Wim lega ketika ia kembali dari Hongkong dan mendapati Lisbeth sudah kembali seperti biasa. Siang ini, ia mengajak Lisbeth pergi makan berdua ke restoran di sebuah mal. Lisbeth bergelayut manja di lengannya. Di antara ketiga putrinya, hanya Lisbeth yang masih mau bermanja-manja dengan dirinya. Wim dan Lisbeth berjalan santai mengelilingi mal. Saat seperti ini membuat Wim terus-menerus mengenang masa kecil Lisbeth.
Di masa kanak-kanak, Lisbeth suka demam ketika Wim pergi ke luar kota atau keluar negeri untuk urusan bisnis. Heni menemukan cara manjur untuk menurunkan demam Lisbeth, yaitu membiarkan Lisbeth tidur dengan kaus Wim yang belum dicuci. Awalnya Wim menolak. Ia selalu berkata, “Buat apa? Jangan aneh-aneh.” Namun, keesokan harinya demam Lisbeth hilang. Setelah terjadi lebih dari lima kali, Wim mulai percaya.
Jika ia tidak pergi, Lisbeth suka memanggilnya, “Papi, sini. Tepuk-tepuk.” Wim akan menepuk-nepuk lembut punggung Lisbeth sampai Lisbeth jatuh tertidur. Tak pernah bosan ia memperhatikan wajah Lisbeth. Alisnya yang tebal seperti dilukis, bulu matanya lentik, juga hidungnya yang mungil. Wim mengelus pipi Lisbeth yang lembut. Lisbeth sekarang sudah bukan anak sepuluh tahun yang jika sakit hanya mau minum obat jika disuapi Wim. Sebuah pertanyaan selalu menggelayut di benaknya, “Siapa nanti yang gantiin Papi kalau Papi udah enggak ada?” Pertanyaan yang ia tak tahu apa jawabannya.
Mereka berjalan melewati gerai snack.
“Om Wim!” Suara seorang pria memanggilnya. Wim menoleh. Dari jauh, ia tidak mengenali pria yang memakai kaus merah muda dan topi itu, tetapi tangan Lisbeth yang tadi bergelayut di lengannya tiba-tiba terlepas.
“Bryan,” sapa Wim ketika mengenali sosok di balik topi itu. “Kamu buka di sini?”
“Iya, Om. Ini outlet yang baru buka. Mau mampir, Om?” Bryan menawarkan.
“Kami baru makan,” tolak Wim halus. “Lisbeth mau?” tanya Wim basa-basi. Wim tahu, Lisbeth tidak suka minuman manis. Di luar dugaan, Lisbeth mengangguk dengan sedikit tersipu.
“Ada jus asli yang tanpa gula, Om. Jusnya pakai buah asli.” Bryan menunjukkan menu mereka dan memberi beberapa masukan.
“Om coba yang buah naga pakai nata de coco, ya,” ujar Wim. “Kamu turun ke outlet juga?”
“Kalau lagi butuh aja, Om. Hari ini, ada satu pegawai enggak masuk. Padahal Jumat itu biasanya rame. Banyak ibu habis jemput anak pulang sekolah pergi ke mal buat belanja.” Dengan sigap, Bryan menyiapkan jus buah naga lalu memberikannya kepada Wim.
“Sekarang lagi sepi, Om. Habis makan siang soalnya.” Wim mengangguk mendengar penjelasan Bryan.
“Lisbeth mau apa?” tanya Wim. Sebelum Lisbeth membuka mulut, Bryan sudah menjawab, “Green tea bubble with honey?”
“Iya.” Lisbeth tersenyum. Lagi-lagi pipinya merona.
“Berapa semuanya?” Wim bersiap mengeluarkan dompetnya.
“Enggak usah, Om,” tolak Bryan sambil memberikan minuman Lisbeth. “Cuma segini aja. Mau ke mana lagi, Om?”
“Sudah mau jemput Tante Heni habis facial,” jelas Wim sambil tertawa.
“Parkir di mana, Om?” Bryan membuka topinya dan berjalan keluar gerai. Ia menoleh ke arah salah satu pegawainya. “Di, kamu urus dulu ya.”
“Enggak usah, Bryan sibuk,” tolak Wim.
“Sebentar saja, Om. Parkir di mana?”
“Di basement deket supermarket,” jawab Wim. Sambil berjalan, ia memperhatikan Lisbeth yang tidak lagi bergelayut di lengannya. “Om mau ke toilet dulu,” pamit Wim ketika melihat tanda toilet di sebelah kanannya.
Ketika Wim keluar dari toilet, ia menyaksikan Bryan berdiri sangat dekat di hadapan Lisbeth, jarak keduanya hanya beberapa sentimeter. Pipi Lisbeth merona merah, kedua tangannya sibuk bergerak. Mata Bryan terkunci di wajah Lisbeth dan sebuah senyuman lebar menghiasi wajahnya.
Begitu Bryan menyadari Wim berjalan ke arah mereka, ia buru-buru melangkah mundur dan Lisbeth pun menunduk. Wim tertawa dalam hati, tetapi tetap memasang wajah serius.
Sebuah pikiran muncul di benaknya, “Apakah tempatnya di hati Lisbeth sudah tergantikan?
***
“Jadi, kamu sudah berapa lama jadian sama Bryan?” tanya Wim di dalam mobil. Wajah Lisbeth sontak memerah menyadari pertanyaan papinya.
“Papi tahu?” tanya Lisbeth gelisah. Papinya selalu seperti itu.
“Papi kan pernah muda. Dari cara Bryan lihat kamu aja, Papi udah tahu,” tandas Wim.
“Baru, Pi,” jawab Lisbeth pelan. Wajahnya merah lagi seperti anak SD yang tertangkap basah menjilat adonan kue dari mangkuk mamanya. “Papi … marah?” tanya Lisbeth perlahan.
“Tidak. Nanti kamu suruh Bryan ketemu Papi,” ujar Wim tenang.
“Papi … enggak setuju?” tanya Lisbeth pelan. Hatinya mencelus. Ia cemas, bagaimana kalau papinya tidak menyukai Bryan?
Wim memandang Lisbeth. Ia membaca ketakutan di wajah Lisbeth. Wim menghela napas. “Buat pacaran Papi setuju. Buat menikah … nanti dulu.”
Lisbeth memerah seketika. “Baru mulai, Pi. Belum mikir ke situ.”
“Justru harus mikir ke situ, Lisbeth. Papi enggak mau anak Papi pacaran digantung enggak jelas. Nanti malem suruh Bryan ketemu Papi.”
Lisbeth memaksa senyum sambil mengangguk, jantungnya berdebar kencang. Bagaimana jika Papi tidak setuju?
***
[1] méi mù chuán qíng: menyampaikan perasaan melalui ekspresi wajah.



