Acap kali, Lisbeth hanya bisa tersenyum dan berkata, “Boleh,” karena ia butuh pelanggan. Hatinya kadang menangis, karena jumlah yang disodorkan hanya cukup untuk harga kain dan membayar gaji. Sementara itu, tidak ada yang tersisa untuk dirinya. Tenggorokannya tersekat. Dunia desain tak seindah yang ia pikir.
Terkadang, ia pun letih harus selalu tersenyum. Namun, jika ia tidak kuat, siapa yang akan membuka jalan untuk anak-anak ini? Untuk Zara, Bowo, dan teman-temannya. Ia harus kuat dan butiknya harus sukses! Demi anak-anak ini.
Nala mengintip dari balik pintu. “Sudah selesai?” Lisbeth mengangguk. Ia tersenyum. Tanpa diminta, Nala membantu Lisbeth membereskan laptop dan menggulung kabel proyektor. Sambil membalikkan meja kursi, Lisbeth menatap Nala yang sibuk sendiri. Ia tak pantas mengeluh di depan Nala. Hidup Nala jauh lebih berat daripada dirinya.
“Malam ini, Lisbeth tidur di kamar Nala?[2]” pinta Lisbeth, tangannya bergerak membuat istilah nama isyarat, “Seperti dulu.” Ia memeluk bahu Nala.
Nala tersenyum tipis, “Ya, seperti waktu kita kecil.”
“Nala nanti mau ikut membantu menjaga booth di Education Fair, mau?” bujuk Lisbeth. Wajah Nala sedikit merengut. Lisbeth memegang tangan sahabatnya.
“Pasti seru. Education Fair 3 hari. Nala menjaga di hari terakhir saja. Okay? Nanti, kita beli donat setelah pulang.” Lisbeth mencoba mengiming-iming Nala dengan makanan kesukaan Nala.
“Satu hari saja!”
Senyum merekah. “Aku belikan 2 lusin donat buat Nala!”
***
Nala menepuk-nepuk Kintan yang terlelap di sebelahnya. Karena tidak memakai AC, kaca jendela ia buka sedikit. Nala tidak pernah menutup gorden ataupun mematikan lampu, ia sering gelisah jika berada di kegelapan total. Ia bergantung penuh pada indra penglihatannya. Ia tak suka harus memakai Alat Bantu Dengar (ABD) ketika ia tidur, dan itu membuatnya takut kegelapan. Ia tak tahu apakah ada orang yang tiba-tiba masuk, ataukah ada yang mengajaknya bicara. Sayang, perkara sederhana seperti ia tak berani tidur dalam gelap gulita, kerap menimbulkan pertengkaran dengan lelaki itu.
Di sudut ruangan, Lisbeth tertidur di ranjang besi memeluk Bibi. Nala tersenyum. Lisbeth kecil tidak pernah bisa tidur tanpa memeluk Bibi, si boneka kelinci. Ini seperti dahulu ketika mereka masih kecil. Tidur siang bersama di kamar belakang toko Mak Kintan, berdesak-desakan di kasur lipat. Nala, Lisbeth, Liona, dan Livi. Juga dengan Sus yang kerap mengipasi mereka hingga mereka tertidur.
Seandainya dahulu ia mendengar masukan Lisbeth. Penyesalan merambat di hati Nala. Tak pernah bosan Lisbeth bertanya, seperti hari itu, ketika Nala menginap di kamar Lisbeth di masa liburan. Ia masih ingat bau tajam cat kuku yang mereka baru poleskan di jari kuku kaki mereka.
“Nala yakin pacar sayang Nala? Cowok dengar tak mengerti kita!” kata Lisbeth seperti kaset rusak. Kaset rusak, ungkapan yang ia baca di novel-novel remaja. Jika menggunakan ABD, telinga kiri Nala bisa mendengar sedikit. Ia tak pernah mendengar suara kaset rusak, tetapi ia tebak suaranya pasti tidak mengenakkan. Mungkin seperti bunyi ngingtinggi ketika ia memasang ABD. Melengking, tak nyaman didengar. Tepat itu yang ia rasakan ketika Lisbeth terus-menerus berkata, “Cowok dengar jahat.” Kemudian, disusul dengan rentetan nama teman-teman mereka yang pernah disakiti para bedebah yang mengira anak Tuli itu bodoh salah satunya … suami Bu Euis.
