Selamat siang, selamat datang, di Bubbly Tea, menu spesial kita hari ini Strawberry Slush Bubble Tea,” sapa Bryan ramah sambil memamerkan deretan gigir putih dan rapi. Ia berdiri di depan logo Bubbly Tea, sebuah awan kartun pink dengan senyum lebar. 

Tiga gadis berseragam SMA di hadapannya saling cekikikan sambil tersenyum malu-malu. Satu persatu dari mereka memesan minuman dan kudapan ringan untuk disantap. 

“Atas nama siapa, Kak?” Bryan bersiap menulis di cup Boba. 

“Jangan panggil kakak, dong,” protes manja seorang gadis dengan rambut diikat ekor kuda. Dengan sabar Bryan meladeni remaja dan para gadis muda yang antre untuk membeli Boba. Lokasi mereka memang strategis karena terletak di jalan besar dan tak jauh dari beberapa sekolah swasta maupun Internasional. Di jam-jam pulang sekolah, selalu tampak gerombolan pengunjung melepas penat di gerainya. 

Setelah meracik puluhan Boba, arus deras pelanggan berkurang. Bryan duduk sebentar di balik kasir. Ia memberi tanda kepada Rusdi untuk menggantikannya. 

“Cape ya, Koh Bos,” cengir Rusdi. 

“Kagak berhenti dari tadi.” Bryan mengusap keringatnya. 

“Kalau Koh Bos yang jaga, banyak anak SMA, kuliah yang datang, denger-denger, mereka janjian.” kekeh Rusdi. 

“Maksud kamu apa, Di?”

“Pada mau lihat Koh Bos. Yang jaga Boba ganteng,” sambar Ayu dari dapur, aroma wangi kentang goreng tercium. “Tapi memang, kalau Koh Bos jaga, penjualan naik, trus kafe lebih penuh, pada nongkrong beli nuget kek, kentang kek.” Derai tawa pegawai-pegawainya memenuhi dapur. 

“Hush, gosip aja,” hardik Bryan. Bryan memutar bola matanya. Dulu namanya terkenal seantero klub malam, kini? Terkenal di kalangan peminum boba. Tak apa lah, asal cepet break even. Bryan berusaha menghibur dirinya.  

Jika ia sukses, ia bisa membuktikan dirinya kepada keluarganya. 

Suara lonceng pintu berdentang, menandakan ada pelanggan baru yang masuk. Rusdi lalu sigap di balik kasir menyapa para tamu. 

“Selamat datang di Bubbly Tea!” 

Bryan berdiri dan bersandar di dinding, ia menyapukan pandangan ke sekitar kafenya. Senyumnya mengembang menyaksikan meja-meja penuh terisi, dengan antrean mengular di depan kasir. Ia pura-pura tidak tahu padahal sudut matanya menangkap empat gadis berseragam yang melirik ke arahnya sambil berbisik-bisik. Ia mendekati meja tersebut dengan senyum menawan dan bertanya apakah ada feedback atau mereka mau menambah pesanan. Ia kembali ke kasir dengan pesanan baru 5 porsi kentang goreng, 3 porsi nuget dan 1 mango slush

Apa pun rela ia lakukan untuk membuat kafenya berhasil. 

***


[1] 世上无难事只怕有心人  shì shàng wú nán shì, zhǐ pà yǒu xīn rén: Tidak ada yang mustahil di dunia ini buat mereka yang mau berusaha.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here