Restoran Angke, Kelapa Gading.

“Selamat datang,” sapa seorang pelayan berseragam cheongsam hitam yang membukakan pintu kaca. Telinga Bryan menangkap suara Teresa Teng menyanyikan lagu Tian Mi Mi mengiringi suara percakapan yang beradu dengan denting sendok dan sumpit.

Terlihat banyak meja bundar kaca dan kursi-kursi berjok merah memenuhi ruangan. Keluarga-keluarga, sebagian di antaranya tiga generasi, bersantap malam bersama. Percakapan dalam bahasa Indonesia, sedikit Hokkian, Hakka, Cantonese dan bahasa Inggris terdengar di sana sini.

“Aiyo, Gwen, eat your rice nanti jadi cold. Cek fan yang rapi. Nanti nasinya nangis,” omel seorang ibu muda dengan logat medok kepada putrinya.

Beberapa pelayan berseragam mondar-mandir membawa walkie talkie bertanya apakah masih ada meja untuk 8 orang di pojok ruangan. Aroma lezat tercium dari para pelayan yang hilir mudik membawa ayam lada garam yang digoreng kering, udang berselimut mayones, maupun mi ulang tahun dengan telur puyuh yang diberi warna merah.

Di sebelah kanan pintu masuk, terdapat tangga kayu megah melingkar ke lantai dua dihiasi karpet merah dan bunga-bunga. Persis di depan tangga, terpajang rapi dua foto prewedding dari dua pasang mempelai disertai nama dan tempat ruangan resepsi sebagai petunjuk kepada para undangan supaya tidak masuk ke ruang resepsi yang salah.

Ada weddingSiap-siap kena ceramah, keluh Bryan seraya bergegas masuk lift yang terbuka lalu menekan tombol lantai 4 tempat beberapa private room berada. Lagu karaoke dalam bahasa Mandarin terdengar sayup-sayup dari private room lain.

Bryan selalu menghindari pertemuan keluarga. Namun, hari ini ulang tahun mamanya. Sebelum membuka pintu, Bryan menarik napas mengumpulkan kekuatan.

Jangan terpancing. Jangan marah. Jangan banting sendok. Ini ulang tahun Mama.

Begitu pintu dibuka, bukan lantunan nada Teresa Teng, Andy Lau, ataupun lagu Tong Hua yang menyambutnya,melainkan suara dinosaurus raksasa berwarna ungu menyanyi I love you, you love me, we’re happy family.

Yeah, right. A happy family, dengus Bryan.

“Maaf telat, Ma. Happy birthday.” Bryan mencium pipi Mei Hwa.

Seperti biasa, Ah Liong duduk di tengah, Mei Hwa di sebelah kanannya dan Benny di sebelah kirinya. Bryan? Tak penting ia duduk di mana. Di keluarga mereka, posisi tempat duduk ada maknanya. Ah Liong biasa duduk di ujung meja, tetapi karena kali ini mereka memakai meja bundar, maka posisi Ah Liong di tengah. Ruangan privat ini bisa diisi 12 orang. Kedua keponakan Bryan duduk di TV yang sedang menayangkan serial Barney, ditemani dua Nanny berseragam pink ada di dekat mereka.

Makanan sudah terhidang ketika ia masuk. Sup kepiting asparagus, lindung cah fumak, udang goreng tepung saus mayones, burung dara saus mentega, ayam kuluyuk, cingkong kepiting, brokoli jamur hitam, kepiting soka cabai bawang, sapi lada hitam, dan tentu saja bakmi goreng dengan telur puyuh merah.

“Pa, Ma, Ko Ben, Aso[2], makan.” Bryan menyapa semua yang ada. Di keluarga mereka, makan bukan sekedar perkara memasukkan makanan ke dalam mulut. Ada serangkaian aturan yang Bryan benci. Selain posisi tempat duduk, ada aturan tak tertulis bahwa dilarang makan sebelum Papa Mama duduk. Sebagai yang paling kecil, ia harus menyapa semua untuk mempersilakan makan. Lalu masih ada—

“Kenapa telat?” tanya Benny memotong pikiran Bryan. 

Bryan menarik napas. Ia tidak suka jika Benny mulai menginterogasinya.

“Macet,” jawab Bryan singkat.

“Yah, tahu sendiri daerah sini pasti macet. Berangkat pagian,” cela Benny.

Bryan diam saja. Jangan terpancing. Ia mengambil burung dara goreng kesukaannya. Percuma membantah, ia selalu salah di mata keluarganya.

“Udah punya pacar belum?” cecar Benny.

“Belum,” Bryan menjawab tanpa melirik ke Benny. Matanya tetap menatap piringnya. Kali ini, ia mengambil cingkong kepiting dan bakso kepiting udang sebesar bola golf. Ia mencocol cingkong kepiting di saus asam manis.

“Bryan … dulu kamu tukang gonta-ganti pacar, kenapa sekarang malah enggak punya? Udah mau tiga puluh lho kamu. Benny udah married waktu seumur kamu dulu, udah punya Natasha,” celetuk Mei Hwa sambil menunjuk cucunya yang paling besar.