“Lebih baik cowok Tuli, seperti Dodo!” tegas Lisbeth.
Dodo dan Siti contoh kisah kasih idaman Lisbeth. Bertemu ketika sekolah di SLB, pacaran, lalu menikah. Dodo dengan tangannya yang ahli membuat perabotan (Nala mengenali beberapa perabot Dodo di kamar Lisbeth) dan Siti yang pintar memasak. Mata Lisbeth selalu berbinar ketika menyebut nama Dodo dan Siti seolah-olah mereka couple goal. Dodo dan Siti tinggal di rumah kecil tak jauh dari YST di Sentul. Hidup tenang dengan kedua putra-putri mereka yang lucu.
“Tak semua cowok dengar jahat,” bela Nala. Pacarnya baik. Mereka berkenalan di bangku kuliah.
Lisbeth cemberut. “Orang dengar berbeda dengan kita, Nala. Coba kalau kita bertengkar, bagaimana minta maaf?” tantang Lisbeth.
“Tepuk bahu, lalu berkata maaf,” jawab Nala sambil mengangkat bahu. Minta maaf apa susahnya.
“Coba Nala tonton TV. Pasangan dengar kalau minta maaf bagaimana? Bergumam. Bicara tak jelas. Satu melihat ke tembok, satu melihat entah ke mana. Mereka bisa mendengar, tak perlu harus berhadapan! Tak perlu saling melihat. Cowok dengar tak sabar, suka marah-marah.”
“Apa hubungannya ?” protes Nala kesal.
“Kata Siti ….” Nala memutar bola matanya. Bagi Lisbeth, semua perkataan Siti tentang pacaran dan menikah adalah pedoman teguh yang tak mungkin salah. Lisbeth mencolek bahu Nala, cara mereka meminta perhatian satu sama lain. “Aku sedang bicara, Nala perhatikan!”
“Iya, aku tahu.” Seperti tebakan Nala, Lisbeth mengulang cerita bagaimana Siti sering bertengkar dengan mantannya yang orang dengar. Ketika berbeda pendapat, pacarnya tak pernah meminta maaf, atau meminta maaf hanya dengan bergumam, sehingga Siti tak tahu.
“Dengan Dodo, habis bertengkar, Dodo selalu memandang Siti, lalu saling minta maaf, lalu berpelukan,” tutup Lisbeth.
Nala mendengus, memangnya ia Teletubbies? Kadang Nala bingung, Lisbeth kan kuliah di Australia, kenapa pikirannya masih seperti katak dalam tempurung? Ia hanya kuliah di Jakarta, tetapi punya banyak teman dengar. “Lisbeth belum pernah pacaran,” cela Nala. “Nanti aku carikan pacar.”
“Harus Tuli!” tandas Lisbeth.
“Kamu kuno! Co—” Kata-kata Nala terputus oleh bantal yang dilempar Lisbeth. Tanpa ampun Nala melempar gulingnya ke arah Lisbeth.
Seandainya pertengkaran di antara ia dan pria itu seperti ia bertengkar dengan Lisbeth. Hanya sebentar, lalu mereka berbaikan. Kini, Nala ingin seperti Teletubbies, karena ternyata dipeluk lebih menyenangkan daripada dianggap bodoh. Nala membaringkan diri, tangan kirinya memeluk tubuh kecil mungil yang tertidur nyenyak. Ia ingin semua kenangan buruk yang ia alami berganti. Nala memejamkan matanya erat-erat, merasakan napasnya keluar masuk, perlahan Nala tenggelam di dunia mimpi.
***
[1] 有志者事竟成 yǒu zhì zhě shì jìng chéng : ada kemauan, ada jalan.
[2] Percakapan dilakukan dalam Bisindo dengan tata bahasa Bahasa Indonesia.



