Lisbeth,
Bagaimana di Australia? Apakah dosen bicara cepat? Di sini tidak semua dosen memakai Power Point. >.< Banyak yang bicaranya cepat sekali. Nala kesulitan sekali. Ingin balik ke toko saja.
Nala
Rasa tak adil menggelegak di dada Lisbeth. Di Australia, ia punya note taker, mahasiswa yang mengikutinya ke kelas dan membantu mencatatkan penjelasan dosen-dosennya. Ia menyarankan Nala untuk meminjam catatan dari teman kuliahnya. Untungnya, Nala bukan gadis yang cepat menyerah.
Lisbeth,
Terima kasih buat sarannya. Sekarang Nala punya banyak teman. Nala kalau berkenalan selalu berkata, “Hi, Aku Nala. Aku Tuli, bantu aku, ya.” Awalnya malu sekali. Nala pikir akan ditertawakan, ternyata tidak. Ada beberapa teman-teman yang baik. Psstt, ada cowok ganteng di kelas Nala. Orangnya pintar. Di Australia apakah banyak bule ganteng? Lisbeth sudah punya pacar? Oya Nala diterima jadi tim mading kampus! Senang!
Nala
Surel Nala berikutnya lebih riang. IPK Nala pun selalu gemilang, 3.8-3.9. Tak heran dosen-dosen memuji Nala. Ia bahkan mulai berpacaran dengan cowok ganteng yang pernah ia kirimkan fotonya kepada Lisbeth.
Nala,
Pacar orang dengar? Yakin mau pacaran dengan cowok dengar? Cari pacar Tuli saja.
E-mail Lisbeth dibalas panjang lebar oleh Nala bahwa Lisbeth terlalu kaku, cupet, kurang pergaulan. Lisbeth tidak marah karena ia tahu sahabatnya sedang dimabuk cinta seperti di film-film drama. Namun, ia khawatir. Sungguh.
Nala lulus dengan predikat sangat memuaskan, lalu ia diterima bekerja di perusahaan multinasional. Tak lama, Nala justru memutuskan untuk berhenti bekerja dan menikah.
Lisbeth kembali meradang. “Kenapa harus berhenti bekerja? Nala lupa pesan Mak Kintan? Perempuan harus mencari makan sendiri!”
“Tapi pacar tidak setuju saya bekerja.”
Lisbeth ingin menyiram pacar Nala dengan air dingin. Siapa lo ngatur-ngatur hidup Nala? Nala sekolah dibayari Mak Kintan, bukan dibayari cowok itu. Kenapa ada pria asing muncul lalu seenaknya menyuruh-nyuruh Nala berhenti kerja? Nala terlalu keras kepala. Di benaknya hanya ada pacarnya. Urgh! Dalam hati, Lisbeth berjanji, ia tidak mau jatuh cinta sampai jadi lupa diri!
Ketika Nala hendak menikah, Lisbeth bersama Papi Mami datang. Mami memberikan dua kotak beludru merah dan sepucuk surat.
“Nala,” ucapnya lembut, “ini hadiah pernikahan untuk Nala.”
Nala menerima kotak itu dan terperanjat menyadari apa yang ada di dalam kotak itu. Seperangkat perhiasan emas dengan berlian yang berkilau-kilau.
“Tidak bisa … ini mahal.” Nala mendorong balik kotak beludru merah itu.
“Nala harus terima!” desak Heni. “Di keluarga Chinese, kalau anak perempuan menikah, ada acara teh pai. Pengantin memberi minum teh, dan keluarga memberi perhiasan atau angpao untuk bekal hidup baru.”
“Tapi … Nala bukan ….”
“Nala sudah seperti keluarga sendiri!” tegas Wim. “Yang ini dari Om dan Tante. Yang ini dari Mak Kintan.” Wim menyodorkan kotak kedua dengan sepucuk surat.
Dengan tangan gemetar, Nala membuka surat itu. Kertas itu kertas yang sama yang selalu dipakai Mak Kintan.
Nala, kalaoe Nala baca soerat ini, berarti Nala soedah akan menikah. Selamat ja. Maaf Mak Kintan tidak bisa saksiken Nala mendjadi penganten.
Butiran air mata jatuh ke atas surat itu. Nala buru-buru mengeringkannya.
Semoga Nala bahagia selaloe. Ini Mak soedah siapkan perhiasan oentoek Nala. Di keloearga kita, djika anak perempoean menikah wadjib diberi perhiasan oentoek djaga-djaga. Nala simpan baik-baik ja.
Mak Kintan
Nala membuka kotak beludru itu. Di dalamnya, ada sepasang giwang emas, dua buah gelang, beberapa rantai, kalung emas, dan satu liontin salib besar. Hujan air mata turun makin deras.
Sayangnya, doa Mak Kintan yang terakhir tak terkabul. Lisbeth sebenarnya berharap ia salah. Ia berharap pacar Nala benar-benar cowok baik-baik, sayang sama Nala. Ternyata tidak. Pernikahan Nala ternyata kesalahan besar. Keadaan bertambah buruk setelah putri Nala yang ia beri nama Kintan juga Tuli. Rumahnya berubah menjadi neraka. Ditambah lagi ia sudah berhenti bekerja. Akhirnya, Nala tak kuat lagi dan melarikan diri ke rumah Lisbeth.
Temaram cahaya bulan mengintip dari jendela, membuat Lisbeth bisa melihat jelas bulu mata Nala yang lentik. Rambut keriting lebat Nala yang membingkai wajah Nala. Juga Kintan yang meringkuk dekat mamanya. Hidung Kintan mungil, alis matanya tebal.
Kerongkongan Lisbeth tersekat. Mengapa ada orang tega menelantarkan anaknya sendiri? Mengapa kemampuan mendengar harus menjadi tolok ukur sebuah cinta?
***
[1] 良药苦口 liáng yào kǔ kǒu: obat yang baik pahit rasanya.



