Jika kita membenci seseorang hanya berdasarkan apa kata orang dan saat dibenturkan kenyataan bahwa orang tersebut tidak seperti bayangan kita selama ini, kita masih enggan untuk berpindah dari pijakan maya ke jejakan nyata. Bisa saja ada orang lain yang menyadarkan kita. Namun,
terapi terbaik datang dari dalam diri kita sendiri, yaitu kesadaran bahwa setiap orang bisa melakukan kesalahan, termasuk kita sendiri.
Muh. K. Anwar dengan jujur menulis: Maka ketika gempa menimpa kami, dan engkau datang berkunjung. Sy tetap tdk respek. Toh itu tugasmu pak presiden.
Maka ketika engkau datang ke Lombok Utara dan masyarakat pada menyambutmu, sy diam saja dan hanya melihatmu dari jauh dgn rasa sinis. Bahkan sy melarang anak istri untuk ikut larut dlm euforia kegembiraan menyambutmu. Padahal sy lihat istri sy pengen juga mendekat, ikut salaman bahkan berfoto2 spt yg dilakukan masyarakat lainnya.
3. Tidak ada kata terlambat untuk kembali ke hati nurani yang dimurnikan Tuhan
Penyesalan diri yang disebabkan oleh kesadaran diri merupakan pahala dari Yang di Atas. Anugerah itu pulalah yang membuat seseorang akhirnya bisa mengakui bahwa keyakinannya selama ini salah.
Sikap dan tindakan untuk mengakui kesalahan diri sendiri dan berani meminta maaf kepada orang yang kita salah pahami, bahkan kita benci setengah mati, merupakan kemenangan hati nurani yang kembali fitri.
Saat di luar sana banyak orang yang tetap berkeras hati menyangkali hati nuraninya sendiri, pencerahan yang kita dapatkan perlu kita syukuri.
Saya ikut terhanyut dan ikut mbrebes mili membaca surat Muh. K. Anwar berikut:
Sewaktu bapak presiden pamit untuk melanjutkan perjalanannya, barulah sy mendekat untuk ikut menjabat tangan itu.
Dgn lirih sy ucapkan terimakasih dan kata maaf yg mungkin tdk dimengerti oleh bapak presiden.
Dalam hati sy memohon pada sang khalik, maafkan hambamu yg sangat kejam membenci pemimpinnya ini.
Kulihat ketulusan pada wajah kurusnya, kulihat keteduhan pada matanya. Kulihat senyum tipisnya yg ikhlas sambil menjabat tangan sy. Ingin rasanya memeluk tubuh kurus yg keletihan itu sambil memohon maaf, ampun atas kesalahan2 yg kulakukan.
Tapi sy hanya bisa berkata pelan ” maafkan sy pak.”
Hanya itu yg keluar dari mulut sy, karna bapak presiden dgn cepat menjabat tangan2 yg lain.
Sy melihat punggung itu menjauh ditemani bapak gubernur kami TGB.
Sosok pemimpin2 yg baru saja memperlihatkan jatidirinya, tabiat dan karakternya, bukan pencitraan spt yg selama ini sy tuduhkan…
Dari surat terbuka Muh. K. Anwar yang saya baca di bulan Kemerdekaan ini, karena acara 17-an sudah dan masih berlangsung di sekitar kita, saya sendiri belajar untuk tidak terlalu cepat menghakimi seseorang sebelum saya mengenalnya. Jangan sampai like and dislike lebih mengalahkan pikiran waras dan hati nurani.
Saya ingatkan diri saya sendiri bahwa kita sudah merdeka, jangan sampai masih dijajah oleh gadgets dan hal-hal buruk yang disebarkannya.
Kita sudah merdeka, jangan sampai masih dijajah oleh gadgets dan hal-hal buruk yang disebarkannya. Share on X






