Dunia Lisbeth #23: 他已有了爱人 – Yang Sudah Berpunya

Meja kerja Bryan yang biasanya dipenuhi kertas order ataupun merchandise Bubbly Tea kini berisi tumpukan hasil ujian Mandarin murid-murid Clara. Clara menemani Bryan melakukan closing sambil dirinya menyelesaikan koreksian. Mereka sedang menunggu delivery ramen yang Clara pesan.

“Ada message.” Clara memanggil Bryan yang sedang sibuk dengan mesin fotokopi.

“Tolong bukain. Tanggung,” kata Bryan.

“Aku enggak tahu password-nya.” Clara berjalan menghampiri Bryan.

“Dua-kosong-kosong-lima,” jawab Bryan tanpa menoleh.

Clara tertegun. Bryan memberikan password handphone-nya? Clara tersenyum. Ini kemajuan. Apakah Bryan mulai tertarik kepadanya? Inikah Wattpad moment-nya? Harapannya membuncah.

Sudah lama Clara berjuang keras untuk hubungan mereka. Bryan cenderung tidak sehangat yang ia pikir. Clara tahu he tried to make things works between them.

Sebulan dua kali, Bryan pasti pergi ke sekolah YST. Biasanya Bryan mengajak Clara ke sana. Dan Clara selalu mau. Ia suka melihat Bryan di sana. Pria itu banyak bicara, banyak tertawa. Selain membacakan cerita, Bryan juga mengajar anak-anak bermain basket. Namun, sepulang dari Sentul, Bryan kembali diam. Jika Clara bertanya, jawaban Bryan standar, “Capek, La. Kamu aja yang ngomong. Aku dengerin.”

Kencan mereka kebanyakan diisi dengan menonton film. Bryan seperti mencari kegiatan yang tidak memerlukan banyak bicara. Setelah itu, pergi makan dan bercakap-cakap seadanya. Clara tidak pernah benar-benar mengenal Bryan karena lelaki itu tidak pernah membuka diri kepadanya. Sejak awal, ia tahu bahwa orang tua Bryan yang bersemangat untuk hubungan mereka. Sebelas dua belas dengan orang tuanya. Begitu orang tua Clara mengetahui adik ipar Vina itu Bryan Lau dari keluarga Lau, mereka bertambah semangat. Cicinya sudah berbisik, Keluarga Lau jauh lebih kaya daripada keluarga suaminya.

“Hoki lo! Jangan sampai lepas. Itu ikan kakap,” pesan cicinya sambil tergelak. “Eh, bukan kakap lagi. Itu salmon impor!”

Cerita mereka semacam cerita-cerita di Wattpad atau film-film perjodohan. Pria kaya raya dengan gadis biasa saja. Bukan kekayaan yang menarik hati Clara, tetapi Bryan secara pribadi. Bryan yang gagah, terkadang seperti tenggelam dalam pikirannya sendiri.

Mengapa Clara bertahan? Ya, karena cerita-cerita itu biasanya berakhir bahagia. Sang cowok yang tadinya dingin, diam-diam jatuh cinta menyadari kesungguhan/kecantikan/ kepolosan/kejujuran/whatever dari cewek yang tadinya tidak ia sukai itu. And they lived happily ever after. The end. Dan baru saja Bryan memberitahu password iPhonenya. 

“Oke.”

“Kamu cek ya, aku ke bawah dulu.”

Clara membuka handphone Bryan, mengecek pesanan makanan sedang disiapkan. Ia hendak menutup aplikasi ketika tiba-tiba notifikasi Your Memories of Today dari Google Pics muncul. Seiring notifikasi itu, muncul juga serangkaian foto.

Clara ragu sejenak. Ia nyaris menutup ponsel Bryan ketika yang muncul adalah foto Lisbeth. Muncul satu. Lalu dua. Lalu slideshow yang seluruhnya berisi foto satu orang. Lisbeth.

Clara membuka folder itu dengan penasaran dan terperenyak. Seluruh foto di folder yang diberi judul I, adalah foto Lisbeth. Dalam aneka pose. Sebagian besar candid. Lisbeth tertawa. Lisbeth tersenyum. Lisbeth dengan silly face. Lisbeth sendirian. Lisbeth dengan anak-anak.

Pada foto terakhir, ada dua orang di foto itu. Bryan dan Lisbeth. Keduanya tertawa lepas. Clara terdiam. Bryan tidak suka difoto. Foto mereka berdua bisa dihitung dengan jari. Itu pun selalu foto formal, badan tegak, mata memandang lurus tanpa senyum.

