“Papa sudah bilang, Papa nggak setuju!” Ah Liong berteriak dengan wajah merah padam. “Dasar bo nao lo, kenapa enggak dengar?” Siku Ah Liong menyenggol kotak kayu hitam yang jatuh dengan suara nyaring ke lantai keramik. Dasi-dasi sutra berhamburan di lantai.

Lisbeth berdiri di ujung meja. Entah sudah berapa lama ia ada di sana.

“Pa!” bentak Bryan badannya bergetar menahan emosi.

Benny meloncat bangkit dari kursinya. “Pa, ada dokumen yang Papa harus baca sekarang!” Dengan sigap, Benny menggamit tangan papanya dan setengah menyeretnya memasuki kantor kerja.

Tangan Bryan masih terkepal. Ia sudah biasa dikata-katai oleh papanya, tetapi jangan Lisbeth. Ia melihat Lisbeth berjalan perlahan lalu memunguti dasi-dasi yang berserakan. Dada Bryan penuh amarah. Namun, setangkup tangan mendarat lembut di bahunya.

“Bryan, calm down. Biar Aso yang urus,” kata Vina tenang. Ia berjalan dan membantu Lisbeth membereskan dasinya.

“Rusak,” kata Lisbeth melihat ada yang terlepas dari bagian engsel kotak itu.

“Bisa dibenarin,” kata Vina sambil tersenyum. Ia bangkit dan mengajak Lisbeth ke arah gudang. Dengan obeng, Vina mengencangkan sekrup yang tadi longgar. “Anak cici dua, mainan rusak itu biasa.” kekeh Vina.

“Sudah,” ujar Vina sambil menyerahkannya kembali kepada Lisbeth. Ketika berjalan keluar, Vina berhenti di meja yang banyak hiasannya. Ia mengambil satu mangkuk putih dengan garis-garis emas. “Ini kintsugi. Cici beli buat Papa-Mama sewaktu honeymoon di Osaka. Orang Jepang tidak membuang mangkuk kalau pecah, tapi diperbaiki … dengan bubuk emas.”

Lisbeth meraba mangkuk cantik yang keliatan unik. “Kintsugi?”

“Bagi beberapa orang, ini sampah. Rusak. Tidak berguna. Tapi yang punya, sayang dengan mangkuk ini. Bukannya dibuang, malah dibuat lebih bagus. Jadi mahal dan … unik. This is not a damaged good. But a work of art. Precious.”

Vina melingkarkan tangannya di bahu Lisbeth. “Cantik, ya?” Vina mengambil sebuah kartu yang dipajang di sebelah mangkuk itu dan memberikannya kepada Lisbeth.

Lisbeth membaca tulisan yang tertera di kartu itu. Kintsugi. The ancient Japanese art of mending broken objects with gold teaches us that if we choose to embrace our struggle and repair ourselves with love, we become more beautiful for having been broken.

Lisbeth mengangguk. Ia menatap Vina yang tersenyum, dan ia pun ikut tersenyum. Ia menangkap maksud Vina. Kintsugi. She’s precious.

Bryan datang dan menggamit Lisbeth, “Kita pulang sekarang!” Lisbeth menggeleng. “Tunggu.”

Lisbeth menuju ruang kerja Ah Liong sambil membawa kotak kayu berisi dasi yang sudah kembali terlipat rapi. Ah Liong dan Benny terkejut melihat Lisbeth masuk. Dengan tenang, Lisbeth berjalan dan meletakkan kotak kayu itu di depan Ah Liong.

“Ini untuk Om Ah Liong. Semoga suka.” Belum sempat Ah Liong menjawab, Lisbeth tersenyum lalu berjalan keluar dengan kepala tegak.

***

“Kamu mau ajak kita lunch di mana, Babe?” tanya Benny. Tumben, hari ini Vina menjemputnya tanpa sopir. Bahkan, ia berkeras untuk menyetir sendiri.

“Rahasia.” Vina mengulum senyum, “Bapak CEO santai saja.” Mobil Vina memasuki kawasan Kota Tua. GPS-nya memberi petunjuk jalan mana yang harus ia tempuh. Lalu lintas di sekitar Kota Tua selalu macet. Sepeda motor, angkot, dan mobil saling berebut tempat. Setelah memarkir mobil, Vina mengajak Benny turun dan menggandeng tangannya, memasuki sebuah bangunan yang dicat biru. Tulisan bergaya vintage ’Kedai Kopi Biru’ terpasang di kusen pintu.

