A boi ar, belum, Ma,” jawab Bryan sambil menggeleng. Buru-buru Mei Hwa memanggil seorang ART yang dengan tergopoh-gopoh menyiapkan piring, sendok, dan garpu bagi Bryan.

“Jam segini belum makan?” cela Benny, kakak Bryan. Kata orang, Benny mirip dengan Papa mereka, Ah Liong. Garis muka mereka sama-sama tegas, memiliki rahang persegi, serta mata yang tajam. Tidak banyak orang luar tahu, tidak hanya mata mereka yang tajam, kata-kata mereka pun boleh diadu dengan silet.

“Lembur, Ko,” jawab Bryan sekenanya. Seperti biasa, Benny tampil perlente; kemeja putih Brioni tangan panjang yang dilinting rapi sampai ke sikunya, jas hitam tersampir di sandaran kursi, parfum mahal, rambut tertata belah pinggir persis seperti potongan rambut anak baik-baik. Tidak seperti dirinya yang pernah duduk di meja ini dengan rambut dicat hijau stabilo. Hanya bertahan 2 bulan, karena tak ada perempuan mau jadi pacarnya ketika rambutnya masih berwarna hijau.

Begitu Bryan hadir, percakapan Ah Liong dan Benny terputus tiba-tiba. Selalu seperti itu. Ah Liong hanya mau membicarakan bisnis keluarga mereka dengan Benny. Bryan tak pernah dianggap masuk hitungan. Bukan hanya tak dianggap, semua pembicaraan bisnis terhenti ketika Bryan muncul. Terkadang Bryan berpikir, apakah mereka khawatir Bryan membocorkan rahasia perusahaan?

Di meja, tersaji kwetiau goreng seafood, cah brokoli, dan sapi lada hitam. Aroma herbal tercium dari sup akar teratai yang dituangkan Mei Hwa ke mangkuk Bryan.

“Aiyo, lo enggak jaga badan, kalau sakit nanti wa juga yang repot,” omel Mei Hwa sambil menyorongkan sup ke hadapan Bryan. Malam ini, seperti biasa Mei Hwa mengenakan daster rayon putih bergambar kembang sepatu raksasa. Gelang emas setebal selang tanaman yang melingkar di tangannya sesekali beradu dengan sendok sayur.

Bryan merasa punggungnya gatal. Seragam Bubbly Tea terbuat dari kain kasar dan tidak menyerap keringat, menempel lengket pada badannya.

Dengan seragam Bubbly Tea pink mencolok, Bryan merasa salah tempat duduk di meja dengan peralatan makan dari kristal. Dibandingkan dengan setelan jas mahal Benny, dirinya lebih mirip pesuruh kantor. Bryan tidak tampak seperti bagian dari keluarga yang sedang makan malam bersama.

“Pa, Ma, Ko Ben, makan,” sapa Bryan berusaha tetap sopan.

Tak ada jawaban selain dengusan Ah Liong. Sambil mengunyah kwetiau, Ah Liong menggaruk singlet Rider putihnya yang sudah sedikit molor. Yak, ini sungguh tipikal makan malam di rumah keluarga Lau. Papa bersinglet dan celana pendek kain, Mama berdaster rayon with their CEO son, and their OB Office Boy son, batin Bryan sinis. Biarpun bersinglet dan pergi memakai sandal jepit Swallow, jam tangan yang melingkar di tangan papanya bisa membuat orang terpana. Ah Liong boleh bersandal jepit dan celana pendek, tetapi jika ia ke Bank, semua Satpam akan buru-buru menyapa dan ada manajer khusus yang dengan ramah membawa dirinya ke ruangan khusus tanpa perlu antre. 

Bryan baru memakan suapan kedua ketika Ah Liong tiba-tiba memelotot ke arahnya.

“Lo belum mandi, bawa kuman sudah langsung makan!” omel Ah Liong.

Di hadapan Ah Liong, dirinya selalu salah. Tidak menyapa, salah. Menyapa, salah juga. Tidak makan, salah. Makan sebelum mandi, kena omel juga. Bryan menggigit bibir menahan rasa marah. Ia yang dulu pasti menendang meja, naik ke lantai atas dan membanting pintu kamarnya. Perlahan, ia berusaha mengontrol emosinya dengan menarik napas. Ia bukan Bryan yang dulu.