Yeah, great … seumur kamu dulu, Benny udah bisa baca. Seumur kamu, Benny udah beli rumah. Seumur kamu dulu, Benny udah dapat MBA. Seumur kamu dulu, Benny udah marriedmarried-nya sama anak partner bisnis Papa, pula, batin Bryan. Bryan menggaruk belakang lehernya. Ia berharap bisa kabur setiap pertemuan keluarga. Apa enaknya mendengar rentetan kekuranganmu disebut satu per satu lalu diulang dan dibandingkan dengan kakak laki-lakinya yang sempurna? Jangan terpancing. Bryan merapal mantranya.

“Belum nemu, Ma,” jawab Bryan sekenanya. “Aku mau pesen minum.”

Mei Hwa menatap Bryan dengan kuatir. “Kamu jangan terlalu pemilih.”

“Ma … aku baru ingat, kemarin ketemu sama temanku.” Suara Vina, aso-nya, bersemangat. “Adiknya masih single juga. Guru di sekolah internasional.”

Great … sekarang Aso mau jodohin dia sama cewek tak dikenal. Bryan melirik Vina sepintas. Ia paham mengapa orang tuanya bangga sekali dengan menantu mereka. Perawakan Vina sedang, kulitnya putih seperti porselen dengan rambut hitam lurus, gayanya anggun dengan makeup yang tak mencolok. Tipe cantik kesukaan ayi-ayi teman Zumba mamanya. Cantik, lembut, ramah senyum. Namun, ada hal lain yang membuat orang tuanya sangat girang.

Vina berasal dari keluarga old money, The Limanjaya. Mei Hwa langsung memborong selusin tas brandedbegitu tahu Benny pacaran dengan putri keluarga Limanjaya. Katanya supaya tidak malu-maluin kalau diajak ketemu calon besan.

“Adiknya lulusan S1 dari China. Pulang jadi guru. Keluarganya lumayanlah. Cicinya sudah married sama yang punya Thai Bistro, Hanasaki,” kata Vina bersemangat. 

Yeah … jangan lupa bobot bibit bebet. Geram Bryan.

“Kuliah di kota mana? Beijing? Shanghai?” tanya Ah Liong sambil melirik Vina, lalu meraih sebuah kepiting soka.

Tangan Bryan membeku. Bryan langsung waspada.

“Guangzhou, Pa,” jawab Vina.

“Bisa konghu wa, bahasa Kanton?”

Oh, yeah … menantu merangkap penerjemah. Smart. Bukan Papa kalau tidak ada sangkut pautnya sama bisnis. Semua harus ada urusannya sama family business.

“Wah, aku enggak tahu. Yang pasti Mandarin-nya jago.”

“Kalo bisa konghu wa, bahasa Kanton lebih bagus. Kita jadi gampang kalo mau co seng li bisnis, enggak perlu pakai translator lagi,” Ah Liong mengangguk-angguk.

Vina sibuk mengirim pesan.

“Katanya, Mandarin lancar, cantonese bisa dikit-dikit. Buat nawar-nawar bisa,” Vina membaca jawaban di WhatsApp.

“Bagus. Kamu ketemuin,” putus Ah Liong tanpa sedetik pun melihat ke Bryan. Hati Bryan merasa iri kepada kepiting soka karena kelihatan lebih menarik bagi papanya daripada keberadaan dirinya. This is how things work in his family. All is about business. Feelings are not important. Money is. Semestinya ia sudah terbiasa, tetapi kenapa sembilu di hatinya tetap terasa?

“Ada fotonya enggak?” Mei Hwa masih penasaran.

Vina mencari foto di iPhone dan menunjukkan kepada mertuanya.

“Ooo be bai. Enggak jelek. Bryan mau lihat?”

Bryan menggeleng. Tampang tidak penting. Mau gadis itu jenggotan dan bungkuk kalau Papa bilang temuin atau harus menikah sama dia, Bryan bisa bilang apa?

“Aso, tanyain dulu,” Bryan memutuskan untuk drop the bomb.

***


[1] shú néng shēng qiǎo : Bisa karena biasa.

Pada era Dinasti Song Utara, ada seorang pemanah bernama Chen Yao Zi. Ia sangat lihai dan sombong. Seringkali ia memamerkan keahliannya, hingga suatu hari ada seorang kakek tua yang berkata, “Bisa karena biasa.” Chen Yao Zi tersinggung. Kakek tua lalu mengambil sebuah guci dan menaruh koin China kuno yang memiliki lubang segi empat di tengah koin. Lalu Si Kakek menuang minyak hingga guci itu penuh tanpa sedikit pun menumpahkan minyaknya. Semua orang terkagum-kagum, sedangkan si Kakek hanya berkata, “Ini tidak istimewa. Rajin berlatih pasti bisa.”

[2] Aso: kakak ipar perempuan. Di beberapa daerah juga disebut sebagai Sao-sao.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here