Bryan yang di foto itu, bukan Bryan yang bersamanya. Itu Bryan yang gembira, yang punya binar di matanya. Itu Bryan yang menyebabkan Clara mau sebulan dua kali pergi jauh-jauh ke Sentul. Karena Bryan yang itu … hanya muncul di sana.

Clara menutup folder itu. Setelah beberapa saat, wallpaper berganti menjadi fotonya. Clara tersenyum getir. Inikah masa depannya? Wajahnya yang terpampang secara resmi. Dilihat semua orang. Dibawa ke acara-acara. Namun, ada satu folder tersembunyi di dalam sana, yang penuh berisi foto perempuan lain. Tampak luar, Bryan miliknya. Namun, siapa yang tahu siapa yang ada di pikiran Bryan, di lamunannya, dalam mimpinya? Clarakah yang ada di sana?

Sebenarnya Bryan tak pernah sekali pun mengungkapkan perasaannya. Tidak ada kata-kata ‘will you be my girlfriend?’ Sudah 6 bulan mereka …. Clara kehilangan kata-kata untuk menjelaskan hubungan mereka yang tanpa status. Namun, Mei Hwa sering mengajaknya pergi shopping berdua, jika ada acara keluarga, Bryan mengajaknya.

Tunggu sebentar. Bryan mengatakan password-nya 2005. Ia teringat kejadian beberapa waktu lalu. Tanggal 20 Mei. Angka 20-05. Apakah ia mengada-ada karena sedang terbakar cemburu? Clara menggeleng, mengenyahkan pikiran itu. Ah, ia terlalu banyak berpikir. Ia tidak bisa mengabaikan kemungkinan bahkan password iPhone Bryan adalah tanggal lahir Lisbeth.

Ia sekarang mengerti kenapa Lady Diana mengatakan, “There are three of us in this marriage … a bit crowded.”

Bagi Clara, ini tidak hanya a bit crowded. This is suffocating. Menyesakkan.

Ia sungguh tidak tahu bagaimana gadis-gadis di cerita-cerita lain bertahan ketika menghadapi situasi seperti ini. Should she give up? Melepas salmon impor dan impian menjadi nyonya besar? Tunggu sebentar, memangnya Clara ingin menjadi nyonya besar?

***

“Selamat datang di YST,” gumam Lisbeth. Ia sedang berlatih presentasi di hadapan Bryan. Beberapa bulan lagi, akan ada acara open house berikutnya.

“Lisbeth, lihat ke depan,” koreksi Bryan. Lisbeth berpura-pura tidak sadar akan komentar Bryan. Akhir-akhir ini, jantungnya berdebar lebih cepat ketika ada Bryan. Ia sebenarnya menyesal kenapa harus bercerita kepada Bryan bahwa ia diminta memberi kata sambutan.

Bryan menawarkan diri membantu Lisbeth berlatih. Tadinya, Lisbeth pikir ini kesempatan bagus. Ternyata tidak. Jantungnya seperti lari maraton setiap memandang Bryan apalagi jika pria itu tersenyum.

“Lisbeth, fokus!” tegur Bryan. Ia tampak gelisah. “Habis ini aku ada acara.”

“Bryan pergi saja,” usir Lisbeth halus. Pergilah jauh-jauh.

“Presentasi bagaimana?”

“Nanti latihan lagi setelah balik dari Singapura.” ujar Lisbeth. Beberapa minggu lagi, ia akan ke Singapura. Ia butuh liburan. Lari dari Jakarta, dari Jimmy dan Bryan.

“Yakin?” Alis Bryan terangkat sebelah. Lisbeth mengangguk cepat-cepat lalu menunduk. Bryan mendekat lalu menepuk bahu Lisbeth.

Okay, pergi dulu, ada janji dengan Clara.”

Clara! Lisbeth kembali dikejar rasa bersalah. Bryan punya Clara. Tak semestinya ia berdebar ketika Bryan tersenyum kepadanya. Ia berusaha tidak peduli ketika Bryan berjalan keluar. Lisbeth memejamkan mata. Hitam. Gelap. Napasnya mulai sedikit tenang. Namun, dari layar hitam itu perlahan terbentuk wajah seseorang. Bryan.

Ia sudah gila ….

***


[1] ta yi you le ai ren: Ia sudah punya kekasih.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here