Wew. Mencium bau yang menyeruak dari grease trap membuat Lisbeth ingin menjepit hidungnya. Di balik outletBubbly Tea yang cerah dan manis ternyata tersembunyi aneka sampah dan kotoran. Lisbeth terkejut menyaksikan Bryan dengan sigap menyendok minyak yang menggenangi kotak stainless steel setinggi tiga kotak sepatu. Ekspresi Bryan biasa saja seolah-olah ini sesuatu yang sering ia lakukan. Setelah menguras, Bryan menyikat dan menggosok kotak itu untuk menghilangkan semua kotoran.
Sedari kecil, Lisbeth dimanja untuk urusan pekerjaan rumah tangga. Ia tak pernah mengosek WC, memasak, atau kegiatan-kegiatan rumah tangga lainnya. Bahkan, ketika ia kuliah di Australia, sangat jarang Lisbeth harus bersusah payah mengosek WC. Satu-satunya kegiatan rumah tangga yang biasa ia lakukan hanya mencuci piring. Itu juga jarang karena rumah Ayik—kakak perempuan Mami—di Sydney menggunakan dishwasher machine.
Setahu Lisbeth, keluarga Om Ah Liong juga kaya raya dengan paling tidak lima ART. Tak pernah terlintas di benaknya, Bryan membersihkan sampah seperti ini. Apalagi di keluarga Chinese, kaum prianya dianggap tak perlu tahu urusan dapur. Urusan memasak saja tak perlu tahu, apalagi membersihkan kotoran dapur!
“Dianggap bersih kalau sudah tidak ada yang nyangkut di saringan.” Bryan keluar menyalakan air dari tempat mencuci piring, air mengalir deras tanpa hambatan.
“Bisa?” tanya Bryan kepada Danar. Grease trap yang semula kelihatan menjijikkan, tampak seperti kotak biasa. Danar mengangguk. Ia sibuk membubuhkan catatan ke buku sakunya.
Bau busuk berganti dengan wangi sabun saat Bryan mencuci tangannya. Lisbeth merapatkan badannya ke kulkas ketika Bryan melewati dirinya untuk keluar dari dapur. Entah timbul keberanian dari mana, Lisbeth menepuk bahu Bryan.
Mereka berdiri berhadapan. Bryan mengangkat alisnya tak mengerti mengapa Lisbeth memanggilnya.
“Bryan … hebat.” Spontan Lisbeth mengacungkan jempol.
Seketika wajah Bryan memerah, ia bergumam, “Biasa saja.”
“Tidak. Membersihkan susah dan bau. Hebat,” puji Lisbeth tulus. Bryan tiba-tiba membalikkan badan tak menanggapi Lisbeth. Biasanya, Lisbeth akan mundur. Ia sadar Bryan tak tertarik untuk bercakap-cakap dengan dirinya. Namun, rasa penasaran membuat Lisbeth membuntuti Bryan.
“Ini outlet punya Bryan?” tanya Lisbeth ingin tahu.
“Ini ruko punya Papa, tapi kita membayar biaya franchise kepada perusahaan lain, sehingga bisa mendapat resep, stok barang-barang, dan pernak-pernik.” Bryan menunjuk banner dan barang-barang bercap Bubbly Tea.
“Kenapa tidak meminta karyawan membersihkan?” tanya Lisbeth.
Bryan terdiam. Tak lama, ia mengangkat bahu. “Memberi contoh, supaya karyawan tahu bagaimana harus membersihkan. Kalau aku tidak bisa mengerjakan, anak buah bohong, kita tidak tahu.”
Tanpa sadar Lisbeth tersenyum. “Betul. Seperti kata Papi.” Lisbeth tidak mengerti mengapa wajah Bryan memerah lagi.
“Butik ramai?” Bryan balik bertanya.
Lisbeth menggigit bibir. Sepertinya ia terlalu naif. Ia pikir, para pelanggan akan berdatangan dengan sendirinya selesai fashion show. Ternyata tidak. Empat hari kemarin, tak ada seorang tamu pun yang datang. Biasanya dari tiga orang yang datang, mungkin hanya satu yang memutuskan untuk menyewa atau membuat. Beberapa undur diri dengan kalimat sakti, “Lihat-lihat dulu ya, nanti balik lagi.” Namun, mereka tak pernah kembali.
