Sederhananya begini. Karena saya punya ortu—terutama ayah—yang disiplin dan tegas di rumah, ditambah sekolah di sekolah Katolik—yang terkenal disiplin dan tegas juga—maka saya sangat menghargai waktu. Saya hampir tidak pernah terlambat sekolah dan kuliah. Kebiasaan itu terbawa sampai saya bekerja dan menjadi dosen. Saya bahkan tidak pernah membolos mengajar. Kalau saya tidak bisa hadir di kelas—karena sedang tugas di luar negeri—saya sudah memberitahu kampus jauh-jauh hari sebelumnya. Jadi, saya bisa bukan karena saya luar biasa, melainkan karena terbiasa melakukannya sejak kecil.

Sebaliknya, kebiasaan buruk pun, berasal dari proses yang sama. Kalau dibiarkan—apalagi disirami dan dipupuk—kebiasaan ini menjadi keyakinan yang susah diubah. Hal yang sama diakui oleh Muh. K. Anwar di dalam surat terbukanya yang ditujukan untuk “bpk presiden RI” dan di alinea terakhir suratnya.

Di alinea pertama, Bapak Anwar menulis: Saya bukan pendukungmu, bahkan sy pembencimu. Sy tak rela engkau kembali jadi presiden.
Bukan karna harga2 pada mahal spt kata orang, toh kami masih pada mampu untuk belanja, padahal kami bukan orang mampu.
Sy menolakmu karna masalah idiologi, masalah kapasitasmu dan semua predikat tentangmu spt yg sy yakini selama ini.

“Maafkan sy bapak presiden. Maafkan rakyatmu yg tdk tahu diri, yg hanya mengenalmu dari opini2 dan sosial media.”

Keyakinan Bapak Anwar pasti disebabkan oleh persinggungan dan pengaruh orang-orang terdekatnya dan pengaruh luar yang datangnya tidak kita sadari dan tidak bisa kita bendung: media sosial.

Bahaya media sosial bukan karena kita membacanya, melainkan karena kita membaca apa yang cocok dan sesuai dengan apa yang kita ingini entah itu kebenaran atau kepalsuan.

Artinya, kalau kita sudah like atau dislike dengan seseorang, maka bacaan yang kita pilih pun berdasarkan preferensi kita. Cilakanya, kalau ternyata yang kita baca selama ini misleading. Daya nalar otak dan filter rohani kita, harus sering dibersihkan oleh Sang Khalik sehingga hasilnya pun jernih, bening dan tidak berbau.

Baca Juga: “Pak Jokowi Harus Jujur Pakai Stuntman!” Saat Seluruh Dunia Memuji, Ada Saja Netizen yang Sibuk Mencaci. Kenapa, sih?

 

 

2. Denial perlu ditindaklanjuti dengan kemauan untuk menerima kenyaatan

Di ilmu psikologi, salah satu defence mechanism yang kita pakai adalah denial. Contoh, seorang yang divonis kanker ganas bisa saja menipu dirinya sendiri dengan mengatakan “Aku tidak apa-apa kok.” Tujuannya? Di samping menutupi rasa takutnya, juga untuk menghindari orang lain menunjukkan belas kasihan kepadanya karena dia ‘malu’ menunjukkan kelemahannya.

Mekanisme pertahanan diri ini bukan hanya saat kita yang mengalami sendiri ‘kepahitan’ atau ‘kehilangan’ itu, melainkan juga bisa dialami orang lain. Misalnya, yang sakit parah itu anak kita, maka kita bisa saja menipu dia—yang sejatinya juga menipu diri sendiri—dengan penyangkalan yang berbunyi, “Kamu tidak apa-apa kok, Nak. Sebentar lagi juga sembuh.” Meskipun saat mengatakan hal itu hati kita bergolak dan mata kita menahan tangis.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here