“Maaf, Pa,” gumam Bryan. Sendok garpunya beradu mencoba memasukkan gumpalan kwetiau secepat mungkin ke dalam mulutnya.

“Dasar bo nao. Enggak ada otak,” gerutu Ah Liong.

Bryan hanya menunduk, berharap ia bisa menghilang.

“Bisnis–eh, bubble tea gimana?” seringai Benny. Bryan hanya mengangkat bahu. Ia sadar Benny sengaja memasukkan kata bisnis dan buru-buru meralatnya. Bagi Benny, bisnis franchise hanya mainan anak-anak, not the real business.

Sumpah mati, tak pernah sekali pun ia bermimpi akan bekerja di Bubbly Tea. Ingatannya kembali ke situasi serupa dua tahun lalu.

Waktu itu, Bryan baru keluar dari rumah sakit akibat kecelakaan fatal. Dengan penuh semangat, ia berusaha membalikkan hidupnya demi menjadi Bryan yang baru. Sayangnya, hidup bukan sinetron dengan keluarga hangat yang ikut menangis penuh haru ketika ia berkata akan bertobat. ApayYang ia dapatkan justru sikap dingin Benny dan Ah Liong. Ketika ia meminta pekerjaan, Benny bertanya sinis, “Work? You do that?” 

“Apa sajalah, Ko.”

“Lo kuliah enggak beres. Gue harus taruh lo di bagian mana? Cleaning service? Lo beresin kamar enggak pernah. You don’t have any qualification to work in my company,” sindir Benny tanpa ampun.

Ketika Mei Hwa membujuk Benny, lagi-lagi kakaknya mengeluarkan jurus tai-chi level dewa. “Ma, bukan Benny enggak mau bantu, tapi kalau Brian nggak ada keahlian apa-apa lalu Benny taruh jadi katakanlah manajer, apa kata orang, Ma? Kalau enggak ditaruh jadi manajer, Apa Bryan mau gaji cuma 4-5 juta? Mama kayak enggak tahu Bryan hair serumnya berapa duit? Oribe harganya lebih dari sapekceng, tiga ratus ribu,” dengus Benny.

Damn it! Ia seperti seorang pengemis yang memohon remahan roti dari kakak kandungnya sendiri. Untung, akhirnya Mei Hwa teringat bahwa keluarga mereka baru saja membeli franchise Bubbly Tea bersama dengan keluarga Dimas.

“It’s not rocket science, Bryan. Kids play. Anak SMA mestinya bisa,” kata Benny sambil tersenyum.

Bryan tak pernah mengerti apa yang membuat kakaknya dingin terhadap dirinya. Sepanjang ingatannya, Benny tak pernah senang dengan keberadaan Bryan. Sekeras apa pun Mei Hwa berusaha mendamaikan, mereka berdua tak pernah akur.

“Sekarang ada berapa outlet? Omzet sudah berapa? Kapan BEP break even point?” Berondongan pertanyaan Benny menyeret Bryan kembali ke masa kini. Bryan yakin semua pertanyaan itu ditanyakan Benny bukan karena ia peduli, melainkan hanya supaya Bryan kelimpungan. Break even point? Masa Benny yang lulusan MBA Stanford tidak mengerti kapan F&B bisa break even? Papanya dan papa Dimas mengambil franchise dari luar negeri yang biaya franchise-nya berkali lipat franchise dalam negeri. Ia meradang begitu tahu rekan F&B yang mengambil franchise dalam negeri sudah BEP dalam setahun.

“Baru jalan Ko, mana bisa langsung break evenFranchise fee kita mahal—-“

“Mental lo yang payah!” potong Benny. “Kalau sudah mikirnya mana bisa, tidak akan bisa. Mindset, Bryan, Mindset!

Bryan mengepalkan tangan. Sungguh mati, ia bertahan supaya tidak membanting sendoknya ke tembok. Ia kembali menunduk, berusaha tidak mengacuhkan tatapan merendahkan Benny.

Kata dokter dan banyak perawat, ia mengalami mukjizat karena selamat dari kecelakaan fatal. Namun, sebenarnya Bryan berpikir, mungkin lebih baik ia mati saja waktu itu.

***


[1] 重温旧梦 chóng wēn jìu mèng: membangkitkan mimpi lama.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here