Pada perayaan Hari Anak Nasional tahun ini pemerintah mengarahkan lampu sorot ke persoalan perlindungan anak. Pemerintah ingin mengingatkan bahwa kitalah tetangga, kitalah orang sekampung yang berperan dalam mewujudkan keamanan untuk anak-anak Indonesia.
Ini berarti, entah kita adalah individu yang masih single, atau sudah menikah tetapi belum memiliki anak, atau apa pun kondisi yang sedang kita jalani, kita semua mempunyai peran dalam membesarkan anak-anak bangsa ini.
Dan untuk para orangtua, pemerintah Indonesia kembali memberikan penekanan kepada sebuah kebenaran besar: bahwa tanggung jawab kita sebagai orangtua masih tetap sama. Kitalah yang memainkan peran terbesar dalam membesarkan setiap anak kita.
Kehadiran pemerintah dan berbagai pihak swasta yang menyediakan berbagai kemudahan dan fasilitas untuk membesarkan anak-anak patut kita manfaatkan dengan bijaksana.
Kita, orang-orang dewasa, adalah ayah, ibu, paman, tante, opa, dan oma dari anak-anak yang ada di sekitar kita.
Merupakan tugas kita bersama untuk memberikan perlindungan dan keamanan bagi anak-anak di lingkungan di mana kita berada.
Indonesia adalah bangsa yang terkenal dengan keramahannya. Kekayaan budaya ini perlu kita lestarikan. Walau kian pudar, kebiasaan baik ini terkadang masih menampakkan diri, terutama di kalangan generasi yang lebih tua.
Seorang supir taksi yang sedang istirahat segera bangkit untuk membantu anak-anak menyeberang jalan. Atau seorang tukang bakso yang memberikan makanan gratis kepada seorang anak yang sedang kelaparan.
Anda tentu dengan mudah bisa memberikan contoh kebaikan yang pernah ditunjukkan oleh seorang ‘asing’ kepada anak-anak kita yang masih kecil dan lemah.
Beberapa tahun yang lalu, seorang ibu yang berasal dari negara maju berkata kepada istri saya bahwa ia lebih memilih untuk membesarkan anak-anaknya di kota ini, sebuah kota yang secara teknologi dan sistem jauh berada di belakang kota asalnya, karena ia merasakan adanya rasa aman yang diberikan oleh komunitas di mana ia berada.
Inilah Indonesia. Inilah salah satu kekayaan yang bisa kita banggakan.
Bila dibiarkan, maka seperti kekayaan alam di bumi Indonesia yang semakin hari semakin berkurang, nilai-nilai kekeluargaan Indonesia yang pernah menjadi perekat dari komunitas-komunitas yang beragam juga akan menjadi langka.
Ajakan dari pemerintah lewat perayaan hari anak nasional telah dikumandangkan. Untuk beberapa hari ke depan, beragam tulisan, talkshow, dan salam yang bermunculan akan mengingatkan kita untuk memperhatikan anak-anak bangsa yang tak tenilai harganya ini.
Apakah jawab kita?






