Setelah bertemu dengan Wim, ada pihak lain yang harus diberitahu soal hubungan mereka. Bryan memarkir mobilnya di sebelah mobil Benny. Hari Minggu siang, waktunya seluruh keluarga berkumpul. Ia sudah memberi tahu Mei Hwa hari ini ia akan membawa pacarnya. Mei Hwa senang luar biasa. Bryan meremas lembut tangan Lisbeth dan mengecup dahi Lisbeth sebelum mereka keluar mobil.
Bryan merangkul pinggang Lisbeth dan mengajaknya masuk. Posisi meja makan yang tertutup dengan kaca menyebabkan keluarga Bryan tidak menyadari kehadiran Bryan dan Lisbeth.
“Pa, Ma,” Bryan berdeham.
“Bryan sudah datang.” Mei Hwa berpaling menyambut putranya. Senyum lebar menghiasi wajahnya mendadak luruh begitu ia mengenali gadis yang digandeng Bryan.
Suasana mendadak hening. Bryan menggandeng Lisbeth dan mengajaknya ke meja makan. Ada dua kursi kosong yang disediakan untuk mereka.
“Malam Om, Tante, Ko Benny, Ci Vina.” Lisbeth menyapa mereka semua. Benny tersenyum kecut kepada Lisbeth.
“Eh … Lisbeth duduk dulu.” Mei Hwa cepat-cepat menguasai dirinya.
“Hai, Lisbeth.” Vina melambaikan tangannya.
“I si wo ai e lang—this is the lady that I love,” kata Bryan. Ia sengaja bicara dalam bahasa Hokkien supaya papa-mamanya menangkap jelas maksudnya.
Garpu Ah Liong terjatuh. Entah terjatuh atau sengaja dijatuhkan. Mei Hwa buru-buru mengelus tangan suaminya. Suasana di ruang makan begitu dingin. Wajah Ah Liong merah padam. Benny pun sama gusarnya. Vinamenaruh jemarinya di lengan Benny, seolah-olah menahan Benny supaya tidak bereaksi.
Bryan sudah biasa dengan suasana canggung di tengah acara makan, tetapi ia memikirkan Lisbeth. Berkali-kali, ia melirik Lisbeth yang tetap tersenyum tenang sambil memakan hidangan yang tersaji. Siapa yang paling heboh? Mei Hwa. Berulang kali, ia menawarkan makanan ke semua orang, tertawa gelisah sampai ia salah menuang sop ke piring Ah liong dan bukan ke mangkok sop.
“Lisbeth mau es krim?” tanya Mei Hwa setelah semua makanan utama habis.
“Mau, Tante. Lisbeth bantu, ya.” Ia berdiri dan mengikuti Mei Hwa ke dapur. Tepat setelah Lisbeth masuk dapur, Ah Liong menggebrak meja.
“SUDAH GILA KAMU, YA? BO NAO! Enggak punya otak,” bentaknya kepada Bryan.
“Enggak, Pa.” Bryan berusaha tenang. “Bryan sudah bicara dengan Om Wim.”
Benny menggeleng. “You’re such a moron. Lo enggak punya malu? Semua orang tahu lo ngejar-ngejar Livi, terus sekarang Lisbeth mau lo embat juga??”
“Shut up,” desis Bryan.
“Lo yang diem!” Benny mulai naik pitam. “Lo enggak punya malu itu urusan lo. Tapi jangan bawa-bawa keluarga kita!”
“Siapa yang bawa-bawa lo, hah?” Bryan terpancing.
“Lo kagak mikir Papa-Mama gimana? Gimana Papa-Mama mau ketemu sama Om Wim coba? Lo … lo kira Oom Wim enggak tahu lo bejatnya kayak apa? Jangan bilang lo kagak tahu Om Wim itu seberapa protektifnya sama Lisbeth dan Liona! For God’s sake, Bryan! Look for other girls! Don’t touch Lisbeth,” bentak Benny.
“I’ve never touched her,” geram Bryan.
“You better not! Kalo Livi tahu habis lo!”
“Enggak ada urusan sama Livi.”
“Oh, my goodness, how can you be so blind? Jelas ini ada urusannya sama Livi. She’s her sister! This is crazy!”suara Benny kembali naik.
“Papa enggak setuju,” putus Ah Liong tanpa basa-basi.
“Ya enggak papa. Aku udah dewasa, bisa putusin sendiri,” potong Bryan.
“Really? Lo bisa apa, jawab gue! Lo bisa apa, Bryan? Lo ijazah enggak punya. Enggak kerja sama Papa, lo mau jadi apa? Jawab!” bentak Benny.
Bryan pura-pura tidak mendengar sekalipun ia tahu yang Benny katakan benar.
“Papa enggak setuju. Kalau kamu tetep mau sama Lisbeth, kamu bukan anak Papa lagi!” omel Ah Liong.
“Apa aku pernah jadi anak Papa?” tanya Bryan. Suaranya pahit. “Papa pernah anggap aku anak? Anak Papa cuman Ko Benny!” Rahang Bryan menggeras. Tangannya terkepal. Luka bertahun-tahun mencuat juga.
“Ya jelas. Gue enggak bikin Papa Mama malu. Nggak kayak lo! Disgraced son,” ucap Benny tajam.
Ah Liong bangkit dari kursinya lalu berjalan keluar.
“I think you’d better die that night!” desis Benny.
