Lisbeth baru saja menyelesaikan 15 sketsa desain baju dan membuat target market, tahapan produksi, harga, dan lain-lain. Mesin printer bergerak dan hatinya terus berdoa. Kompetisi ini diselenggarakan oleh majalah mode terkenal. Jika lulus tingkat nasional, juaranya akan diberi kesempatan berlaga melawan desainer-desainer muda dari negara-negara lain. Beberapa desainer kondang di Indonesia adalah jebolan dari pemenang lomba ini. Lisbeth berharap paling tidak ia bisa masuk 20 semifinalis, yang akan diberi kesempatan mempresentasikan karyanya di depan para juri yang terdiri dari desainer kondang.
Presentasi. Perut Lisbeth terasa sedikit kram ketika ia mengingat pengalamannya di Fashion Show perdananya. Ia harus berlatih lebih banyak bicara di depan orang, khususnya orang dengar. Lisbeth merapikan kertas-kertas yang baru selesai dicetak, memasukkannya ke dalam amplop cokelat, lalu menuliskan alamat di amplop itu.
New comments. Lisbeth melonjak ketika sadar ada review baru yang masuk. Dengan berdebar, Lisbeh membuka lamannya. Review itu memuji gaunnya!
Yeay! Lisbeth bersorak dalam hati! Hatinya melambung. Desainnya disukai orang! Ia makin bersemangat membuat pesanan sepasang pakaian untuk sangjit, acara lamaran. Ketika tangannya mulai menyusun payet, ia seolah-olah terbang ke dimensi lain, tempat segalanya indah. Membuat baju adalah cara Lisbeth mengekspresikan dirinya. Semua rasa letihnya hilang ketika pakaian yang dibuatnya selesai.
Ia mengamati maneken di sebelahnya yang terbalut kemeja sutra merah tua. Di bagian dada kemeja itu, ada seekor naga yang ditenun dari bordiran benang-benang emas seolah-olah terbang di atas awan-awan. Sang Naga sudah siap, waktunya Lisbeth membuat pasangannya.
Ia membayangkan burung phoenix, burung legenda yang sering digunakan sebagai pasangan naga. Burung phoenix berwarna kuning keemasan, dengan sayap berwarna biru terang, ekor panjang berwarna hitam, dan sedikit warna kuning di ujung-ujung ekornya. Di tengah-tengah ekornya, ada beberapa lingkaran berwarna hitam dan kuning yang sepintas terlihat seperti ekor burung merak. Dekat kepala burung phoenix, sepasang bunga peoni merah muda dan di dekat kaki burung phoenix terhampar daun-daun hijau. Bunga peoni adalah lambang keberuntungan, sedangkan daun-daun hijau lambang kehidupan, awal yang baru. Dengan dasar kain berwarna merah cerah, payet-payetnya akan terlihat hidup.
Ia mengambil satu per satu payet dan menjahitnya sesuai dengan pola. Burung phoenix dari kepalanya perlahan berpindah menjadi nyata di tangannya. Senyum Lisbeth makin lebar.
Ia asyik bekerja hingga bayangan seseorang jatuh di hadapannya. Lisbeth mengangkat kepala. Senyum muncul di wajahnya ketika melihat siapa yang datang.
“Green tea bubble tea,” kata Bryan sambil meletakkan cup minuman. “Sibuk?”
Lisbeth mengangguk. Ia menunjukkan gaun yang sedang ia beri payet. “Bagus tidak?” tanya Lisbeth.
Bryan memberi jempol. Tiba-tiba, ia mendapat ide cemerlang. Mungkin Bryan bisa memberi masukan untuk beberapa desainnya. Ia menunjuk maneken di pojok. Ada sebuah gaun yang sudah hampir jadi tetapi ia belum sreg. “Kalau itu?”
“Hmm,” gumam Bryan. Mata Bryan berpindah dari wajah Lisbeth ke arah cocktail dress satin merah.
“Bryan,” panggil Lisbeth. Ia menangkap tatapan ragu-ragu di mata pria itu. “Kurang bagus, ya?” tebak Lisbeth dengan hati berdebar.
