Lisbeth langsung cemberut. “Aku bukan anak kecil!” Suara Lisbeth berubah kesal. Gantian tangannya yang bergerak dengan cepat. “Aku tahu dulu Bryan bagaimana. Bryan udah cerita semua! Kami sudah konseling.”
“Marriage life is different! Cici yang udah ngalamin!”
“Ci! Aku sudah dua puluh lima tahun! Bukan anak kecil. Kenapa Cici Livi selalu menganggapku anak-anak! Bryan sudah berubah. Sudah jadi baik.”
“Dia cuma pura-pura baik! Aslinya enggak begitu!” tangan Livi bergerak dengan lebih tegas. Penuh emosi, ia mengentak-entak tangannya, menekan tiap kata.
Mata Lisbeth menyipit. “Yang pacaran sama Bryan, Lisbeth. Bukan Cici.” Lisbeth mengoyang-goyangkan kelima jemari tangan kanannya membentuk kata tidak, lalu dengan emosi menudingkan jari telunjuknya ke arah Livi. Bukan kamu! Mata Lisbeth memelotot, lalu buru-buru ia bangkit lalu keluar kamar.
Liona mencolek Livi. “Mengapa bertengkar?”
Livi menghela napas ia melirik Liona. “Cici Livi khawatir dengan Cici Lisbeth.”
“Mengapa khawatir?” tanya Liona lagi. Dengan tatapan polos ia memandang kakak sulungnya.
“Koko Bryan jelek. Tidak baik.” kata Livi singkat.
Liona membelalakkan matanya. “Koko Bryan jelek? Tidaaak. Wajah tampan.”
“Bukan wajah jelek. Jelek hatinya. Tidak baik.” Tangan Livi bergerak lagi. Ia mengernyit membuat wajahnya jadi terlihat jelek.
“Tahu dari mana?” selidik Liona. “Apakah Cici Livi tahu hati Koko Bryan? Tidak kan. Jangan menuduh, tidak baik.” Liona mengibaskan tangannya.
“Liona masih kecil, belum paham!” potong Livi,
“Koko Bryan romantis. Seperti Sampek Engtay!”
“Sampek Engtay, dua-duanya mati!”
“Kayak Yoko dan Bibi Leung!” balas Liona.
“Harus tunggu 16 tahun baru ketemu. Mau?” sindir Livi. “Ketemu Yoko sudah kayak Opa-opa. Rambut putih semua. Hii!”
Liona bengong ia tampak berpikir keras mencari cerita masa kecilnya yang berakhir bahagia. “Bai Su Cen (Siluman ular putih) dikurung di menara. Siluman ular hijau, pacarnya mati. Kenapa mati semua, ya?”
“Makanya!” Livi pusing mendengar komentar adik bungsunya yang hopeless romantic, “Dunia nyata begitu. Tidak semua indah. Makanya—”
“Makanya makan kuaci saja. Cici mau kuaci?”
Livi menghela napas kesal. Sempat-sempatnya Liona menawarkan kuaci di saat seperti ini!
***
Sebelum makan malam, Livi memandang Bryan dan berkata, “We need to talk,” ucap Livi dingin. Dengan tangan bersedekap, Livi berjalan ke belakang rumah. Mereka berhenti di taman kecil antara rumah utama dengan paviliun tempat Popo dulu tinggal.
“Bajingan kayak lo enggak pantes buat Lisbeth,” tembak Livi. Matanya menyala marah. Ia benci bagaimana Bryan merusak hubungannya dengan Lisbeth.
“Bajingan? Orang-orang kayak lo, yang bikin orang-orang kayak gue enggak mau berubah! Buat apa berubah? Udah capek-capek tetep dicap bajingan!” Suara Bryan meninggi.
“Emang lo bajingan!” jerit Livi.
“Gue udah sober for years! I have stable jobs, I have income! I have assets and lo masih samain gue dengan yang gue yang dulu!”
“Lo kira dengan masa lalu lo, you can be a good husband buat dede gue?”
“Cowok baik-baik, kayak apa ha? Kayak Jimmy?”
“He’s better than YOU. Dia enggak maen cewek. Anak baik-baik.”
