaliknya, saya berusaha menangkap peluang untuk memberi pendidikan seks kepadanya.
“Iya, Bang, ciuman itu kan ekspresi sayang. Jadi orang mengungkapkannya dengan menutup mata. Tuhan menciptakan kita dengan kemampuan untuk menyatakan kasih melalui ciuman.”
Lalu Deon pun meneruskan pertanyaannya dengan cerita, “Iya, Pah. Deon kalau lihat orang menikah itu, kan ciuman, terus, kok, tutup mata sih!” [Di dalam hati, saya bersyukur dia mau cerita tanpa perlu saya tanya].
Saya mencoba menjawab lagi, “Abang tahu, kan, pernikahan itu Tuhan yang ciptakan. Tuhan ciptakan laki-laki dan perempuan supaya nanti bisa saling menyayangi. Jadi ciuman itu salah satu cara mengekspresikan perasaan pada orang yang Tuhan sudah kasih kepada kita.”
Tiba-tiba Deon menyela. “Deon sudah punya, Papah. Perempuan yang Tuhan kasih buat Deon. Iya. Ada di gereja, loh, orangnya!”
Sambil menenangkan hati, saya mencoba menjawab. Tarik napas dulu, tapi.
“Deon, semua itu ada waktunya. Menikah itu bukan hanya cinta tapi juga tanggung jawab. Harus ada yang dipersiapkan. Sekarang Deon fokus pada apa yang Tuhan percayakan dulu. Misalnya sekolah, les, jaga dedek, dan lainnya! Setelah semuanya selesai, baru nanti kita bahas itu. Tapi Deon boleh kok mulai berdoa untuk itu.”
Semua itu ada waktunya. Menikah itu bukan hanya cinta tapi juga tanggung jawab. Harus ada yang dipersiapkan. Share on XBaca Juga: Kaya atau Tampan itu Sekadar Bonus. Calon Suami Idaman Harus Memenuhi 3 Kriteria Ini, Kamu?
Betapa bersyukurnya saya untuk kesempatan berbincang-bincang itu. Walau singkat, tapi saya bersyukur karena ia mau bertanya kepada saya, bukan orang lain. Kesempatan yang sangat langka.
Kembali pada kisah pemuda di awal tulisan ini. Di akhir kisahnya, pemuda yang akhirnya telah menikah dan memiliki anak ini kemudian bertutur,
“Peran orang tua terlalu penting dalam hal pendidikan seks. Sejujurnya, saya sendiri tidak pernah mengerti awalnya mengapa seks itu hal yang penting. Kini saya mau memberitahu semua orang tua untuk menjaga relasi dengan anak remaja mereka. Jangan sungkan untuk menjelaskan pentingnya seks kepada mereka saat usia mereka masih remaja.”
Peran orang tua terlalu penting dalam hal pendidikan seks. Jangan sungkan menjelaskan pentingnya seks kepada anak saat usia mereka masih remaja. Share on XMenjadi orang tua bagaikan seorang anak bermain sepeda. Dia harus terus mengayuh tanpa berhenti, karena pada saat ia berhenti, ia akan jatuh dari sepeda itu.






