Bryan paling menanti-nantikan hari Senin. Saat ia kembali bekerja, keluar dari rumah dan tidak bertemu anggota keluarganya. Sambil bersiul, ia mematikan shower. Benaknya sibuk dengan rencana hari ini, menyurvei dua lokasi baru untuk ekspansi pasar.
Sambil meratakan Oribe hair serum, Bryan memandang pantulan dirinya di cermin besar. Perhatiannya jatuh ke tempat yang sama. Bekas luka yang melintang di dada, pengingat abadi akan masa lalunya. Ia buru-buru mengenakan kemejanya. Sebuah kalimat berkelebat di benaknya. Seandainya menyembunyikan masa lalu semudah menutup luka dengan kemeja.
Ia berderap menuruni tangga. Hatinya lega mendapati tak seorang pun tampak di ruang makan. Bertemu dengan orang tuanya di awal minggu hanya akan merusak harinya. Sepertinya hari ini akan menjadi hari yang baik. Dengan senyum tipis terkulum, ia meraih sandwich yang sudah tersedia dan berjalan keluar.
“Pagi, Koh,” sapa sopir Bryan sambil membukakan pintu mobil.
Bryan hanya mengangguk. Mulutnya sibuk mengunyah roti seraya tangannya menggenggam ponsel dan memberi tanda e-mail mana yang harus segera ia balas, mana yang bisa menunggu. Matanya tertuju ke satu acara yang ada di kalendarnya.
Lisbeth Fashion Show 6 PM. Dahinya bekernyit. Siapa yang memasukkan acara itu dalam agenda kantornya? Lisbeth. Tanpa ragu, ia menekan tombol hapus. Dalam sekejap, nama itu hilang. Out of his sight, out of his mind … out of his life. Semoga. Bryan berusaha mengenyahkan firasat buruk yang mulai mengeriap.
Tak lama, mobil berhenti di sebuah ruko perkantoran berlantai tiga. Jarak kafe dan rumahnya bisa ditempuh dalam dua puluh menit, lima belas menit jika lancar seperti hari ini.
“Pagi, Koh Bos,” sapa beberapa karyawannya sambil mengangguk hormat. Total karyawannya ada 8, mengisi dua sif, pagi dan sore. Ketika karyawannya menyapa, Bryan merasa gembira, ia orang penting. Setelah melakukan absensi, ia mengenakan celemeknya.
“Boba udah siap?” tanya Bryan sambil mengeluarkan botol-botol sirop.
“Sudah Koh Bos,” jawab Ayu sambil menunjuk tempat Boba. Bryan mengangguk. Ia membuat black tea sambil bertanya kepada Rusdi, “Grease trap kemarin malam sudah dibersihin belum, Di?”
Wajah Rusdi langsung memelas. “Masa saya lagi, Koh?’
“Tiga hari yang lalu, saya loh.” Bryan mengingatkan. “Tulis buat yang sif sore, bersihin grease trap.”
Selain menyediakan bubble tea dan aneka jus, kafe ini juga menjual jajanan ala Taiwan seperti egg crepe, ayam goreng, kentang goreng, sweet potato fries, dan aneka macam kudapan khas Taiwan. Akibatnya, ada bekas minyak gorengan bercampur dengan boba yang menimbulkan bau busuk. Grease trap berfungsi untuk mencegah lemak dan kotorang langsung masuk ke saluran pembuangan dan membuat saluran macet.
Setelah memastikan semua opening check list sudah dilakukan, Bryan mengganti tanda Tutup dengan Buka, lalu ia naik ke lantai tiga menuju kantornya.
“Pagi, pagi. Nikki, kita jadi rapat jam 11.15? Laporanmu kirim dulu,” perintah Bryan.
Nikki mengangguk sigap. “Saya kirim sekarang, Pak. Barusan ada telepon dari Bu Pamela, katanya ada perubahan buat keperluan viewing.”
“Okay, nanti saya cek,” kata Bryan singkat. Ia masuk ke kantornya dan langsung menghubungi Pam, agen real estate. Ternyata, dua tempat yang ingin ia lihat sudah terjual. Di tengah perbicangan, Bryan mendengar nada sambungan lain yang berusaha masuk. Keningnya berkerut membaca nama yang tertera di sana. Dimas.
“Okay, Pam. Kabari saya kalau sudah ada tempat baru. Maaf, ada telepon lain.” Tanpa menunggu jawaban Bryan memutuskan hubungan dan menerima panggilan Dimas.
“Yo, Bro! How’s Santorini?”
“Cakep, dong! Kayak bini gue,” gelak Dimas. Bryan menebak pasti ada Anissa di sebelah Dimas. Dasar suami takut istri! ejek Bryan dalam hati.
“What’s up?”
“Ingetin lo aja. Nanti malem, Lisbeth’s fashion show,” ujar Dimas santai.