Bryan berjalan ke tumpukan kain organza di pojok ruangan. Ia menemukan organza semitransparan berwarna senada dan melingkarkannya di pinggang maneken. Gaun Lisbeth yang tadinya hanya gaun selutut, kini ditambah hamparan organza menjadi sepanjang mata kaki. Lisbeth terperenyak, kain organza yang ringan tampak seperti sayap transparan cantik yang melayang lembut ditiup angin sepoi-sepoi. Benak Lisbeth langsung memunculkan lukisan kelopak-kelopak mawar merah yang berdansa di udara. Tangannya segera bergerak di kertas membuat sketsa dan memberi judul Golden Rose. Ia sudah terbayang payet macam apa yang akan ia jahit di gaun itu. Hatinya gembira, ia tahu apa yang akan ia lakukan.
“Merah.” Bryan menggerakkan jempolnya di bawah bibirnya, seolah-olah memoleskan lipstik, membentuk gerakan isyarat untuk kata merah.
“Kelas Bisindo sudah mulai?”
Bryan mengangguk, lalu membuat gerakan sedang menulis nama, “Nama … saya … Bryan.” Pertama ia mengeja Bryan dengan alfabet Bisindo, lalu membuat gerakan, nama-isyaratnya, huruf B yang naik turun ke atas ke bawah.
Lisbeth tertawa. Ia membalas, “Nama … isyarat … Lisbeth.” Ia membuat gerakan menyisir rambut panjang lalu mengibaskannya. Anak-anak Tuli punya nama isyarat, sejenis nama panggilan khusus untuk mereka. Mereka tersenyum bersama. Lisbeth masih menatap Bryan, rasanya hangat ketika ada teman dengar mau bicara dengan bahasa yang paling ia mengerti.
“Terima kasih, Bryan!” katanya sambil menatap Bryan lekat-lekat. Tangan kanan Lisbeth menyentuh bibirnya lalu jarinya turun sambil ia menundukkan kepalanya sedikit.
Giliran Bryan menjawab dengan meletakkan jempol kanannya di depan dada lalu bergerak maju mundur, “Sama-sama.”
***
Bryan tersenyum puas. Hal lain yang ia sukai ketika bicara dengan Lisbeth, gadis itu selalu memberi perhatian penuh kepadanya. Ia tak pernah bicara dengan Bryan sembari mengetik di ponsel, menengok, atau memalingkan muka. Ketika mereka sedang bercakap-cakap, Lisbeth selalu menyingkirkan ponselnya. Dengan matanya yang bulat, Lisbeth akan memandang Bryan.
Yah, jelaslah, Bryan! Lisbeth kan Tuli! Mana bisa dia ngomong sama lo sambil bales pesan? Bryan tahu, tetapi Bryan tetap merasa dianggap penting. Hal yang jarang ia rasakan. Kini, seminggu dua kali sepulang dari outlet, ia mengikuti kelas Bisindo. Terkadang sambil terkantuk-kantuk. Otaknya terkadang buntu, tangannya pun kaku. Ia sering bengong menyaksikan gurunya bicara dengan gerakan tangan yang cepat.
Isyarat yang paling sering ia gunakan, “Ulang.” Tak mudah baginya belajar Bisindo. Namun, jika ia bicara dengan Bisindo, mata Lisbeth berbinar lebih terang dan senyumannya lebih lebar.
“Bryan?” Lisbeth melambaikan tangan di depan wajah Bryan. “Kenapa melamun?” Sontak, Bryan merasa wajahnya panas.
“Makasih ya, sudah memberi masukan. Bryan baik sekali.”
Pujian demi pujian dari Lisbeth seperti air yang menyiram jiwa Bryan yang kering. Ia rela membeli seluruhgreen tea bubble tea di seluruh dunia hanya untuk mendengar kata itu lagi.
Bryan, baik sekali.
***
[1] Qing shen hou yi: Perasaan yang mendalam.



