Setiap malam, Wim menikmati hidangan makan malam bersama dengan Heni dan Lisbeth. Lisbeth sedang asyik bercerita mengenai harinya, kejadian-kejadian lucu di YST, juga rencananya ikut lomba desain.
“Danar di Kafe Bryan betah,” lapor Lisbeth.
Wim mengangguk puas.
“Bryan suka WhatsApp aku tanya Bisindo,” sambung Lisbeth.
Garpu Wim berhenti di udara mendengar nama Bryan disebut.
“Sering mampir juga di butik.”
“Bryan ke butik?” tanya Wim dengan wajah datar. Diam-diam, ia memperhatikan gerak-gerik putrinya. Lisbeth pun mengangguk sambil tersenyum. Wim membaca wajah putrinya, pupilnya tidak berubah, tangannya tidak bergetar. Lisbeth tidak tiba-tiba mengedipkan mata berulang kali.
“Bryan juga membantu mendaftar untuk Education Fair.” Lisbeth sibuk memaparkan rencana untuk membuka booth di mal, sehingga lebih banyak orang yang tahu tentang YST. Namun, pikiran Wim malah berkelana ke hal lain. Bryan … hmmm … Wim sama sekali tidak menyangka nama itu kembali muncul di tengah keluarga mereka. Disebut pula oleh kedua anak perempuannya.
Wim teringat ketika Livi masih SMA. .
“Kamu kemarin pulang sama siapa, Vi?” tanya Wim. Waktu itu Livi sedang suka-sukanya pesta.
“Dianterin sama Bryan. Mestinya pulang bareng sama Anissa. Aku masih ngobrol, tahu-tahu Anissa udah diculik pulang sama Dimas,” renggut Livi cemberut.
“Kapan hari pulang dari Sheraton juga sama Bryan?”
“Ada Anissa juga, Pap! Ogah banget kalau cuman berdua sama playboy cap badak. Nehi-nehi. Papi enggak liat cewek-cewek lain kalau sama Bryan udah nempel kayak lintah. Jijay. Dasar cewek-cewek bodoh,” omel Livi panjang lebar.
“Bryan ditempelin cewek-cewek, tapi dia nganterin kamu pulang?” kekeh Wim.
Mata Livi yang sipit bertambah besar. “Jangan mikir aneh-aneh, Pap. Over my dead body sama Bryan.”
Waktu itu, Wim hanya tertawa. Cinta SMA. Dulu Livi, sekarang Lisbeth? Hmm … Wim mengelus dagunya.
“Pi? Jadi mau berangkat tanggal berapa?” tanya Heni membuyarkan lamunan Wim.
“Hmm?” Wim berusaha kembali memfokuskan pikirannya ke masa kini.
“Kita mau ke Singapur nemenin Livi lahiran, jadi tanggal berapa?” tanya Heni, matanya sibuk melihat ke arah gawainya mencari harga tiket. “Ini SQ lagi ada promo. Kalau kita bertiga kan jadi bagasi bisa minimal sembilan puluh kilo.”
Livi akan melahirkan sebentar lagi. Cucu pertamanya. Laki-laki. Kembar, pula. Sebenarnya, bagi Wim laki-laki atau perempuan sama saja. Toh ketiga anaknya semua perempuan dan ia tidak akan menukar anak-anaknya dengan anak laki-laki mana pun.
“Yah terserah Mami mau berangkat tanggal berapa. Papi mungkin cuma bisa satu bulan di sana. Mami terserah,” ujar Wim sambil memakan ayam goreng. “Yakin mau tinggal tiga bulan? Enggak berantem?” goda Wim sambil melirik Heni.
“Enggak … Simon baik kok sama Mami,” bela Heni. Ia lalu menirukan pujian teman-teman pilatesnya.
“Heni mah pinter cari mantu. Dapat mantu ganteng, pinter lagi.”
“Iya, dosen di Mei Kuok, Amerika yah dulu? Ck ck ck. Orang teng lang, Chinese kayak kita bisa ngajarin wong londo. Kalau enggak pinter banget, mana bisaaa ….”
