Liburan akhir tahun yang semestinya membuat Bryan senang justru membuat dirinya dipermalukan. Ia masih ingat bagaimana Benny dan Dimas hanya diam ketika Papa menamparnya berulang kali. Alasannya sepele. Papanya pikir ia membuat Lisbeth menangis, padahal yang terjadi justru sebaliknya.

Lisbeth menarik tangan Bryan seraya membuat suara-suara tak jelas. “Auaaa.”

“Apaan sih?” Bryan menyentak tangan Lisbeth.

“Aarrhh!” teriak Lisbeth sambil menunjuk ke arah kursi bambu di balkon villa tempat keluarga mereka menginap.

“Berisik!”

Lisbeth tidak menyerah, ia terus menjerit-jerit sambil menarik Bryan. Ternyata sebuah boneka kelinci tersangkut di bawah kursi.

“Bilang kenapa! Dasar bisu!” gerutu Bryan. Ia berusaha menggapai boneka itu dan menariknya, tak menyadari bahwa ada paku yang tersangkut di telinga boneka kelinci. Kriek. Suara kain robek dibarengi oleh tangisan Lisbeth.

Ia masih ingat tubuh Papa yang menjulang tinggi dengan mata merah menyala seolah-olah Bryan membuat dosa yang tak termaafkan. Dalam kamus papanya, membuat anak Om Wim menangis masuk kategori dosa tak terampuni. Ia masih ingat tubuhnya yang gemetar ketika menerima tamparan demi tamparan. Papa tidak berhenti, bahkan ketika Wim berusaha untuk melerai. “Enggak apa-apa, Liong. Cuma boneka.”

Jawaban itu masih terngiang di telinga Bryan hingga detik ini. “Anak wawa yang urus.”

Anak wa. Anak saya. Papa tak pernah memanggil Bryan sebagai anaknya. Sayang, kali pertama diakui sebagai anak justru ketika ia menerima tamparan di depan orang lain.

Bekas tamparan di pipinya sudah hilang keesokan harinya.

Namun, luka di hati Bryan tetap menganga hingga sekarang.

***

Open House Day, Sentul.

Demi menyambut para donatur, Lisbeth membuatkan seragam batik merah marun untuk dirinya dan para guru. Ia menengok ke dapur menemukan Siti sibuk memindahkan bawang goreng ke dalam stoples. Ia menepuk bahu Siti. “Makanan sudah siap?”

Siti menunjuk dua piring ayam goreng kuning dengan taburan kremes yang menggoda selera. Beberapa anak sibuk menggoreng kerupuk, yang lain membuat sambal. Lisbeth memberi jempol lalu bergegas keluar.

Aula sudah dihias dengan kertas krep warna warni dan aneka balon. Kursi sudah tertata. Jantung Lisbeth berdebar. Berapa banyak yang datang, ya?  

Menit demi menit berlalu. Pukul sepuluh lebih sepuluh menit, lapangan parkir tetap tak terisi. Lisbeth berusaha menghibur dirinya. Mungkin macet. 10.20, masih belum ada yang datang. Lisbeth makin gelisah. Ia duduk seorang diri di teras menghadap lapangan parkir yang kosong melompong.

10.30, seorang perempuan paruh baya dengan seragam batik dan hijab berwarna senada berjalan mendekati Lisbeth. Ia meletakkan tangannya dengan lembut di bahu Lisbeth. “Lisbeth mau minum?”

Dengan senyum lemah, Lisbeth menjawab, “Tidak haus, Bu Euis.”

Bu Euis duduk di sebelah Lisbeth. Tanpa mengatakan apa-apa, ia memeluk bahu Lisbeth. Jantung Lisbeth mencelus. Open house pertamanya gagal total. Lisbeth melirik Bu Euis, mencari-cari tanda kekecewaan di wajah perempuan itu. Pikirannya melayang ke anak-anak yang sibuk di kelas masing-masing. Apakah mereka sadar bahwa di mata banyak orang, mereka bukan prioritas? Tidak, anak-anak ini tidak boleh tahu. Tidak sekarang. Suatu hari nanti mungkin mereka tahu, tetapi hari ini, Lisbeth tidak tega menghancurkan sinar mata mereka. Tangan Lisbeth terkatup, sibuk memanjatkan doa.