“Lumayan.” Buru-buru, Lisbeth menguasai dirinya dan ia berbalik berharap Bryan tak menangkap raut kecewa di wajahnya. Ia bergegas kembali ke tempat tasnya. Sebelum pergi, ia membuka ponsel. Kekecewaannya langsung menguap membaca sebuah pesan baru dari Jimmy. Akhirnya setelah tiga hari, Jimmy membalas juga pesannya.
Baik. Besok kembali ke Bandung. Lalu ke Danau Toba. 🙂
Dengan segera Lisbeth membalas.
Asyik ya jalan-jalan. Kapan kamu ke Jakarta? I miss you.
Ia terdiam sejenak. Selalu seperti itu. Di akhir pesan, ia selalu membubuhkan pesan sayang atau meluapkan kerinduannya, tetapi bisa dihitung dengan jari berapa kali Jimmy membalasnya. Lisbeth menghapus kalimat I miss youdan menggantinya dengan hati-hati ya.
Ketika Lisbeth beranjak dewasa, Wim sering memberi nasihat kepada putri-putrinya, “Jangan mengejar-ngejar laki-laki! Dia maju tiga langkah baru kalian maju selangkah. Putri Papi bukan perempuan murahan.”
Namun … mereka kan sudah pacaran. Bukankah wajar jika ia mengungkapkan rasa rindunya? Kenapa Jimmy tak pernah mengatakan hal serupa? Apakah ia tak merindukan Lisbeth? Tanda tanya mulai bertebaran di benak Lisbeth. Berulang kali, ia berusaha menepis pertanyaan yang beterbangan di benaknya, karena tiap ia memikirkan itu, hatinya seperti ditusuk jarum. Tak terlihat bekasnya, tetapi nyerinya menggigit tulang.
Perlahan, Lisbeth mengambil tasnya lalu berjalan keluar outlet. Setengah jalan, ia baru sadar, tak seorang pun mengantarnya keluar. Papi mengajarnya bahwa jika ada tamu di butik harus diantar sampai depan pintu, tetapi ia selalu keluar dari outlet Bubbly Tea sendiri.
Mungkin memang tak ada yang peduli. Lisbeth menelan pil pahit sambil berjalan di trotoar, sesekali ia menghirup asap knalpot kendaraan yang berpacu di sampingnya. Di depan butik, sopirnya sudah menunggu untuk mengantar Lisbeth pulang.
***
Bryan menarik napas lega ketika menyadari Lisbeth sudah pergi. Ia berharap bisa memasang tanda palang Lisbeth Dilarang Masuk. Sialan. Kenapa Lisbeth terus-menerus mengatakan kalimat-kalimat omong kosong? Kenapa ia tidak ikut memaki, atau paling tidak memperhatikan hal-hal yang gagal ia perbuat: celemek yang membuatnya kelihatan tidak macho, tulisan tangannya yang seperti ceker ayam, atau salah perhitungan yang ia buat. Semua cacat yang dilihat dan ditertawakan orang selama ini. Kenapa bukan itu yang dilihat Lisbeth? Berengsek!
Ditambah jantungnya yang kerap tanpa permisi berdetak lebih cepat ketika ia tiba-tiba mencium parfum Lisbeth yang beraroma lavender. Mungkin sudah waktunya ia cari pacar baru. Sejak kecelakaan itu, Bryan memecahkan rekor terbaru, dua tahun tanpa pacaran. Semua waktunya habis untuk Bubbly Tea. Lupakan kencan di malam Sabtu atau akhir pekan, karena itu justru hari-hari ketika outlet dipenuhi banyak pelanggan. Hari-hari lain, jika ia datang sif pagi, terkadang ia pulang sebentar, lalu menjelang tutup, ia kembali ke outlet, menghitung uang atau mencuci botol-botol sirup.
Dimas mentertawainya. “Enggak perlu tiap hari datang lah, Bro. Lo kan bisa lihat laporan penjualan di apps. Ada pertanyaan, tanya di WhatsApp group, Kita beli franchise supaya kita enggak harus urus semua, Bro. Sistem udah ada, tinggal dipantau saja. Lo rajin banget!”