“Bukan sama Simon berantemnya, Mi …,” lanjut Wim, “sama Livi.” Wim tahu persis kelakuan putri sulung dan istrinya. Kalau sudah terlalu lama bersama, pasti ribut.
“Ah, Papi. Anak perempuan kalau sudah punya anak balik lagi ke ketek maminya!” sergah Heni. “Nanti begitu bayinya lahir, baru deh dia berasa.” Heni menebar senyum kemenangan.
“Koko Simon baik,” kata Lisbeth. Disambut dengan anggukan penuh semangat maminya. “Cici Livi beruntung punya suami seperti Koko Simon,” kata Lisbeth sambil memotong tempenya.
Wim terdiam. Dari kecil mereka selalu berusaha mendidik Livi, Lisbeth, dan Liona dengan cara yang sama. Wim menolak anggapan, anak Tuli tidak bisa apa-apa. Lisbeth dan Liona belajar berenang, diving, dan taekwondo. Wim mengundang guru privat ke rumah, belajar menyetir sejak SMA. Apa yang Livi bisa, Lisbeth dan Liona juga bisa. Sekalipun itu memakan waktu lebih lama … dan lebih mahal, Wim tidak peduli. Tidak ada harga yang terlalu mahal untuk anak-anaknya. Pasangan hidup itu di luar kendali mereka. Wim berpikir sejenak. Benarkah itu di luar kendalinya?
***
Education Fair
Booth berwarna kuning cerah dengan logo YST terpampang di dekat eskalator. Ini hari terakhir dari tiga hari Edu Fair. Lisbeth gembira karena semuanya berjalan lancar dua hari ini.
Dodo dan Nala sibuk membagikan selebaran sedangkan Bu Euis menyusun beberapa stoples kue kering yang ikut dipajang.
Ada beberapa sekolah dan yayasan yang bergabung dalam Edu Fair kali ini. Ground Floor yang biasa lenggang, dibagi menjadi beberapa booth. Booth YST terletak paling strategis, paling dekat dengan eskalator.
Lisbeth memperhatikan Nala membagikan selebaran kepada beberapa pengunjung. Nala perlahan-lahan sudah mulai kembali menjadi Nala yang dulu. Menghirup udara segar di Sentul dan mengajar anak-anak Tuli berpengaruh pada pemulihan Nala.
YST butuh lebih banyak sukarelawan, dan tentu saja donatur. Anak-anak itu seperti dirinya dahulu. Polos penuh harapan. Betapa ia ingin menyaksikan mereka juga punya masa depan. Tak semua punya keluarga yang menerima mereka seperti dirinya. Yang keluarganya menerima, belum tentu punya dana untuk mendukung mereka. Lisbeth percaya mereka punya potensi. Semoga hari ini sukses. Minimal membuat masyarakat tahu mereka ada.
Lamunan Lisbeth terputus ketika Bryan datang. Lisbeth melambai dengan bersemangat. Bryan sangat banyak membantu. Mulai dari mempersiapkan foto-foto, mencetak banner, dan banyak lagi.
“Sudah makan?” tanya Bryan basa-basi. Lisbeth menggeleng. Siang itu, ia tampak santai dengan kaus seragam Yayasan Sahabat Tuli yang berwarna kuning, celana jins, dan sepatu sneakers putih.
“Belum.”
“Mau makan bareng? Nanti setelah makan, gantian dengan Bu Euis?”
Lisbeth mengangguk.
“Ah ada barang ketinggalan di mobil. Bryan ambil dulu.” Seraya berpamitan, Bryan pergi kembali ke tempat parkir. Lisbeth memutuskan untuk membagi-bagikan selebaran, ketika tiba-tiba mukanya membatu seperti melihat hantu. Nala!
***
[1] shuǐ dī shí chuān: Tetesan air dapat melubangi batu. Kerja keras yang konsisten akan membuahkan hasil.
[2] God is rechtvaardig bahasa Belanda yang berarti Tuhan itu adil. God dibaca Hod.