Semoga ada orang yang datang. Satu saja ….  

***

Bryan menatap ke luar jendela. Mobilnya tak lama keluar dari jalan besar dan mulai masuk ke jalan kecil. Di kanan-kiri banyak rumah berdempetan. Bryan mengerutkan kening.

“Jalannya benar, Pak?” tanyanya kepada Pak Tono.

“Bener, Koh. Kata GPS begitu.”

Bryan mendesah. Mengapa ia harus pergi ke tempat terpencil seperti ini di hari Sabtu? Mobil terus berjalan masuk. Rumah-rumah semakin jarang. Akhirnya mobil berhenti di gerbang pagar besi berwarna hitam. Di sekitarnya, dinding putih dengan cat terkelupas memagari tempat tersebut. Pintu pagar yang kira-kira cukup untuk dua mobil terbuka lebar. Pak Tono memacu mobil masuk.

Di dalamnya, terhampar lahan yang cukup luas. Ada dua bangunan berlantai dua di kanan-kiri mengapit lahan kosong yang dipergunakan sebagai tempat parkir. Bryan turun dari mobil. Di sebelah gedung bercat putih, ada lapangan basket. Di samping gedung satunya, ada lahan yang ditanami banyak tanaman hidroponik. Suasana tampak sepi. Bryan berjalan menuju gedung di sebelah kanannya. Di bagian depan bangunan itu, ada beranda putih yang cukup luas.

Open house apaan? Masa gue satu-satunya tamu?

Bryan ragu-ragu hendak memasuki pintu.

“Ah, ada tamu. Selamat siang ….” Suara lembut seorang wanita mengagetkan Bryan. Di belakangnya, berdiri seorang ibu paruh baya mengenakan batik merah marun. Wajahnya dibingkai kacamata tipis, tatapan matanya teduh.

“Selamat datang. Dengan Bapak siapa?” sapa ibu itu ramah sambil menyodorkan tangan.

“Oh, eh … Bryan.” Bryan menyambut tangan wanita itu dengan canggung.

“Saya Ibu Euis.” Suaranya lembut, retapi penuh karisma. Beliau seperti guru yang disukai, juga disegani murid-muridnya. 

“Yuk, masuk,” undang Bu Euis. 

Mereka baru akan masuk ketika Lisbeth keluar dari pintu. Wajah Lisbeth berubah menjadi cerah ketika melihat Bryan.

“Halo, Bryan!” sapa Lisbeth riang.

“Teman Lisbeth?” tanya Bu Euis.

“Iya. Papa-Mama Bryan teman Papi-Mami. Dari kecil sudah kenal,” jawab Lisbeth cukup cepat. “Bryan yang kasih donasi untuk membuat lapangan basket, Bu!”

“Terima kasih banyak, ya,” tanggap Bu Euis hangat. Bryan hanya tersenyum. Ia tidak berniat berlama-lama di sini.

“Ayo lihat-lihat ke dalam dulu.” Ibu Euis mempersilakan Bryan masuk.

“Bu Euis, titip Bryan, ya? Lisbeth masuk kelas dulu.” Lisbeth pamit sambil melambaikan tangan. Bu Euis mengangguk. Bryan mengikuti bu Euis masuk ke bagian dalam gedung.

Di dalam, terdapat lorong panjang dengan kelas-kelas di sisi-sisinya. Di tiap kelas, anak-anak sedang belajar atau bermain. Seperti kelas biasa. Hanya saja, Bryan tahu, semua yang bersekolah di sini adalah anak-anak Tuli.

“Ini anak-anak sedang belajar.” Bu Euis memecah keheningan. Bryan tersenyum sopan seraya mengangguk-angguk. “Hari Sabtu biasanya libur, tapi hari ini … spesial.”

