“Wah, bagus banget! Makasih.” Bryan membuka plastik itu dengan penuh semangat. “Boleh dicoba sekarang?”

Lisbeth mengangguk sambil tersenyum. Ia senang melihat binar di mata orang-orang yang menerima bajunya. Rasanya semua kerja lelah terbayar lunas. Bryan keluar sambil mengenakan kemeja batik itu. Lisbeth tersenyum makin lebar. Kemeja tangan panjang itu pas.

“Bagaimana? Suka?” tanya Lisbeth waswas. Lisbeth terbiasa membaca raut muka klien karena biasanya itu respons alamiah mereka. Jika mereka tersenyum, terlihat antusias, Lisbeth lega. Jika mata mereka berkerut, memicingkan mata, mulut mereka turun, Lisbeth langsung waspada. Bryan tampak gembira. Namun, Lisbeth merasa perlu jawaban verbal untuk menegaskannya.

“Suka banget. Berapa?”

Lisbeth tertawa. “Gratis.”

Bryan melongo. “Masa gratis? Ini kainnya mahal. Sutra?”

Lisbeth mengangguk. Tangannya membentuk isyarat untuk sutra. “Bryan sudah banyak sekali membantu. Sering membawakan bubble tea. Membantu di YST. Minggu lalu juga membantu menghadapi klien. Aku belum pernah kasih apa-apa.”

Nasihat papinya terngiang. Kita jangan sampai berutang budi sama orang. Kalau orang baik, kita harus lebih baik lagi.

“Tidak usah. Bryan bayar tidak apa-apa.”

Lisbeth menggeleng. “Tidak boleh bayar. Gratis. Begitu lihat kain batik biru, aku tahu ini cocok untuk Bryan. Bryan suka memakai kemeja warna putih, biru, tapi Bryan tidak punya batik biru, kan?”

“Kok bisa tahu ukuranku?” Bryan penasaran. Lisbeth tertawa geli. Ia menikmati bisa membuat Bryan tercengang. Mau tak mau ia teringat akan Mak Kintan dengan matanya yang bisa mengukur kain tanpa penggaris. Kini, mata Lisbeth juga ada penggarisnya! pikir Lisbeth bangga.

“Rahasia.” Senyum Lisbeth sok misterius.

Lisbeth menghela napas lagi. Mengapa Bryan tampak sangat gembira dengan pemberiannya, tetapi Jimmy seolah-olah tak peduli? Lisbeth tidak mengerti. Rasa bimbang itu tetap ada. Benarkah mereka pacaran?

Belum lagi jarangnya kesempatan mereka bersama. Bekerja sebagai fotografer, jam kerja tidak tentu. Kadang pula pergi ke daerah pelosok dengan sinyal ponsel seadanya. Jika Jimmy mengirim pesan, Lisbeth pasti membalas secepat mungkin. Namun, tidak begitu sebaliknya. Bisa berjam-jam bahkan beberapa hari sebelum ada balasan dari Jimmy.

Lisbeth menebas pikiran buruknya. Jimmy pria yang baik, tampan, dan … Tuli. Jimmy sibuk bekerja, mencari uang. Wajar kalau pesannya jarang dibalas. Lisbeth menenangkan pikirannya. Mungkin Jimmy malu berganti baju di sini. Pasti karena itu. Bukan karena Jimmy tidak menghargai pemberiannya, tetapi karena Jimmy malu. Lisbeth mencari alasan untuk membela kekasihnya.

Apa lagi yang ia pinta? Mereka teman sekolah. Punya lingkungan yang sama. Mereka sama-sama Tuli. Mereka tahu jika bertengkar, mereka harus menatap mata masing-masing ketika mereka meminta maaf. Mereka tahu mereka harus berhadapan ketika bicara. Ada banyak hal kecil tentang dunia Tuli yang hanya bisa dimengerti oleh sesama Tuli.

Jimmy pasti mengerti Lisbeth. Ya, kan? Entahlah. Eh, bukan entahlah. Semoga. Lisbeth harus optimis. Harus percaya. Sebaik-baiknya Bryan, ia cowok dengar. Lisbeth tidak ingin mengalami nasib seperti Bu Euis dan Nala. Lebih aman dengan Jimmy.

***

Bryan menatap Lisbeth dan Jimmy yang bergandengan tangan. Hatinya nyeri. Seumur-umur, ia tidak pernah cemburu menyaksikan pacar atau mantannya pergi dengan pria lain. Kenapa dengan Lisbeth hatinya diaduk-aduk seperti ini?

Gue mikir apa sih? Jadian sama Lisbeth? Gila. Nggak mungkin banget. Lisbeth jelas-jelas bilang dia benci cowok dengar. Belum lagi kalau Livi denger. Dan Om Wim … mana mau dia izinin Lisbeth pacaran sama gue?

Bryan sempat berharap banyak ketika Lisbeth memberinya kemeja sutra kemarin. Ketika ia sedang mencoba kemeja itu, Lisbeth berjalan ke belakang Bryan. Ia tiba-tiba merasakan jemari Lisbeth menekan lembut beberapa titik di tulang punggungnya. Jantungnya langsung berdebar lebih cepat. Mau tak mau ia membayangkan bagaimana rasanya jika jemari lembut itu memijat punggungnya. Tangan yang sama menarik bahunya. Bahunya yang biasanya terkulai menjadi tegap. Lisbeth memberi tanda supaya Bryan melihat ke arah kaca.

“Bryan jangan membungkuk. Begini bagus. Badan tegap, lebih gagah,” puji Lisbeth, “Bryan bagus memakai warna biru.”

Dari pantulan kaca, Bryan menatap sosok Lisbeth. Ia memperhatikan mata Lisbeth. Itu mata desainer yang mengomentari modelnya. Designer’s eyes, not a lover’s eyes. Bryan menelan ludah. Ia berusaha keras untuk masuk ke dunia Lisbeth, belajar bahasa isyarat, tetapi Lisbeth hanya menganggapnya sebagai teman. Bahunya terkulai lagi.

Lisbeth tertawa. “Kebiasaan buruk.” Bryan merasakan jemari Lisbeth menekan punggungnya lagi dan menarik bahunya. Ia nyaris bertanya, jika ia mengubah posturnya, akankah Lisbeth mau mengubah hatinya? Sejujurnya, Bryan tergoda untuk membungkuk lagi supaya Lisbeth menyentuhnya lagi.

Dan kini, di depan matanya, tangan yang menyentuh punggungnya itu berada di genggaman erat pria lain. Ini impian yang tak akan bisa jadi nyata.

Di perjalanan pulang, benaknya terus berpacu. Bayangan Lisbeth bergandengan tangan dengan Jimmy berputar ulang seperti kaset rusak di hadapannya. Bryan tak mengerti kenapa ia harus merasa seperti itu? Ia berencana akan mengurung diri di kamar begitu sampai rumah.

Sayang hari ini hari sial bagi dirinya. Ketika ia tiba di rumah, ada mobil Alphard Vina di halaman dan satu mobil lain yang tak dikenal. Awalnya Bryan tak ambil pusing, hingga ia masuk disambut suara melengking Mei Hwa.

“Nah ini anaknya pulang!”

Bryan memasang senyum malas. Ada apa lagi ini? Senyumnya menghilang ketika menyadari siapa yang duduk bersama dengan Mei Hwa di meja makan.

“Hai Bryan,” sapa sosok itu malu-malu.

***


[1] qiān lǐ sòng é máo: menempuh seribu mil hanya untuk mengantar sehelai bulu angsa. Hadiah yang dibuat dengan perasaan yang mendalam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here