Lisbeth? Firasat buruk yang tadi hanya sebuah titik hitam kini seperti tinta yang merembes di kertas tisu. Ia menggeleng keras-keras sebelum sadar Dimas tidak akan bisa melihat gelengannya.
“No. Kirim bunga aja,” tolak Bryan berusaha tampak tenang.
“Ckckck. Bunga dan lo harus datang. It’s an order,” kata Dimas sok penting.
Harus! Bryan ingin rasanya melempar smartphone-nya ke dinding. Ia tidak suka kata “harus” atau “wajib”.
“Why? Kenapa kita harus datang? Gue kirim Bram aja, ya?” tawar Bryan. Matanya berkelana ke langit-langit.
“Bro … ini bukan sekadar fashion show! Lo tahu banyak orang bakal datang. Networking.” Suara Dimas bergema.
“Networking apaan? Kita jualan bubble tea!” omel Bryan.
“Well, branding, Bro! Branding.” Dimas tak kehilangan akal. “Ini Lisbeth! Kita udah temenan dari kecil!”
Bryan menghela napas. Justru karena itu! Seandainya ia bisa menghapus masa kecilnya.
“Tidak bisa! Gue ada janji lihat dua tempat lokasi baru.”
Dimas malah tertawa terbahak-bahak. “Lo, anak bawang, mau coba bohongin gue? Lokasi yang di Gading Marina sama PIK udah laku.”
Bryan menggertakkan gigi. Sialan. Bagaimana mungkin ia bisa lupa Dimas punya seribu mata dan telinga? Anak bawang! Apakah Dimas lupa ia bukan lagi anak kurus kering yang mengikuti Dimas ke mana-mana? Usianya sudah hampir 30, tetapi di mata Dimas, ia tetap anak bawang. Bryan mengentakkan kakinya mencoba menyalurkan amarah yang tiba-tiba menyergap.
“Lo aja yang pergi!” geram Bryan kesal.
“Gue lagi babymoon, Bro! Babymoon! Listen, you’d better go, or the Queen will be angry!” tegas Dimas. Bryan baru hendak membantah ketika ia mendengar pekik pelan meluncur dari Dimas, “Hon, ngapain sih cubit-cubit!”
“Bryan.” Suara wanita dengan nada tegas menggantikan suara Dimas.
“Yes, Nis?” gumam Bryan malas. Berdebat dengan Dimas menyebalkan, tetapi berdebat dengan Anissa, ia tak mungkin menang.
“Lo tidak usah khawatir. Livi enggak datang,” sambar Anissa tanpa basa-basi. Livi. Kepala Bryan benar-benar pening. Nama itu membawa lebih banyak lagi ingatan yang ingin ia lupakan. Benar-benar cara yang buruk untuk mengawali hari. Bryan berdecak. Ia ingin membantah bahwa ia tidak peduli Livi akan datang atau tidak, tetapi mengurungkan niatnya. The Queen has spoken.
Anissa adalah teman main mereka sejak kecil. Dia anak bungsu dari keluarga kaya raya. Jika ia sudah bersabda, tak ada yang berani membantah. Bryan menimbang pilihannya jika ia datang, duduk, foto, pulang, hanya dua jam yang hilang. Jika ia mangkir? Only Heaven knows what she’s gonna do with him. Apalagi jika Anissa sampai menghubungi kakaknya. Tidak!
“Oke, oke. Gue datang,” gerutu Bryan.
“Good. Obey your mentor,” puji Anissa puas.
“Yes, Ma’am,” sahut Bryan dengan nada sinis. Sayangnya, ia ragu Anissa menangkap nadanya.
“Atta boy.” Telepon ditutup. Khas Anissa. Bryan membanting iPhone ke meja. Napasnya memburu.
Ia menatap ke sekeliling kantor. Kantornya yang sebenarnya hanyalah ruangan atas di kafe mereka. Di ruko lain, mungkin ruangan itu biasanya dijadikan gudang tempat penyimpanan barang atau tempat tinggal karyawan. Ketika memulai usaha, Bryan bersikukuh menjadikan ini sebagai kantor. Supaya ia kelihatan bekerja, mentereng. Papan nama dengan nama dirinya tercetak rapi dan karyawan yang mengangguk hormat. Ini semua ilusi. Ilusi yang ia ciptakan sendiri, bahwa ia orang penting. Ponselnya bergetar, ada e-mail baru yang mengatakan sebuah kegiatan telah ditambahkan ke dalam kalendernya. Lisbeth fashion show 6 pm. Jangan lupa beli mawar!
***
[1] 磨杵成针 mó chǔ chéng zhēn : Mengasah besi menjadi jarum. Suatu pekerjaan jika dilakukan dengan kesabaran akan menghasilan keberhasilan.