“Ooo, tell me about it! Lo enggak lihat Jimmy, tuh, ngapain Lisbeth! Lo enggak lihat pas Lisbeth nungguin Jimmy buat ultah bokap lo! Lo enggak lihat Lisbeth kayak apa stresnya kalo Jimmy batalin janji last minute! Lo di Singapur! Lo tahu apa?” ujar Bryan geram. Ia melemparkan tangannya ke atas.
Livi terdiam. Ia hendak membantah Bryan, tetapi ia membatalkannya. Keduanya sejenak berdiri mematung, emosi memenuhi keduanya.
“You have every right to doubt me, Vi. Itu hak lo,” desis Bryan, “But I swear I do love Lisbeth. Gue enggak akan mainin Lisbeth. Lo mungkin sekarang enggak percaya. But maybe one day.”
“Never!” Mata Livi berkilat. Sudah gila rupanya Bryan. Mana mungkin ia menyetujui hubungan Bryan dengan Lisbeth.
Suasana di ruang makan keluarga Wim kaku. Liburan Natal yang semestinya menggembirakan jadi suram. Livi cemberut. Lisbeth tidak mengacuhkan Livi. Bryan salah tingkah. Simon sibuk dengan si kembar. Satu-satunya yang tidak terpengaruh hanyalah Liona yang membantu Simon menyuapi si kembar.
“Babe … bantuin, dong,” bisik Simon. Livi hanya melengos. “Tuh ada Liona.”
“Yah kasihan Liona, dari tadi dia belum makan. Sibuk nyuapin si Timmy,” bisik Simon lagi.
“Suruh Nur aja,” kata Livi kesal.
“Vi, bulan depan buat check up Papi-Mami ke Singapur udah diurus?”
Damn it … she forgot. “Ehm … sorry, Mi. Belum sempet.”
“Saya ada kenalan, Tante,” sambar Bryan cepat. Livi mendelik. Anak baru cari muka.
“Mi, habis ini langsung aku telepon aja. Papi-Mami kan sudah biasa sama dokter yang ini. Medical record juga semua lengkap,” balas Livi. “Lo biasa medical check up juga?”
“Ya,” jawab Bryan pendek.
“Bagus. Buat yang kayak lo harus, sih. STD dites terus, kan?” tanya Livi tajam. Semua orang termasuk Papi-Mami harus tahu. Sexually Transmitted Disease alias tes untuk penyakit kelamin! Masak Lisbeth mau married sama penjahat kelamin?
Wajah Bryan langsung menegang.
“Vi, Mami, kok, kapan hari enggak ada tes STD-nya?” tanya Heni tiba-tiba. “Kayaknya enggak ada. Coba nanti yang kali ini Mami dites juga.”
Livi menepuk wajahnya. Duh, kenapa maminya sepolos ini.
“Buat Mami enggak perlu,” jawab Livi, “Yang perlu yang kayak Bryan, Mi. Yang masih muda … aktif.” Livi memberi penekanan kepada kata aktif, sexually active, “dan … sering jajan,” sindir Livi pedas.
Jemari Bryan menggenggam sendok garpunya erat-erat seolah hendak meremukkannya.
“Livi,” panggil Wim tenang.
“Ya, Pap?”
“Perlu, yah, bahas ini di meja makan?” tanya Wim tajam. “Bikin tidak selera.”
Livi memelotot. Papi membela Bryan?
Wim mengelap mulut dengan serbet lalu bangkit berdiri. “Livi, ikut Papi.”
Dengan wajah merah padam, Livi mengikuti Papi ke ruang kerjanya.
“Kamu tahu peribahasa da ren bu da lian?”
“Papi enggak salah Papi setuju sama Bryan?”
Wim menatap Livi tajam-tajam. “Da ren bu da lian. Artinya, kalau mau mukul orang, jangan di wajahnya. Kalau mau negur orang, jangan di depan umum, apalagi sampai membuat orang lain kehilangan muka, sampai sakit hati. Ngerti?”
Livi masih cemberut. Ia menahan napas, mengatur strategi untuk mendebat papinya.
***
[1] dǎ rén bù dǎ liǎn:kalau memukul orang, jangan pukul wajahnya. Kalau menegur orang berhati-hati jangan membuat orang kehilangan muka.