Ketika Bryan tidak bekerja, semua mengatakan ia pemalas. Kini, tiap hari ia bekerja, masih ditertawakan pula. Sungguh mati, lebih baik ia menyibukkan diri di outlet daripada di rumah dan menjadi sasaran tembak Ah Liong. Dan untuk satu lagi, menghapus bayang-bayang Lisbeth yang tiba-tiba muncul tanpa diundang lalu berkata, “Bryan memang baik.”
***
Pagi hari, Bubbly Tea sudah ramai dengan beberapa pesanan online. Sembari bersenandung, Bryan melihat Danar yang sudah selesai melakukan tugasnya bersandar di dinding belakang kasir. Tangannya sibuk mencatat di buku sakunya. Di depannya, Ayu sedang sibuk mempersiapkan dua green tea matcha bubble tea.
Saat istirahat makan siang, Bryan memanggil Danar.
“Kamu mencatat apa?”
Danar menunduk seperti pencuri yang tertangkap basah. “Bukan apa-apa.”
“Lihat catatanmu.” Dengan terpaksa, Danar memberikan buku catatan Moleskin biru tua di tangannya. Bryan membolak-balik buku saku dengan sampul dari kulit yang biasanya dijual di plaza-plaza mewah.
“Ini dari siapa?”
“Ci Lisbeth. Cici pesan, saya harus mencatat supaya Pak Bryan tidak perlu mengulang terus-menerus.”
Damn it, Lisbeth! Tak bisakah kamu lebih cuek?
Bryan membolak-balikkan catatan Danar. Ia menemukan Danar menyalin ulang denah dapur yang diberi Lisbeth dengan keterangan lengkap semua peralatan. Checklist sebelum buka dan menjelang tutup. Urutan membersihkan grease trap. Lalu beberapa halaman terakhir penuh berisi:
1 sendok jeli strawberry + sirop strawberry + boba + es + susu.
Teh + sirop gula + boba + susu cair + susu kental manis + es.
“Ini resep?”
Danar mengangguk. “Maaf, Pak.”
Bryan menatap pemuda jangkung yang berdiri di hadapannya dengan bahu melorot seolah-olah ia baru tertangkap melakukan kesalahan besar. Hati Bryan iba. Ia teringat dirinya yang memohon pekerjaan kepada Benny, memungut remah-remah ilmu karena tak ada yang mau mengajarinya.
“Kamu mau belajar bikin boba?” tawar Bryan.
“Ti … tidak.” Danar menggeleng cepat. “Jangan kasih tahu Bu Euis.” Pemuda awal dua puluhan itu tampak seperti anak kecil yang takut dihukum.
“Bu Euis kirim kamu ke sini untuk belajar, kan? Takut apa?”
“Iya. Sa … saya takut. Nanti salah, pelanggan marah, kafe rugi,” terang Danar polos. Bryan tersentak. Ia pikir hanya ia yang peduli. Ia pikir anak-anak ini ingin mengambil kesempatan tanpa peduli dengan kondisi outlet.
Bryan melirik jam. Ini jam sepi. Ia lalu memberi isyarat kepada Danar untuk mengikutinya. “Kamu catat lalu hafalkan.” Ia mulai mengajarkan resep demi resep minuman Boba yang disambut dengan senyum gembira Danar.
Sayup-sayup Nat King Cole bersenandung lembut, “If you smile through your fear and sorrow, smile and maybe tomorrow you’ll see the sun come shining through you.”
***
[1] 塞翁失马 sài wēng shī mǎ: kehilangan sesuatu tidak berarti nasib sial, sedangkan mendapat sesuatu tidak berarti beruntung.
Konon, ada seorang pria yang kehilangan kuda. Tetangganya mengatakan ia sial. Namun, ia berkata, “Kamu tahu dari mana aku beruntung atau sial?” Tak lama, kudanya datang membawa kuda baru. Tetangganya kembali datang dan memuji mengatakan ia beruntung. Lagi-lagi ia berkata, “Kamu tahu dari mana aku beruntung atau sial?” Suatu hari, anak si Kakek menjinakkan kuda barunya dan terjatuh. Para tetangga kembali datang dan berkata ia sial. Tak lama perang meletus, seluruh pemuda di desa itu dikirim menjadi tentara kecuali anak si Kakek.