Today’s lunch is on me.” Vina menyodorkan menu sambil tersenyum. Benny mengamati menu yang tersedia. Semua menunya makanan Indonesia, nasi goreng, mie goreng, sate, nasi pecel, tahu gejrot, dan beberapa jajan pasar.

Seorang pelayan mencatat pesanan mereka.

“Dua kopi hitam, ya,” tambah Vina yang disambut anggukan sang pelayan.

Benny mengamati dekorasi kafe yang mengambil gaya old town, mulai dari tegel, kusen jendela, hingga lukisan-lukisan yang dipasang–gambar iklan tempo dulu dengan ejaan bahasa Indonesia lama. Siang ini, ada beberapa pasangan muda-mudi dan beberapa orang kantoran yang duduk menikmati makan siang mereka.

Pelayan yang sama kembali dengan membawakan sebuah kertas.

“Permisi, Bapak Ibu, apakah Bapak Ibu ingin menikmati suasana makan siang yang berbeda?” tanyanya ramah. Di tangannya sebuah brosur tercetak dengan huruf besar. Kopi Sunyi.

Tanpa menunggu jawaban Benny, Vina menjawa terlebih dahulu, “Iya. Saya sudah booking sebelum ke sini. Vina Lau.”

“Baik, Bu. Mohon ditunggu.” Pelayan itu pergi meninggalkan Benny yang menatap Vina dengan heran.

What is this, Babe?” 

“Kasih kamu pengalaman yang beda aja. Kamu kan lagi pusing mau RUPS. Kita nyepi sebentar.”

Pelayan itu kembali datang dengan membawa dua set earplug berwarna oranye yang dibungkus plastik kecil dan dua noise cancelling headset Bose.

Benny bersiul ketika melihatnya “Bose?

Sang pelayan memberi instruksi bagaimana memasang earplug lalu menutupnya dengan headset Bose. Dalam sekejap, Benny merasa seperti masuk dunia lain. Kesunyian yang aneh.

Pelayan itu membawa kertas bertuliskan SELAMAT MENIKMATI DUNIA KOPI SUNYI.

Ia membalik kertas berikutnya.

Anda akan berkelana ke dunia lain selama Anda mengenakan headset kami. Dunia tanpa suara.

Kertas berikutnya berbunyi:

Anda bisa berkomunikasi dengan para pelayan kami melalui tulisan, membaca gerak bibir atau Bisindo. (Bahasa Isyarat Indonesia).

Benny melirik Vina. Apa maksud istrinya? Dengan cepat, ia menerka apa yang ingin Vina lakukan. Pandangan mata mereka bertemu, Benny sudah akan mencopot headset-nya, tetapi Vina memegang tangannya dan memberi isyarat supaya ia tidak melakukan itu. Jari telunjuk Vina menyentuh bibir Benny sambil ia menggeleng.

Dengan terpaksa, Benny menuruti permintaan Vina. Ia menghempaskan badan lalu melihat situasi di sekitarnya. Dasar Vina! Ini pasti karena Lisbeth. Pelayan itu datang lagi dengan membawa kopi hitam. Benny menyeruput perlahan. Apakah ini hanya perasaannya saja? Aroma kopi ini terasa lebih tajam, lebih harum, seolah-olah seluruh indranya terhipnotis oleh wangi kopi yang melayang menggelitik saraf-saraf hidungnya.

Biasanya, Benny suka duduk di kafe, menghirup kopi sambil menikmati musik, tetapi Bose Noise cancelling headset benar-benar melakukan tugasnya. Ia tebak harga headset ini lebih dari 4 juta. Modal juga ini kafe.

Ketika makanannya datang, baik ia maupun Vina dengan kikuk saling mempersilakan makan. Rasanya aneh. Jika Vina ingin bicara, Vina menepuk Benny lalu menunjukkan kertas bertuliskan, “Enak?”

Benny mengangguk. Mi goreng kampung yang ia pesan rasanya pas, ringan, tidak terlalu berminyak, dan tetap terasa sensasi kampungnya dengan irisan kol dan telur. Benny berpikir, kenapa rasa makanannya lebih tajam? Apakah karena juru masaknya atau karena ia tidak mendengar apa-apa, sehingga indra penciuman dan perasanya terasa lebih tajam?

Setelah makanan mereka selesai. Vina bertanya lagi, kali ini dengan gerakan tangan. Es krim? tebak Benny. Vina memberi jempol dan menulis, “Mau?” Benny balas menulis 1, vanilla.

Seperti ini rasanya hidup tanpa suara. Aneh. Menjelang akhir hidangan mereka. Ia melihat bayangan orang datang mendekat.

