4. Percayalah pada kemampuan anak untuk beradaptasi secara mandiri
Walaupun tampak masih kecil dan manja, jika usianya cukup dan perkembangannya baik, anak punya kemampuan beradaptasi yang baik secara mandiri.
Belum pernah melepasnya ke sekolah bukan berarti anak pasti kesulitan untuk beradaptasi. Terus-menerus menangis pada hari dan minggu pertama sekolah juga bukan berarti anak tidak mampu beradaptasi.
“Ini Miss, tolong gendong,” ujar seorang ibu sambil menyerahkan buah hatinya yang mewek ke pelukan saya beberapa tahun lalu. Kemudian, ia buru-buru kabur keluar kelas, bahkan keluar dari gedung sekolah.
Sebagai guru muda yang belum berpengalaman mengasuh anak kandung, saya melongo. Tak menyangka sang ibu akan “setega” itu.
Terkesan “melemparkan” anak begitu saja dalam pelukan guru, sang ibu tidak bermaksud kejam dengan mengabaikan air mata anak. Sebaliknya, ia kenal dengan baik kemampuan anaknya untuk beradaptasi. Ia tahu persis apa yang dilakukannya.
Sadar dirinya tak lagi didampingi sang ibu, anak dalam pelukan saya tidak lagi menangis dengan keras. Sebaliknya, ia justru diam, yang makin menambah keheranan saya kala itu. Tak lama kemudian, ia sudah bermain dengan gembira. Kemandiriannya muncul ketika orang tua tak lagi ada di dekatnya.
“Maaf, ya, Miss, tadi langsung saya tinggal begitu saja,” kata sang ibu sepulang sekolah, mengawali penjelasan atas perbuatannya tadi. “Kalau nggak begitu, dia nggak akan mau lepas.”
Sekarang barulah saya mengerti bahwa
sekalipun siap dilepas, terkadang anak tak mau dilepas kecuali orang tuanya melepas.
Baca Juga: Bukan Menahan untuk Bersama Selamanya, melainkan Mempersiapkan untuk Meninggalkan pada Waktunya
5. Bekerja sama dengan guru
“Michael dulu juga nggak mau sekolah,” ujar Mama mertua tentang masa kecil suami saya. “Jadi Mama kasih coklat ke gurunya. Pancingan biar dia mau sekolah.”
Hal serupa saya alami sebagai guru. Memang saya tidak dititipi coklat seperti guru TK suami. Namun beberapa kali para orang tua mengajak saya bicara dan bekerja sama agar anak cepat beradaptasi di sekolah. Mereka berbagi cara agar saya dapat memikat hati anak agar merasa aman dan nyaman di sekolah.
6. Doakan anak dan biarkan dia dengar ketika namanya disebut dalam doa
Saya telah bertemu dengan orang tua dari berbagai agama dan kepercayaan. Sekalipun berbeda keyakinan, mereka semua berbagi kisah yang sama tentang bagaimana mendoakan anak agar dapat beradaptasi dengan baik di sekolah.
“Kalau sudah disembayangi, dia (anak) jadi happy ke sekolah,” kata seorang ibu yang rajin berdoa di vihara.
“Sebelum ke sekolah tadi sudah didoakan, ditumpangi tangan sama Papanya, makanya hari ini nggak nangis,” ujar Mama yang memakai kalung salib.
“Pagi-pagi sudah diajak sholat dulu sebelum ke sekolah, sudah didoakan, Miss. Jadi dia berani,” kisah seorang ibu berhijab pada saya.