Di ujung lorong, sebuah kelas menarik perhatian Bryan. Ukuran kelas itu lebih kecil. Tampaknya seperti kelas kedap suara. Ada cermin, garpu tala, papan tulis kecil, dan spidol di atas meja. Seorang anak memakai headphone sedang duduk di depan cermin. Seorang wanita duduk di sebelahnya. Ia menaruh kertas di depan mulut anak itu. Si anak berusaha untuk membuat kertasnya bergerak. Namun, ia gagal. Ibu guru tampak memegang tangan si anak dan membawanya untuk meraba tenggorokannya, lalu meminta anak itu untuk meraba tenggorokannya sendiri.

“Ini kelas wicara,” jelas Bu Euis.

“Wicara?” tanya Bryan heran.

“Iya. Kelas untuk anak-anak Tuli belajar berbicara.”

“Ooo ….” Bryan menatap anak tadi. Ia kini berusaha meraba tenggorokannya seraya membuka mulut dan mengucapkan sesuatu. Kertasnya masih tidak bergerak.

“Anak Tuli sulit untuk belajar bicara. Karena mereka tidak pernah mendengar. Anak dengar mendengar aneka suara sejak bayi, lalu pelan-pelan menirukan suara-suara tersebut dan akhirnya bisa bicara. Anak Tuli tidak bisa demikian.”

Sesuatu dalam ruang wicara membius perhatian Bryan. Ia berdiri mengamati dengan penasaran. Guru wicara memberikan contoh lagi. Si anak terlihat sedih. Namun, ibu guru tetap tersenyum dan menepuk bahunya, kemudian menyodorkan segelas air kepada anak itu. Setelah beberapa teguk, anak itu mengangkat tangannya lagi, mencoba menaruh tangannya di tenggorokannya. Kertasnya tetap tidak bergerak.

Tenggorokan Bryan terasa kering. Ia menelan ludah. Jika anak itu dirinya, ia mungkin sudah menyerah, membanting gelasnya, lalu lari keluar. Dalam hati, Bryan berharap anak itu berhasil kali ini. Bocah kecil itu meletakkan tangannya di tenggorokan dan memegang kertas dengan tangan kanannya. Beberapa kali, ia mencoba. Kertas tetap tidak bergerak.

Tak ada harapan. Seribu kali mencoba pun pasti gagal, vonis Bryan. Ia hendak beranjak karena hatinya tak sanggup menyaksikan sosok kecil itu gagal berulang kali. Ia hampir memalingkan muka ketika tangan kurus itu terangkat lagi. Mau coba seribu kali juga pasti gagal. Sudahlah ….

Mulut anak itu terbuka lagi. Ia belum menyerah. Tiba-tiba … kertasnya bergetar! Ibu guru bertepuk tangan gembira. Senyum lebar muncul di wajah anak itu. Mulutnya terbuka lagi, dan kertasnya bergetar lagi. Keduanya melakukan toss dengan bersemangat.

Bryan terdiam. Hanya selembar kertas, mengapa terasa begitu berarti?

Ia tak akan memandang selembar kertas bergetar dengan cara yang sama lagi.

“Saya dulu guru wicara Lisbeth,” ujar Bu Euis perlahan. “Cepat sekali, ya, waktu berlalu. Dulu Lisbeth masih kecil, sekarang sudah dewasa. Bryan tahu berapa lama Lisbeth belajar hingga bisa bicara?”

Bryan mengangkat bahu. “Enam bulan?”

“Bukan. Tujuh tahun.”

Bryan melongo, “Maksud Ibu, tujuh bulan?” Ia pikir, Bu Euis salah bicara.

Bu Euis tertawa kecil, “Tidak Bryan. Tujuh tahun.”

 ***


[1] 愚公移山 yú gōng yí shān: Kakek bodoh memindahkan gunung. Konon ada seorang Kakek yang ingin memindahkan gunung. Melihat kerja keras si Kakek, para dewa-dewi tersentuh lalu akhirnya membantu Kakek Bodoh memindahkan gunung.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here