Vina memberi isyarat supaya Benny mencopot headset­nya.

“Hi Ko Ben, Sao.” Bryan berdiri dengan canggung di hadapan mereka. “Ada feedback?”

“Makanannya enak, kopinya wangi,” puji Vina. “Bosenya mantep. Enggak kedengeran apa-apa.”

“Makasih, Aso.” Bryan menatap ke arah Benny.

If you think by using this cheap trick you can make me agree with your relationship with Lisbeth, you’re too naïve,” jawab Benny datar. Ia menangkap wajah Bryan berubah sedikit pucat.

Babe.” Vina mengelus tangan Benny.

You know what, Bryan, it’s very hard for a Leopard to hide its spot. Sekarang kamu masih tergila-gila sama Lisbeth. Tapi kalau kamu sudah menikah bagaimana? 5 tahun, 10 tahun? If all your love hormone already vanished, can you keep your promise? Your wedding vows? Sekarang Lisbeth masih belum ‘tersentuh’, kamu jadi penasaran. But what happened if she’s already yours?”

I’ll never be good enough for you,” desis Bryan.

Because you never prove yourself. Trust must be earned. As simple as that.” Benny berdiri dan memasukkan ponselnya ke dalam sakunya.

Proof? I’ve been sober.” 

I noticed that. But I’ve seen many men like you. Yang pria baik-baik sebelum menikah enggak pernah main cewek, menikah bosen dengan istrinya, lalu selingkuh. Let’s go, Vin.” Benny memberi isyarat kepada Vina untuk mengikutinya. Benny menghentikan langkah dan menatap Bryan. “Trust must be earnedOnce it is broken, you need to work harder to earn it back.” 

Benny menggandeng tangan Vina dan menuntun istrinya kembali ke mobil mereka.

“Kunci mobil?” tanya Benny seraya menengadahkan telapak tangannya.

Vina menyerahkan kunci sambil tertawa.

“Ben, Ben …,” decak Vina seraya memasang seat belt.

What? Kamu pikir aku bakal terharu lalu muji-muji Bryan?” dengus Benny. Mesin mobil mulai menyala dan desir AC mulai terasa.

Vina menirukan gaya bicara Benny. “Trust must be earned. Dasar kamu, sok kaku. Padahal kamu terkesan, ‘kan? You’re giving him hints. Kamu sengaja nantang Bryan. Kamu tahu kelemahan banyak pria di mana, jadi kamu sengaja supaya Bryan tidak begitu. Ngaku aja. Tampangmu pas minum kopi tadi beda. Kopinya enak ‘kan?” goda Vina.

That’s why I married you, Mrs Lau,” ujar Benny. “You read me like an open book.”

Kamu bantuin Bryan ngomong sama Papa,” bujuk Vina.

“Tidak. Menikah itu bukan ending, Vin. Sekarang semua orang fokus cuma supaya Bryan dan Lisbeth bisa menikah. Then what? Apa masalah berhenti setelah menikah? Enggak. Let them do it on their own.”

Benny memusatkan perhatiannya ke jalanan di hadapannya. Semoga Bryan menangkap pesan yang ia beri. Trust must be earned.

***

Hari Minggu, lagi-lagi Bryan mengajak Lisbeth berkumpul di rumah Ah Liong. Lisbeth mulai terbiasa, Tante Mei Hwa lebih ramah, Vina dan dirinya sudah lebih dekat. Hanya satu yang masih kaku. Ah Liong. Ketika tak sengaja pandangan mata mereka bertemu, Ah Liong selalu memalingkan kepala.

Lisbeth sedang melintasi koridor ketika ia menangkap bayangan Ah Liong berjalan dari arah berlawanan. Ah Liong yang menyadari kehadiran Lisbeth, tiba-tiba membalikkan badan. Lisbeth tertegun. Biasanya, ia akan langsung menghindar juga. Namun, sampai kapan ia dan Ah Liong main kucing-kucingan seperti ini? Jika ia serius dengan Bryan, Ah Liong akan menjadi papa mertuanya. Kenangan buruk akan hubungan Popo dan Mami yang tidak harmonis menyeruak. Lisbeth tidak ingin seperti Popo, ia ingin seperti Wim dan Mak Kintan, ada percakapan ada tawa.

Tiba-tiba, Lisbeth berlari menyusul Ah Liong. Entah mendapat keberanian dari mana, ia menepuk bahu Ah Liong.

***


[1] Qiang fang bai ji: menggambarkan orang yang berusaha dengan banyak cara supaya berhasil.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here