**
Singapura
Suara dering ponsel yang nyaring membuat Livi harus berjalan berjingkat melewati lantai yang penuh ranjau LEGO. Ia teringat akan meme yang membandingkan pemain debus berjalan di atas api dengan seorang ibu yang berjalan di tengah LEGO.
“Ouch!” Livi tak memperhatikan bahwa ada LEGO mungil yang menancap di telapak kaki Livi.
Seraya berjengkit kesakitan, ia mengangkat gawainya dan membaca nama orang yang menghubunginya.
Ko Benny? Ada apa Ko Benny sampai meneleponnya?
“Halo, Ko?”
“Hi, Vi.” Sahut Benny di ujung sana. “Are you busy?”
“Not at all. My twins just try to kill each other over Milo.”
Benny tertawa terbahak-bahak. “Still the same ol’ Livi, he?”
“Ada apa nih sampe bos CEO telepon? Lagi di Changi, Ko?”
“Enggak sih. Ngobrol-ngobrol aja.”
Kening Livi berkerut makin dalam. Sejak kapan Ko Benny yang gila kerja telepon cuma buat ‘ngobrol-ngobrol aja’?
“Udah denger kabar terbaru?”
“Tentang?”
“We might be family.”
“Maksud Koko?”
“Bryan jadian sama Lisbeth.” Nada suara Benny sedatar penyair radio yang membacakan daftar harga saham.
Mulut Livi menganga. “Is today April Mop?”
“He brought Lisbeth to Mom’s house for lunch and dinner.”
“Mmmm!” Suara tangisan 8 oktaf terdengar dari arah dapur. Livi menepuk jidatnya. “Mommmyyy!”
“Coming coming!” balas Livi. Ia kembali berbicara kepada Benny lewat telepon. “Beneran, Ko? Mereka jadian? Lisbeth enggak—“ Livi baru tersadar, sudah beberapa minggu ia jarang berkomunikasi dengan Lisbeth.
“I think you should know.”
“I’ll talk to Lisbeth.”
“Thanks. I’ll pull some strings too.”
“Bye, Ko.” Livi memutus sambungan.
Di dapur, si kembar sedang lomba menangis. Pintu kulkas terbuka dan susu menggenang di lantai. Biasanya Livi langsung membereskan the crime scene, tetapi kabar mengejutkan dari Ko Benny membuat Livi juga terduduk di lantai tak tahu harus bagaimana. Bryan jadian dengan Lisbeth? Ia harus melakukan sesuatu.
Reputasi Bryan yang berengsek sudah jadi rahasia umum. Livi menyaksikan bagaimana Tante Mei Hwa sering datang ke rumahnya dan menangis. Heni selalu mengusir Livi, Lisbeth, dan Liona, mengatakan ini pembicaraan orang tua. Lisbeth dan Liona tidak tahu, tetapi ia sering menguping pembicaraan Mami dan Tante Mei Hwa. Bryan yang tidak pulang seminggu. Bryan yang gonta-ganti pacar. Bryan yang berantem di sekolah.
Ketika Bryan dengan rambut yang sudah tidak dicat dan penampilan rapi menghampirinya di kedai kopi tempat ia bekerja paruh waktu di San Diego, ia menanggapinya dengan dingin.
“Lo mau ngapain?” tanya Livi sambil mengelap meja.
“Gue denger dari Dimas, yayasan lo butuh dana.” Bryan membuka percakapan.
“Kalo mo kasih sumbangan nomor rekening ada di website,” ujar Livi ketus.
Bryan menggaruk kepala. “Uangnya udah ditransfer, sih. I just want to see you.”
“But I don’t want to see you.”
“Gue denger lo putus sama Simon.”
Livi mendelik. Apa urusannya Bryan dengan kehidupan pribadinya! “Terus lo pikir gue mau sama lo gitu? Ngaca.”
“Lo enggak sadar ya gue dulu deketin lo?”
Livi tidak bodoh, tentu saja ia sadar. Namun, ia juga sadar siapa Bryan. Amit-amit dideketin playboy cap badak.
“Terakhir kita ketemu lo minta gue berhenti minum-minum. Gue dah berhenti,” sambung Bryan.
“Itu demi nyokap lo, monyong!”
“Gue sekarang kerja sama Dimas.”
“Kenapa lo? Kepentok?” ejek Livi sinis.
“Loh nyokap lo enggak cerita? Gue kecelakaan mobil,” kata Bryan heran. Tiba-tiba, ia tertawa kecut sendiri, “Ya siapa lah gue, enggak penting.”
“Serve you right.”
“Gue di ICU 2 minggu. Semua dah pada hopeless. Atau malah sebenernya seneng, si anak pembawa masalah akhirnya mati juga,” ujar Bryan. “Bangun-bangun gue di ICU. Nyokap nangis-nangis. Kata dokter, my recovery was a miracle.”
Livi melipat tangannya di dada menatap Bryan dengan tajam sambil berkata, “Terus gue harus bilang wowgitu?”
Bryan sadar usahanya sia-sia. Tak lama, ia berpamitan dan tidak pernah kembali. Livi memeriksa rekening bank yayasan dan ternyata betul, ada dana masuk yang cukup untuk pembangunan lapangan basket dan tiga bulan biaya operasional. Tak lama, Simon melamarnya. Ia pikir, selesai sudah jejak Bryan di hidupnya. Kenapa sekarang tiba-tiba begini?
Lisbeth terlalu sempurna untuk Bryan!
***
[1] liǎng qíng xiāng yuè: menjadi mentari bagi pasangan.



