Rupanya ada netizen cerdas lainnya yang mengapresiasi apa yang Qimpink lakukan: “ini adalah komentar tercerdas di sini. Komentar yg lain dilakukan oleh orang yang cuma lihat judulnya lalu nge judge.” (Prikitiew Weleh Weleh)
3. Telusuri Sumber Asli sebelum Sok Ahli
Jika kita jeli dan peduli, baca komentar yang dikomentari. Saat menjabat sebagai pemimpin redaksi majalah populer, saya senantiasa mengingatkan para reporter untuk ‘cover both sides’ agar berita bisa berimbang dan tidak tendensius.
Saat membaca pernyatan model cantik itu kita justru bisa belajar arti cinta yang sejati.
“Kenapa aku memilih pria ini? Meskipun kami berbeda di semua hal, yang kami punya adalah cinta untuk satu sama lain,” kata Chaican.
Chaican mengajarkan kepada kita cinta sejati itu menghargai perbedaan. Namun, yang lebih utama lagi adalah saat pasangan kita berbeda karena usia atau faktor lain, cinta tetap kita jadikan panglima sehingga kita berjanji untuk tetap bersama dalam suka maupun duka, sakit maupun sehat, kaya maupun miskin sampai maut memisahkan kita. Setuju?
“Cinta kami bersemi dalam 5 tahun. Tolong jangan berpikir rendah pada pria yang bekerja untuk sedikit uang. Kami berdua bekerja sangat keras. Kami mengusahakan apapun yang kami miliki,” tulisnya.
Chaican mengajarkan kepada kita bahwa benih cinta perlu proses untuk bertumbuh. Bayangkan, lima tahun! Bukan lima bulan, lima minggu, lima hari, lima jam, lima menit, bahkan lima detik. Yang terakhir itulah yang sering kita sebut ‘jatuh cinta pada pandangan pertama’.
Namanya jatuh, ya sakitlah. Apalagi saat sadar bahwa orang yang kita ‘jatuhi’ cinta ternyata tidak seperti harapan kita.
Baca Juga: “Jika Jodoh di Tangan Tuhan, Bagaimana Mengetahui Pasangan yang Tepat untuk Saya?”
“Apa pun yang kamu makan, aku makan. Kemana pun kamu pergi, aku pergi. Demi kita, kamu menerima semua pekerjaan. Kamu tak pernah protes walau lelah. Ketika aku bersamamu, aku bahagia,” kata dia kepada sang pacar.
Saya paling suka dengan komentar Chaican terakhir yang mengingatkan saya akan cinta sejati seorang menantu, Rut, kepada mertuanya, Naomi:
“Janganlah desak aku meninggalkan engkau dan pulang dengan tidak mengikuti engkau; sebab ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, dan di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku bermalam: bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku; di mana engkau mati, akupun mati di sana, dan di sanalah aku dikuburkan. Beginilah kiranya Tuhan menghukum aku, bahkan lebih lagi dari pada itu, jikalau sesuatu apapun memisahkan aku dari engkau, selain dari pada maut!”
Janji Rut kepada Naomi itu dikutip dalam pernikahan seorang sahabat saya yang kini tinggal di Hong Kong. Saat mereka saling berjanji, langit menurunkan gerimis rintik-rintik yang membuat suasana pernikahan di alam terbuka itu begitu syahdu.
Saya bayangkan Tuhan menitikkan air mata haru saat melihat dua insan berpadu.






