“Sepuluh menit … bisa tunggu?” Lisbeth mengangkat sepuluh jarinya untuk memberi penegasan.

Bryan mengangkat bahu. Letak pom bensin agak jauh dari butik, selain itu hampir selalu macet di bundaran. Dia tak punya pilihan. Gadis resepsionis datang memberikan minuman dalam gelas plastik kepada Bryan yang diterimanya dengan ogah-ogahan. Lisbeth mengajak ke lantai atas. Di lantai dua, ada tempat fitting yang luas dan dua ruangan kaca. Dalam ruangan kaca, duduk dua penjahit yang sedang memasang payet. Ruangan itu penuh laci. Beberapa laci terbuka, di dalamnya tersimpan aneka pita dan manik-manik. Lisbeth mempersilakan Bryan duduk.

Bryan mengeluarkan smartphone-nya dan sibuk membalas beberapa pesan di WhatsApp group. Dari sudut mata, ia memperhatikan Lisbeth berbincang dengan tukang payet. Gadis itu juga mengeluarkan suara aneh seperti Lisbeth. Mereka berbicara dengan gerakan tangan. Baru kali ini, Bryan menyaksikan anak Tuli berinteraksi dengan anak Tuli lainnya. Wajah mereka ekspresif dengan tangan yang bergerak cepat.

Lisbeth kembali ke hadapan Bryan. “Sebentar lagi …,” ucapnya dengan nada meminta maaf.

“Penjahit Tuli?” Bryan penasaran.

Lisbeth mengangguk. “Semua Tuli.” Ia menunjuk ke arah dua gadis yang lebih muda.

“Memang cari yang Tuli?”

“Iya! Orang Tuli sulit mencari kerja. Lisbeth buka butik … untuk membantu anak Tuli. Orang dengar suka takut … pegawai Tuli bagaimana? Padahal … anak Tuli bekerja cepat. Tidak sambil ngobrol.” Sambil bicara, tangan dan wajah Lisbeth bergerak dengan ekspresif. “Anak Tuli bekerja fokus. Dulu, bekerja dengan penjahit anak dengar. Kepalaku pusing. Suka ngobrol. Lalu main handphone. Lalu telepon-telepon. Sambil bekerja sambil menonton. Ditegur marah-marah.” Lisbeth menjelaskan panjang lebar.

Bryan baru menyadari, Lisbeth sangat ekspresif ketika bicara. Ketika ia mengatakan marah-marah, matanya sengaja disipitkan. Ketika Lisbeth mengatakan kepala pusing, ia meletakkan tangannya di kepala seolah-olah ia sakit pusing.

“Sudah selesai!” Mata Lisbeth bersinar ketika mengambil gaun yang baru selesai. Dengan cekatan, ia memasukkan gaun itu ke dalam plastik panjang.

“Hanya satu? Kata Dimas ada baju Anissa juga?” tanya Bryan spontan.

Lisbeth menatap bingung. Bryan menarik napas. Ini benar-benar uji kesabaran tingkat dewa. Ia cepat-cepat mengetik di handphone dan menyorongkannya kepada Lisbeth, Baju Anissa?

Lisbeth memandang heran, dengan perlahan Lisbeth mencoba menjelaskan, “Baju Anissa … belum jadi. Kemarin sudah bilang kepada Ci Nissa.”

Rahang Bryang mengeras. Dimas! Ia tidak akan mau harus kembali lagi ke sini. Ia hampir melampiaskan amarahnya kepada Lisbeth, ketika ia menyadari mata Lisbeth yang besar menatapnya seolah-olah membaca emosi yang ia coba sembunyikan.

“Bryan marah?” tanya Lisbeth mengagetkan Bryan. Bryan tertegun. Kapan ada orang pernah menanyakan perasaannya? Apakah ia marah? Semua orang di sekitarnya hanya memberi perintah. Bryan, do this. Pergi ke sini, pergi ke situ. Tak ada yang cukup peduli untuk bertanya bahkan pertanyaan sesederhana, “Are you okay?” Apa yang Bryan rasakan tak penting.

“Tidak. Tidak marah,” ujar Bryan cepat sambil memaksa seuntai senyum. Tentu saja ia bohong! Dimas sialan! Dalam hati Bryan sibuk memaki. Awas kalau sampai—

“Bryan memang baik.” Senyuman Lisbeth tampak tulus dengan mata berbinar.

Makian dalam hati Bryan berhenti. Baik? Ia spontan membuang muka dan dengan setengah berlari menuruni tangga. Ia harus secepatnya keluar dari tempat ini.

“Mobil … belum … datang?” tanya Lisbeth yang menyusul di belakangnya sambil ikut melongok ke depan.

Bryan pura-pura tidak mendengar. Sial! Mengapa Pak Tono lama sekali?

“Kamu tidak usah menunggu!” usir Bryan pendek.

Lisbeth tertawa. “Tidak … kata Papi … harus menemani tamu. Supaya tamu senang.”

“Saya bukan tamu,” ujar Bryan ketus, berusaha menghentikan percakapan dengan Lisbeth.

Alih-alih berhenti, Lisbeth justru tertawa lagi. “Maaf. Bryan bukan tamu. Bryan … teman.”

Teman. Bryan buru-buru memegang gagang pintu di depannya. Teman.

Ia sama sekali tidak berani melihat ke arah Lisbeth. Jantungnya berdebar. Lewat ujung matanya, ia menangkap sebuah mobil hitam memasuki halaman. Tanpa berpamitan, Bryan keluar dari butik, masuk mobil dan membanting pintu keras-keras.

“Cepetan, Pak,” perintahnya kepada Pak Tono.

Bryan memang baikBryan teman.

Kalimat itu terngiang-ngiang di benaknya. Tangan kanan Bryan memijat keningnya. Punggungnya seperti disiram air dingin.

Seumur hidup, baru kali ini ada orang yang menyebutnya “baik”. Kalimat yang sering ia dengar adalah: “Bo nao!Enggak punya otak!”

Bo cuan, ga hoki punya anak kayak kamu.”

Tanpa sadar, Bryan menelan ludah. Ia menatap nanar keluar jendela. Dan kalimat itu terdengar lagi.

Bryan memang baik.”

Gadis yang membawa kenangan buruk di masa kecilnya, baru saja mengatakan ia baik. What an irony. Bryan merasa ingin berkata jika ia baik, kenapa ia dipukul berkali-kali? Belasan tahun sudah berlalu sejak peristiwa siang itu, tetapi rasa sakit di pipi dan hati Bryan masih terasa.

***


[1] 回答柔和 huí dá róu hé:menjawab dengan lemah lembut.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here